Kumpulan Puisi Emha Ainun Nadjib Cak Nun – Cak Nun merupakan seniman dan juga sebagai pendakwah yang memiliki banyak jamaah yang bernama maiyah, yang mayoritas digandrungi oleh pemuda-pemuda di semua pelosok negeri.

Cak Nun muda seorang aktifis sosial, seniman sastrawan khusnya dalam berpuisi, puisi cak nun tidak bisa lepas dari jasa gurunya yakni Umbu Landu Paranggi yang merupakan seniman legendaris, yang jejaknya sangat misterius.
Puisi Cak Nun, Puisi Emha Ainun Nadjib, Puisi Islami Cak Nun, Puisi Cinta Cak Nun, Puisi Ibu Cak Nun, Cak Nun, Puisi
Kumpulan Puisi Karya Cak Nun
Sehingga puisi Cak Nun memilki kerumitan tersendiri, makna yang terkadang tak ada ujungnya untuk ditempuh, jadi tak heran jika karya puisi beliau banyak yang menjadikanya sebuah penelitian. Pada kumpulan puisi Cak Nun ini, saya lampirkan juga puisi-puisi lautan hijab.
Puisi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Puisi Cintaku
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Katakan padanya bahwa cintaku tak
diikat dunia

Katakan bahwa dunia pecah
ambruk dan terbakar jika
menanggungnya

Dunia sibuk merajut jeratan-jeratan
mempersulit diri dengan ikatan-ikatan
dimuati manusia yang antre panjang
memasuki sel-sel penjara

Katakan padanya bahwa kasih sayangku
tak terpanggul oleh ruang waktu
katakana bahwa kasih sayangku
membebaskannya ke tuhan

Ruang tata hidup, perkawinan,
kebudayaan dan sejarah
adalah gumpalan sepi,
dendam dan kemalangan

dan dika semesta waktu hendak
mengukur cintaku,
katakana bahwa ia perlu berulangkali mati
agar berulangkali hidup kembali



Puisi Antar Tiga Kota
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

di Yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari melototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga

Surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinnya
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Sebuah “Antologi Puisi XIV penyair Yogya”
MALIOBORO, tahun 1997



Puisi Kudekap Kusayang-sayang
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kepadamu kekasih ku persembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia

Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu

Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk rendam hamba-hambamu

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika
mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari
mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan
lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah
batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,
kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,
kusayang-sayang,
1994

Puisi Jalan Sunyi
Karya: Emha Ainun Nadjib

Akhirnya kutempuh
jalan yang sunyi
Mendengarkan lagu bisu
Sendiri
di lubuk hati
Puisi
Yang kusembunyikan
dari kata-kata
Cinta
Yang tak kutemukan
bentuknya
1995


Puisi Putih, Putih, Putih
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

Meratap bagai bayi
Terkapar bagai si tua renta
Di padang Mahsyar
Di padang penantian
Di depan pintu gerbang janji penantian
Saksikan beribu-ribu jilbab
Hai! Bermilyar-milyar jilbab!
Samudera putih

Lautan cinta kasih
Gelombang sejarah
Pengembaraan amat panjang
Di padang Mahsyar
Menjelang hari perhitungan
Seribu galaksi
Hamparan jiwa suci
Bersujud
Memanggil Allah, satu-satunya nama
Bersujud
Putih, putih, putih
Bersujud
Menyeru belaian tangan kekasih
Bersujud
Dan alam raya
Jagat segala jagat
Bintang-bintang dan ruang kosong
Mendengar panggilan itu
Dengan telinga ilmu seratus abad:
-
Wahai jiwa bening!
wahai
mut\ma’innah
Kembalikan
kepada
Tuhanmu
Dengan rela dan direlakan
Masuklah ke pihakKu
Masukilah sorgaKu
Wahai jiwa, wahai yang telah jiwa!
Wahai telaga
Yang hening
Hingga tiada!



