Cerita Pahlawan RA Kartini Lengkap - Hai sahabat sastraindo dimanapun berada, khusunya kaum perempuan nih. Karena cerita sejarah kali ini menjelaskan secara lengkap tentang perjalanan hidup seorang pahlawan Raden Ajeng Kartini.

"Habis gelap terbitlah terang" ya memang RA Kartini dikenal oleh masyarakat luas karena ''quote" tersebut. Tetapi kalian tau nggak sih perjalanan hidup RA Kartini memperjuangkan kemerdekaan kaum wanita pada zamannya.
Cerita Anak, Cerita Anak anak, Dongeng Anak, Cerita Fabel, Kunpulan Cerita Fabel, Cerita Fabel Anak, Kumpulan Cerita Anak, Cerita Pahlawan, Cerita Sejarah
Cerita Pahlawan RA Kartini Lengkap
RA Kartini sangat gigih memperjuangan emansipasi wanita. tidak hanya itu, ia memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang tertindas, dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan segenap jiwa dan raga, oleh karenanya sastraindo memberikan cerita lengkap RA Kartini, dengan harapan menjadi inspirasi kaum perempuan sahabat sastraindo.

Cerita Perjalanan Hidup RA Kartini

Raden Ajeng Kartini (1879–1904) merupakan tokoh Pahawan Pergerakan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. Bagaimanakah perjuangan Kartini yang membela kaum wanita.

Kartini dilahirkan pada 21 April 1879 di Desa Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Sosroningrat, Bupati Jepara. Sedangkan ibunya merupakan anak seorang kyai yang berasal dari Teluk Amur, Jepara yang bernama Ngairah.

Kartini adalah anak kelima dari 11 orang bersaudara. Kesepuluh saudara Kartini lainnya adalah Raden Mas Sosroningrat, Pangeran Adipati Sosrobusono, Raden Ajeng Sulastri, Raden Mas Sosrokartono, Raden Ajeng Sukmini, Raden Ajeng Kardinah, Raden Ajeng Kartinah, Raden Mas Sosromuljono, Raden Ajeng Sumantri, dan Raden Mas Sosrorawito.

Keluarga RA Kartini adalah keluarga bupati. Selain bapaknya, Kakek Kartini yang bernama Pangeran Ario Tjondronegoro IV juga adalah Bupati Demak. Pada saat itu, Pangeran Ario Tjondronegoro IV termasuk dari sedikit bupati yang telah berpikiran maju, terutama dalam hal pendidikan. 

Pada 1846, di saat belum banyak orang Indo-nesia yang memperoleh pendidikan Barat, Pangeran Ario Tjondronegoro IV mendatangkan seorang guru pribadi untuk mengajar anak-anaknya.

Berkat berpendidikan pula, empat orang putra Pangeran Ario Tjondronegoro IV tersebut kelak diangkat menjadi bupati, yaitu putra pertama Raden Mas Adipati Tjondronegoro V menjadi Bupati Kudus, putra kedua Raden Mas Adipati Proboningrat menjadi Bupati Semarang, putra ketiga, ayah Kartini, Raden Mas Adipati Sosroningrat menjadi Bupati Jepara, dan putra keempat Pangeran Ario Hadiningrat menjadi Bupati Demak.

Selain menjadi Bupati Jepara, ayah Kartini, Raden Mas Adipati Sosroningrat juga diangkat menjadi ketua perhimpunan bupati di seluruh Jawa-Madura. Sebagaimana halnya dengan kakek Kartini, ayah Kartini juga orang yang telah berpikiran maju.

Pada 1886, ketika berumur tujuh tahun, Kartini mulai bersekolah di sekolah kelas dua milik Belanda di Kota Jepara. Sekolah tersebut khusus untuk anak-anak pribumi dari keluarga bangsawan, anak blasteran Belanda-Indo, dan anak Belanda asli. Adapun anak-anak orang biasa kebanyakan tidak dapat diterima menjadi murid. Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah tersebut adalah bahasa Belanda.

Ayah Kartini memang mencintai kemajuan. Ia ingin agar anak-anaknya berpengetahuan seperti halnya anak-anak Belanda. Meskipun demikian, ia juga menginginkan anak-anaknya tetap memegang adat-istiadatnya sendiri. 

Untuk memenuhi tujuan tersebut, ayah Kartini sengaja mendatangkan guru khusus untuk mengajarkan bahasa dan adat-istiadat Jawa kepada putra-putrinya di rumah. Bekal keterampilan seperti memasak, menjahit, dan mengurus rumah tangga juga diajarkan, terutama untuk anak perempuan.

