Kumpulan Puisi Karya Joko Pinurbo – Siapa yang tidak kenal dengan Joko Pinurbo, sastrawan nusantara yang dikenal dengan puisi nyelenehnya itu yang sering kali mengundang gelak tawa sekaligus kekaguman tersendiri di setiap karya-karyanya.

Menurut Joko Pinurbo sendiri kenapa ia lebih memilih puisi yang memiliki unsur nyeleneh, karena pada zamanya banyak sekali penyair terkenal, dan semua karyanya gemilang sebut saja WS Rendra, Sapardi Djoko damono, oleh karena itu ia berfikir untuk menampilkan hal baru dari perpuisian Indonesia dengan wajah puisi yang nyeleneh.
Puisi Joko Pinurbo, Kumpulan Puisi, Joko Pinurbo, Puisi Karya Joko Pinurbo
Kumpulan Puisi Karya Joko Pinurbo
Tidak hanya itu, puisi Joko Pinurbo juga mengandung permainan rima kata yang asik, seperti puisi kamus kecil yang asik jika dibacakan dan mengandung makna yang dalam.

Puisi Karya Joko Pinurbo

Puisi Kamus Kecil
Karya: Joko Pinurbo

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
walau kadang rumit dan membingungkan.
Ia mengajari saya mengarang ilmu
sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih
bahwa ingin berawal dari angan
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
bahwa segala yang baik akan berbiak
bahwa orang ramah tidak mudah marah
bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
bahwa seorang bintang harus tahan banting
bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila
bahwa orang putus asa suka memanggil asu
bahwa lidah memang pandai berdalih
bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

Ketika induk kalimat bilang pulang
anak kalimat faham
bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung

Ruang penuh raung, segala kenang tertidur di dalam kening
Ketika akhirnya matamu mati,
kita sudah menjadi kalimat tunggal
yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal

Puisi Tanpa Celana Aku Menjemputmu
Karya: Joko Pinurbo

untuk Wibi

Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau
di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau
di saat kau masih hijau.
Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!”

Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu
di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu.
Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu:
“Jemputlah aku malam Minggu,
bawakan aku celana baru.”

Di kamar mandi yang remang-remang itu
kau masih suntuk membaca buku.
Kaulepas kacamatamu dan kau terpana
melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu
dan seluruhnya kurelakan untukmu.
“Hore, aku punya celana baru!” kau berseru.
Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu.
(2002)

Puisi Bolong
Karya: Joko Pinurbo

Bahkan celana memilih nasibnya sendiri:
ia pergi ke pasar loak justru ketika aku sedang giat
belajar bugil dan mandi.
“Selamat tinggal pantat. Selamat tinggal jagoan kecil
yang tampak pemalu tapi hebat.”

Entah berapa pantat telah ia tumpangi,
berapa kenangan telah ia singgahi,
sampai suatu hari aku menemukannya kembali
di sebuah kota, di sebuah kuburan.
“Pulang dan pakailah celana kesayanganmu ini,”
kata perempuan tua penjaga makam.

Sampai di rumah, kupakai kembali si celana hilang itu
dan aku terheran: “Kok celanaku makin kedodoran!”
Aku termenung melihat seorang bocah
di dalam cermin sedang sibuk mencoba celana
yang sudah bolong di bagian tengahnya.
(2002)

Puisi Perias Jenazah
Karya: Joko Pinurbo

Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah.
Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama
mengurusi keberangkatan para arwah .

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan
yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas
asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi
mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya
gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan
bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman.

Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah
yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya
jenazah perempuan malang itu.
“Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu.”

Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia
dan tak ada yang meriasnya.
Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah
yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya.

Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku
dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku
yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya.
Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku.
(2002)

Puisi Mampir
Karya: Joko Pinurbo

Tadi aku mampir ke tubuhmu
tapi tubuhmu sedang sepi
dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka
dan aku tidak berani melongoknya.
(2002)

Puisi Bayi Mungil Di Kamar Mandi
Karya: Joko Pinurbo

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya menyusup jauh ke relung tidurku.

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya menggetarkan lidah kata-kataku.

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya kupinjam untuk mengucapkan lagi aku.
(2002)

Puisi Penjual Celana
Karya: Joko Pinurbo

Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan,
sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar
di dekat kuburan di pinggiran kota.
Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya
karena terjamin kwalitetnya, sangat enak dipakainya,
terkenal sejak 1945.

Mentang-mentang pakai celana serdadu, penjual celana itu
tiba-tiba menjadi sombong dan pura-pura lupa sama aku.
“Anda dari kampung ya?” ejeknya ketika aku sibuk
mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya.

“Semua celana itu palsu. Yang asli cuma ini,” katanya
sembari menunjuk-nunjuk celananya sendiri.
Ia tertawa hebat ketika aku berniat membeli celana antik
yang dipakainya, berapa pun harganya.
Ia bertahan: “Jangan. Ini celana perjuangan.”

Ketika sekian tahun kemudian kami bertemu lagi
di sebuah rumah sakit jiwa di dekat kuburan di pinggiran kota,
bekas serdadu itu mengaku bahwa celana loreng
yang dibanggakannya itu sebenarnya palsu dan ia menyesal
mengapa dulu tidak menjualnya ke aku.
Celana itu sudah dibeli seorang kolektor kaya
yang gemar mengumpulkan berbagai macam benda pusaka.
(2002)

Itulah Puisi Joko Pinurbo yang menginspirasi, meskipun dari judul dan isinya nyeleneh tapi kedalaman makna yang dimili setiap puisinya sangat mendalam.