Puisi Pada Zaman Dahulu Oleh Aan Mansyur —Puisi ini  menjadi mutiara diantara-aksara yang ditulis oleh Aan Mansyur pada sebuah catatan pada sebuah media online untuk tulis menulis.

"Aan Mansyur — Saya orang yang rumit, sesederhana itu" ya memang saya sebagai penulis artikel ini, menemukan sebuah kerumitan yang kemudian disederhanakan oleh Aan Mansyur.

"Menyederhanakan merupakan sebuah kerumitan lain" 

Silahkan nikmati Puisi Pada Zaman Dahulu karya Aan Mansyur. Apakah kita manusia yang ganjil seperti makna yang tak tersirat dalam puisi Pada Zaman Dahulu.
Puisi Pada Zaman Dahulu

Puisi Pada Zaman Dahulu Karya Aan Mansyur


Pada zaman dahulu, Nak,
mereka tertawa memakai hati
dan tertawa menggunakan mata:
tapi kini semata tertawa dengan gigi,
sementara sepasang mata dingin mereka
mencari entah apa di balik bayanganku.

Pernah sekali waktu, pasti,
mereka berjabat tangan dengan hati:
tetapi tidak lagi, Nak.
Kini mereka berjabat tangan tanpa hati
sementara tangan kiri mereka mencari
entah apa di saku kosongku.

'Anggap rumah sendiri!’ ‘Datang lagi’:
begitu mereka bilang, dan ketika aku datang
lagi dan berlaku seperti di rumah
sendiri, sekali, dua kali,
tidak akan ada ketiga kali —
karena pintu mereka sudah tertutup bagiku.

Begitulah. Aku telah belajar banyak hal, Nak.
Aku telah belajar mengenakan banyak wajah
seperti wajah-pakaian-rumah, wajah-kantor,
wajah-jalanan, wajah-restoran,
dan semuanya dengan senyuman disesuaikan
bagaikan senyuman kaku di pas foto.

Dan aku juga telah belajar
tertawa hanya menggunakan gigi
dan berjabat tangan tanpa hati.
Aku belajar mengatakan, ‘Sampai jumpa!’,
ketika yang kumaksud ‘Akhirnya aku bebas!’:
berkata ‘Senang berjumpa dengan Anda’,
dalam keadaan tidak senang sama sekali;
dan bilang ‘Senang bicara dengan Anda’
setelah aku mati karena bosan.

Tetapi, percayalah, Nak.
Aku ingin kembali jadi seperti dulu,
ketika aku masih seperti engkau. Aku ingin
melupakan semua hal yang mematikan suaraku.
Di atas segalanya, aku ingin mempelajari kembali
bagaimana cara tertawa, sebab tawaku di cermin
hanya menampakkan gigi bagai runcing taring ular!

Maka, tunjukkan kepadaku, Nak,
bagaimana cara tertawa; ajari aku.
Aku pernah benar-benar tertawa dan tersenyum
pada zaman dahulu ketika aku masih
seperti engkau.

Melihat puisi ini dan itu karya Aan Mansyur, rasanya seperti melihat anak kecil yang baru pertama kali merasakan asamnya rasa lemon, dan sialnya anak kecil itu kita sendiri.