Puisi Penyangga ‘Arsy
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

O, beribu jilbab!
O, lautan!
Bergerak ke cakrawala
Lautan penyangga
‘Arsy
Beribu jilbab perawat peradaban
Barisan ummat terjaga dari tidur
Pergi berduyun memasuki diri sendiri
Lautan jilbab
Bersemayam di jagat
mut\ma’innah
Bergerak di sorga iman, belajar menyapu dusta
Biarkan air mata mengucur
Tapi jangan menangis
Duka membelit-belit
Tapi kalian tak bersedih
Kuman apa yang kalian sandang
Dari tangan sejarah?
Dari abad yang tak kenal diri sendiri?
Tangan kalian mengepal
Memukul-mukul dada
Amarah kalian menggumpal
Namun jiwa lembut bagai ketiadaan
O, lautan jilbab

Bergerak ke janji Tuhan
Dengan mulut bisu mrngajarkan keabadian



Puisi Bahasa Kambing Hitam
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

Seseorang, dari beribu jilbab, berkata
Bicaralah dengan bahasa badan!
Sunyi belum sempurna. Ini dunia nyata
Tabir belum dikuakkan
Hijab belum disingkap seluruhnya
Ruh tak bicara kecuali hanya kepada dirinya
Bicaralah dengan bahasa badan
Dengan bahasa kehidupan yang bersahaja
Perhitungan sejarah belum selesai
Ini bukan mahsyar, padang sunyi senyap
Bicaralah dengan bahasa keringat
Bahasa got dan selokan
Dusun-dusun suram dan sawah ladang
Yang entah siapa sekarang pemiliknnya
Anak-anak antri cari sekolah dan kerja
Dendam kepada kesempitan, terusir dan 
Tertepikan
Pasar yang sumpeg, dikangkangi monopoli
Jilbab-jilbab bertaburan tidak di langit tinggi
Melainkan di bumi, tanah-tanah becek
Teori pembangunan yang aneh
Kemajuan yang menipu
Jilbab-jilbab terserimpung di kubangan sejarah
Melayani cinta palsu dan kecurigaan 
Cekikan yang samar
Dan tekanan yang tak habis-habisnya

Jilbab-jilbab dikambinghitamkan
Bicaralah dengan bahasa kambing hitam!



Karya Cahaya Aurat
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

Ribuan jilbab berwajah cinta
Membungkus rambut, tumbuh sampai ujung
kakinya
karena hakekat cahaya Allah
lalah terbungkus di selubung rahasia
siapa bisa menemukan cahaya?
lalah suami, bukan asal manusia
jika aurat dipamerkan di Koran dan di jalanan
Allah mengambil kembali cahayaNya
Tinggal paha mulus dan leher jenjang
Tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
Para lelaki yang memelototkan mata
Hanya menemukan benda
Jika wanita bangga sebagai benda
Turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya
Jika lelaki terbius oleh keayuan dunia
Luntur manusianya, tinggal syahwatnya.



Puisi Merawat Rahasia
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

Wanita yang memamerkan pahanya
Hendaklah jangan tersinggung
Kalau para lelaki memandanginya
Sebab demikianlah hakekat tegur sapa
Siapa ingin tak menyapa tak disapa
Tinggallah di balik yang tertutup pintunya
Sebab begitu pintu di buka
Orang berhak mengetuk dan memasukinya
Maka dengan menonjolkan auratnya
Wanita member hak kepada laki-laki siapa saja
Untuk menatapi benda indah suguhannya
Serta membayangkan betapa nikmat rasanya
Hendaklah wanita punya rasa sayang
Kepada ratusan lelaki di sepanjang jalan
Dengan tidak menyodorkan godaan
Yang tak ada manfaatnya kecuali untuk
dipandang
Adapun lelaki, sampai habis usia
Hanya bisa berkata: betapa indah wanita!
Maka bantulah ia merawat rahasia
Yang hanya boleh dikuakkan oleh isterinya.