Selain pengajaran yang berkaitan dengan pendidikan duniawi, ayah Kartini juga mendatangkan guru khusus untuk memberikan pengajaran pendidikan agama, khususnya agama Islam. Tiap sore, Kartini dan saudara-saudaranya secara tekun belajar huruf Arab dan mengaji al-Qur’an.

Masa bersekolah adalah masa yang menyenangkan bagi Kartini. Kartini banyak mempunyai teman, sahabat, dan kenalan. Ia bebas dan lincah dalam pergaulan. Tidak ada hal yang dipikirkannya kecuali sekolah dan bermain-main.

Pada tahun 1898, ketika ia berusia 12 tahun, Kartini selesai menamatkan Sekolah Dasarnya. Ia berharap dapat meneruskan pendidikannya di sekolah menengah. Akan tetapi, hal tersebut tidak terwujud. Pada waktu itu, kesempatan mengenyam pendidikan untuk kaum perempuan berbeda.

Menurut kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku saat itu, seorang anak gadis bangsawan yang telah berusia 12 tahun sudah dianggap dewasa. Dia tidak boleh lagi bebas bepergian kemana-mana. Dia tidak dapat lagi keluar rumah untuk bersekolah. 

Dia harus tetap di rumah dan bersiap-siap untuk menjadi ibu rumah tangga. Kebiasaan atau adat istiadat serupa itu dinamakan pingitan. Masa pingitan akan berakhir manakala seorang pria bangsawan datang meminang anak gadis tersebut untuk dijadikan seorang istri.

Demikain pula halnya yang dialami oleh Kartini. Sejak usia 12 tahun, ia terpaksa meninggalkan masa kanak-kanak yang bebas riang gembira itu dan masuk ke dalam masa pingitan.

Kartini seorang anak yang pintar dan suka belajar. Dia haus akan ilmu pengetahuan. Namun, karena kebiasaan dan adat istiadat yang lama, dia harus berhenti sekolah. 

Meskipun demikian, dia tidak berputus asa dan tetap ingin menambah pengetahuan, seperti halnya teman-temannya di sekolah.
Dalam masa pingitan, suatu pagi Kartini berbicara kepada ayahnya. 

Dia menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah seperti halnya teman-teman Kartini bangsa Belanda yang semuanya meneruskan sekolah. Ayah Kartini, Raden Mas Adipati Sosroningrat menjadi terharu mendengar keinginan putrinya tersebut. 

Dalam hati kecilnya, dia membenarkan permintaan Kartini. Namun, sebagai seorang bangsawan dia masih terikat pada kebiasaan dan adat istiadat. Kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku saat itu tidak membenarkan seorang gadis bertindak terlalu bebas.

Meskipun ayah Kartini telah menerapkan pikiran majunya dalam hal pendidikan terhadap putranya yang laki-laki dengan cara menyekolahkannya ke Negeri Belanda, terhadap anak-anak perempuannya, ia belum berani melanggar kebiasaan dan adat istiadat.

Dengan hati yang sangat berat, Raden Mas Adipati Sosroningrat menolak keinginan Kartini. Beliau menyatakan, bahwa meskipun keinginan tersebut sangat baik, kebiasaan dan adat istiadat belum mengizinkan hal tersebut.

Mendengar keputusan ayahnya, Kartini merasa sangat sedih. Cita-citanya untuk melanjutkan ke sekolah menengah tidak bisa terwujud. Akan tetapi, Kartini juga seorang anak yang patuh pada orangtuanya. 

Oleh karena itu, meskipun dengan hati yang gundah, Kartini akhirnya menerima takdirnya untuk hidup ditentukan oleh kebiasaan dan adat istiadat menjalani pingitan.

Tentu tidak mudah bagi Kartini yang masih berusia belia hidup dalam dunia pingitan. Ia merasakan hidup dalam kurungan. Serba terbatas dan tidak bebas. Seperti halnya seekor burung yang berada dalam sangkar emas. 

Meskipun salah seorang teman Belanda Kartini di sekolah dasar yang bernama Lesty masih setia dan sering datang ke rumah, itu tidak lama karena temannya tersebut harus pulang ke Negeri Belanda mengikuti keluarganya yang dipindahkan. Keberangkatan Lesty menambah kesedihan dan kesepian hati Kartini.

Pada suatu hari, seorang mantan gurunya yang berbangsa Belanda di sekolah dasar mengunjungi Kartini. Dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Kartini karena akan pulang ke Negeri Belanda. 

Rupanya, gurunya tersebut belum mengetahui bahwa Kartini hidup dalam pingitan. Guru itu kemudian bertanya kepada Kartini tentang rencana meneruskan ke sekolah menengah dan belajar di Negeri Belanda.

Kartini menjawab pertanyaan bekas gurunya tersebut dengan sedih. Dia mengatakan bahwa dirinya memang sangat ingin melanjutkan sekolah, apalagi sekolah ke Negeri Belanda. 

