Kumpulan Puisi Karya WS Rendra – Siapa yang tidak kenal dengan puisi WS Rendra yang sampai saat ini sangat terkenal dan menginspirasi banyak orang yang tidak hanya pada puisi, melainkan pada karya sastra rendra lainya.

Puisi Rendra sangat beragam, berbicara tentang cinta, lantang akan perjuangan dan isu sosial yang sering di gunakan untuk pergerakan sosial.
Puisi WS Rendra, Kumpulan Puisi WS Rendra, WS Rendra, Puisi Karya WS Rendra
Kumpulan Puisi Karya WS Rendra
Tidak hanya berpuisi, rendra juga menggeluti dunia teater dan ia mendirikan Bengkel Teater yang masih berdiri sampai sekarang ini. Bagi orang yang menggeluti seni di Indoneisa, WS Rendra bagaikan dewanya.

Puisi WS Rendra

Puisi Mazmur Mawar
Karya: WS Rendra

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar.
Kia muliakan Tuhan yang manis,
Indah, dan penuh kasih sayang

Tuhan adalah serdadu yang tertembak

Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.

Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk.
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur.

Tuhan berada di gang-gang gelap.
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh

Tuhan adalah teman sekamar para penjinah.
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi

Wajah tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar

Tuhan telah terserang lapar, batuk dan selesma,
Menangis di tepi jalan.

Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, pengangguran, dan peminta-minta

Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Puisi Kangen
Karya: WS Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berati
aku tungku tanpa api.

Puisi Sajak Cinta
Karya: WS Rendra

Ku tulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bumi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta padamu

Ku tulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlap
menempuh ke muka
dan tak kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain...
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!

Puisi Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang
Karya: WS Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusuk sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari

-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang menghianatiMu

Tuhanku

Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusuk sangkurku

Puisi Bahkan Kita Ditantang Seratus Dewa
Karya: Chairil Anwar

Aku tulis sajak ini
Untuk menghibur hatimu
Sementara engkau kenangkan encokmu
Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan masa depan kita yang hampir rampung
Dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
Dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
Karena setiap orang mengalaminya
Hidup bukanlah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengola hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahsia langit dan samodra
Serta mencipta dan mengukir dunia
Kita menyandang tugas,
Kerna tugas adalah tugas
Bukanya demi sorga dan neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnya kita bukanlah debu
Meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi kebelakang
Ke masa silam yang tak seorang pun berkuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
Melewatkan tahun-tahun lama yang porak peranda.
Dan kenangkanlah pula
Bagaimana dahulu kita tersenyum senantiasa
Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk tuhan, manusia sesama, nasib dan kehidupan.
Lihatlah! sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahawa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
Kerna usia nampaknya lebih kuat daripada kita
Tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
Untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
Kenangkanlah pula
Bahwa hidup kita ditantang seribu dewa

Itulah Kumpulan Puisi Karya WS Rendra semoga terus menginspirasi di setiap generasi muda yang ingin memajukan sastra di Indonesia maupun penikmat karya-karya beliau lainya.