Puisi Angkatan 45 Chairil Anwar - Sang Binatang Jalang (julukan Chairil) merupakan sosok dari beberapa tokoh pada yang mewarnai puisi angkatan 45, selain Chairil Anwar tercatat juga Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Achidat Karta, Mihardja, Trisno Sumardjo, dan Utuy Tatang Sontani.

Mereka itulah sosok sastrawan angkatan 45, apa sih sebenarnya puisi angkatan 45 itu?
Puisi angkatan 45 bisa dikatakan puisi yang merdeka, karena pada waktu itu, para sastrawan Nusantara menjadi kacung-kacung Jepang yang dikenal Keimin Bunka Shidosho.
Chairil Anwar, Puisi Chairil Anwar, Puisi Angkatan 45, Puisi Angkatan 45 Chiril Anwar, Puisi Cinta Chairil Anwar,
Lengkap Kumpulan Puisi Angkatan 45 Karya Chairil Anwar
Oleh karenanya gaya puisi angkatan 45 realistis, yang memiliki sifat revolusioner dan ekspresif jadi tidak heran jika setiap bait didalam puisi angkatan 45 berisikan perlawanan dan pemberontakan. Oleh karenanya para angkatan 45 ini dikenal sebagai sastrawan yang "tidak berteriak tetapi melaksanakan".

Chairil Anwar Kumpulan Puisi Angkatan 45


Puisi Aku
Karya: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan

Itu aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih
dan aku akan tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943


Puisi Prajurit Jaga Malam 
Karya: Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
Tahun 1949


Puisi Malam
Karya: Chairil Anwar

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?--
-Jagal tidak dikenal?-
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957


Puisi Karawang-Bekasi 
Karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karang-Bekas  
(1948)
Brawidjaja,

Jilid 7, No 16,
Tahun 1957


Puisi Diponegoro
Karya: Chairil Anwar

Dimasa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempangan semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu,

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No.8
Agustus 1954


Puisi Persetujuan Dengan Bung Karno
Karya: Chairil Anwar
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)
Liberty,
Jilid 7, No 297,
Tahun 1954


Puisi Penerimaan
Karya: Chairil Anwar

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau  mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943


Puisi Hampa 
Karya: Chairil Anwar

Kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sempit memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


Puisi Doa
Karya: Chairil Anwar

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Dipintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
13 November 1943


Puisi Sajak Putih
Karya: Chairil Anwar

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah...


Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghempus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelapak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba diujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Tahun 1946



Puisi Cintaku Jauh Di Pulau
Karya: Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu memancar, bulan memancar
Di leher aku kalungkan ole-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
Aku tidak 'kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tunjukkan perahu ke pangkuanku saja"

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
Kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
Tahun 1946


Puisi Malam Di Pegunungan
Karya: Chairil Anwar

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
Tahun 1947


Puisi Yang Terampas Dan Yang Putus 
Karya: Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jati semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
Tahun 1949


Puisi Derai Derai Cemara
Karya: Chairil Anwar

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu sudah bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Tahun 1949

Itulah Kumpulan Puisi Angkatan 45 Karya Chairil Anwar yang menjadi inspirasi dunia sastra Nusantara dan dunia, semangat muda dan pemberontakan terekam kental pada bait-bait puisinya. Semangat akan berkarya dan berjuang demi Indonesia. Semoga anak muda jaman sekarang dapat mencontoh dirinya.