Namun, menurutnya kebiasaan dan adat istiadat bangsanya yang berlaku saat ini tidak memperbolehkan hal tersebut. Orangtuanya, menurut Kartini, tidak mau melanggar kebiasaan dan adat istiadat tersebut. 

Sebagai anak, Kartini menyebutkan bahwa dia tentunya harus mematuhi kehendak orangtua, meskipun hal itu sangat berat. Walaupun batinnya menjerit karena adat-istiadat leluhurnya, Kartini tetap tabah dan rajin membaca. 

Salah satu buku bacaan yang sangat berkesan dalam dirinya adalah Minnerbrieven karangan Multatuli yang juga pengarang Max Havelaar. Dari buku tersebut kartini mengetahui akibat buruk penindasan Belanda terhadap bangsa Indonesia. 

Ia lebih prihatin lagi akan nasib bangsanya saat dia membaca tulisan tentang berbagai kemanjuan di banyak negara Barat yang juga mencakup kemajuan di bidang pendidikan kaum perempuan di sana. 

Buku De Vrouw en Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karangan Au-gust Bebel menyadarkan Kartini akan kodrat yang sama antara perempuan dan pria sebagai manusia.

Kartini pun tidak menutup mata terhadap kehidupan rakyat kecil di sekelilingnya. Terbukti Tatkala masa pingitannya, Kartini menulis sebuah artikel untuk membela para pengukir kayu di Jepara yang sangat terancam kehilangan pekerjaannya yang berjudul Van een Vergeten Uithoekje (Dari Pojok yang Dilupakan). 

Dalam artikel itu, Kartini memperkenalkan ukiran kayu Jepara dan bagaimana karya seni indah itu dibuat. Kerajinan batik juga mendapat yang perhatian besar dari Kartini. 

Ketika pada 1898 di Den Haag, Belanda, diadakan pameran berbagai karya perempuan, sebuah stand Jawa ikut serta memperkenalkan proses pembuatan batik. Kartini menulis artikel pengantar untuk pameran tersebut, yaitu berjudul Handschrift Japara. 

Artikelnya tersebut kemudian dimuat sebagai pedoman tentang batik dalam buku De Batikkunst in Nederlandsch-Indie en Hare Geschiedenis (Seni Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya).

Berlainan dengan ayah dan kakaknya, Sosrokartono, kakak Kartini yang tertua, yaitu Raden Mas Adipati Sosroningrat, tidak menyetujui cita-cita Kartini. Raden Mas Adipati Sosroningrat baru lulus dari sekolah dan kemudian diangkat sebagai pegawai di Jepara. 

Pada awalnya, Kartini gembira sekali dengan kedatangan kakaknya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama setelah Kartini mengetahui bahwa kakaknya tidak setuju dengan cita-citanya. 

Raden Mas Adipati Sosroningrat menyatakan, bahwa perempuan itu tidak sama derajat dan kedudukannya dengan pria. Menurutnya, perempuan sudah ditakdirkan hanya mengurus masalah-masalah rumah tangga dan melayani suami. 

Sementara masalah di luar itu, prialah yang akan mengurusnya. Oleh karena itu, menurut Raden Mas Adipati Sosroningrat anak perempuan tidak perlu menambah pengetahuan dengan cara bersekolah.

Kartini tentu saja tidak sependapat dengan pendapat kakaknya. Dia tidak menyetujui pendapat yang menyatakan bahwa perempuan lebih rendah derajatnya daripada pria. Menurut Kartini, perempuan sama derajatnya dengan pria. 

Wanita berkesempatan yang sama untuk menambah pengetahuan dan bersekolah serta mengurus masalah-masalah lainnya.
Ayah Kartini yang melihat adanya perbedaan pendapat di antara anak-anaknya, kemudian memberikan jalan tengah. 

Dia tetap menjalankan kebiasaan dan adat istiadat pingitan, tetapi memberikan kesempatan kepada Kartini untuk berhubungan dengan berkirim surat kepada teman-temannya yang berada di Negeri Belanda untuk dapat memperlancar bahasa dan menambah pengetahuan. 

Sejak saat itu, Kartini mulai menulis banyak surat. Setelah menjalani pingitan, beberapa tahun kemudian Kartini mendapat kabar gembira karena kedua adik perempuannya Rukmini dan Kardinah cukup umur untuk menjalani tradisi pingitan. 

Ketiga bersaudara itu sangat dekat hubungan kasih sayangnya. Termasuk pandangannya tentang cita-cita dan kemajuan perempuan. Setelah menginjak usia agak besar, pingitan Kartini, Rukmini, dan Kardinah diperlonggar. 