Puisi Di Awang Uwung
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Dari: Kumpulan Puisi Lautan Jilbab

Di
awang
uwung,
seolah dua malaikat, duduk 
Termangu di kursi hampa, sambil menyandarkan 
Kepalanya di segumpal satelit
Yang satu menggamit pundak rekannya dan 
berkata:
Lihatlah, beribu jilbab, lihatlah gejala alam.
Mungkin belum sepenuhnya merupakan gejala
kesadaran manusia, tapi siapa berani 
meremehkannya?
Lihatlah jilbab-jilbab itu. Ada yang nekad hendak 
menguak kabut sejarah. Ada yang hanya sibuk
berdoa saja. Ada yang tiap hari berunding 
bagaiamana membelah tembok di hadapannya. 
Ada yang berjam-jam merenungkan warna dan 
model jilbab mana yang paling tampak ceria dan
trendy.
Ada yang berduyun-duyun menyerbu 
wilayah-wilayah gelap yang disembunyikan
oleh generasi tua mereka. Ada yang sekedar
bergaya. Ada yang mengepalkan tangan dan
seperti hendak memberontak. Ada yang 
menghabiskan waktu untuk bersenda gurau. Ada 
yang tak menoleh ke kiri ke kanan karena terlalu 
erat mendekap pinggang kekasih-nya di dalam 
kendaraan. Lihatlah, apakah kau tahu mereka ini 
generasi jilbab dari jaman apa?
Rekannya menjawab: Mereka tinggal di 
kepulauan mutiara. Di negeri amat kaya raya.
yang aneh. Dialamnya terdapat orang terkaya di
dunia sekaligus orang termiskin di dunia. Di 
negeri yang paling kaya kemungkinan untuk 
berpura-pura. Negeri di mana penindas 
dipuja-puja dan pahlawan diejek hingga putus
asa. Negeri di mana kebaikan dan kejahatan bisa 
di rakit menjadi suatu bentuk keselarasan. Di 
mana orang yang diperkosa malah tertawa. Di 
mana ketidakjujuran dipelihara bersama. Di mana
agama tidak mengatur manusia melainkan diatur 
oleh manusia. Di mana masyarakatnya hidup
rukun dan penuh maaf. Jika seseorang 
kelaparan, tetangganya bingung memanfaatkan 
uang. Jika seseorang sakit jiwa karena selalu
gagal memperoleh pekerjaan, tetangganya sibuk
menyiapkan lomba siul dan kontes betis indah.
Jika beribu penduduk suatu perkampungan 
diusir oleh pembangunan, orang lain
mendiskusikan bagaimana memahami tuyul. Jika 
sekumpulan manusia diberondong oleh peluru, 
orang lain bingung ganti mobil baru dan makan 
jembatan. 
Yang satunya tertawa dalam kesedihan: Luar
biasa! Siapa yang mengarang? Tuhan tak pernah 
mentakdirkan model masyarakat yang demikian.
Sesudah penciptaan, Tuhan menganugerahkan 
kemerdekaan kepada manusia. Namun rupanya 
manusia memahami kemerdekaan hanya melalui
pintu hak. Manusia tidak belajar mendengarkan 
ucapan Tuhan yang memancar pada tradisi alam, 
hukum jagat raya serta diri manusia sendiri.
Mereka tak bisa paham bahwa manusia adalah
ucapan Tuhan. Mereka merebut manusia dari 
hakekatnya. 
Di
awing uwung,
terpantul hati kecil manusia, 
jiwa sejati kehidupan, yang di muka bumi hampir
tak boleh bersemayam

Itulah Puisi Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang memiliki makna yang dalam, terkadang rumit untuk di cerna ada juga yang simple tetapi memiliki makna yang dalam. Sungguh luar biasa karya-karya beliau ini. Semoga kita bisa ketularan dapat membuat puisi yang asik seperti beliau.