Mereka mulai diijinkan keluar rumah pada pagi hari. Sekali-kali mereka juga diizinkan menghadiri pesta. Namun, bagi Kartini kebebasan yang dirindukan bukan acara jalan-jalan ke luar rumah, bermain di taman, atau menghadiri pesta. 

Kartini menghendaki lebih dari itu, yaitu kebebasan untuk menuntut ilmu dan meneruskan sekolah ke sekolah yang lebih tinggi. Pada tahun 1895, kakak perempuanya yang bernama Sulastri menikah, sehingga ia menjadi perempuan tertua dirumahnya. 

Mulailah terasa suasana baru di rumahnya. Pergaulannya dengan adik-adiknya yang selama ini kaku, mulai diubah oleh Kartini.
Pada tahun 1898, Kartini dan kedua adik perempuanya dibebaskan dari masa pingitan untuk melihat keadaan sekitar pada waktu itu. 

Pada saat itu, hal seperti itu tidak akan dialami oleh gadis-gadis yang lain, apalagi gadis bangsawan. Tindakan keluarga Kartini ini menjadi bahan perbincangan di kalangan para bangsawan. Mereka ada yang mencela, ada pula yang menyetujui. 

Namun, Kartini tidak menghiraukan hal tersebut dan tetap pada pendiriannya. Walaupun telah mendapatkan banyak kebebasan, dia belum diijinkan oleh orangtuanya untuk melanjutkan pelajaran.
Pada 1900, Kartini berkenalan dengan Direktur Pengajaran Hindia Belanda Mr. J.H. 

Abendanon dan Nyonya Abendanon yang datang berkunjung ke Jepara. Dengan gembira, Kartini menceritakan cita-citanya kepada tamunya itu. Tuan dan Nyonya Abendanon menyetujui cita-cita Kartini. Mereka mengatakan bahwa hal itu merupakan cita-cita yang bagus.

Mereka juga menyuruh Kartini untuk meneruskan cita-cita dan berjanji akan membantu usaha perempuan Indonesia mendapat pendidikan dan memperoleh kemajuan. 

Dalam perkembangannya, tuan dan Nyonya Abendanon banyak memberikan tambahan pengalaman, pengetahuan, dan bimbingan kepada Kartini dan adik-adiknya.

Kartini meneruskan kebiasaan membaca karena bacaan merupakan hiburan baginya dan jembatan ke dunia luar. Dari membaca buku yang berasal dari dalam dan luar negeri, dia mengetahui keadaan perempuan di negara lain. 

Dia kemudian membandingkan perkembangan perempuan di negara lain tersebut dengan perkembangan perempuan di Indonesia. Dari hasil perbandingan tersebut, Kartini mengambil kesimpulan bahwa perempuan Indonesia belum bebas, belum dapat berdiri sendiri, dan masih tertinggal jauh. 

Dengan membaca buku itu pula, Kartini menyadari bagaimana tindakan pemerintah Hindia Belanda yang bersikap tidak adil terhadap penduduk pribumi. Kartini pun menyadari betapa buruknya kebijakan pemerintah jajahan dalam soal kepegawaian dan pendidikan.


Selain membaca, Kartini juga menyediakan waktu untuk menulis karangan dalam majalah dan surat kabar. Karangannya makin lama makin berisi. Kartini lalu banyak menerima permintaan untuk menulis karangan dalam berbagai majalah dan surat kabar.

Salah satu karangannya adalah tentang perkawinan suku Koja di Jepara. Karangan itu diterbitkan dalam majalah Bijdrage tot de Taat, Land an Volkenkunde Van Nederlandsch Indie, sebuah majalah tentang kebudayaan yang terkenal. 

Majalah Echo juga sering memuat tulisan Kartini tentang kebudayaan. Pernah suatu saat, karangan Kartini dimuat sebagai laporan dengan nama samaran “Tiga Saudara”. 

Karangan itu mengisahkan tentang kunjungan ke pesta besar untuk menghormati kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Rooseboom yang memerintah dari 1899 hingga 1907.

Kartini bercita-cita pergi ke Belanda atau ke Jakarta untuk masuk di sekolah dokter. Kepada temannya, Stella, ditulisnya surat bahwa ia ingin benar pergi ke Belanda. Dia juga mengharapkan agar pemerintah mengijinkan dan memberi bantuan. 

Stella menaruh perhatian terhadap cita-cita Kartini. Dia menerima Kartini dengan tangan terbuka jika benar-benar datang ke Belanda.

Pada suatu hari, Kartini berkenalan dengan anggota volksraad (DPR) Belanda yang bernama Van Kol. Tuan dan Nyonya Van Kol juga setuju dengan cita-cita Kartini. Tuan Van Kol berusaha dengan sekuat tenaga agar cita-cita Kartini tercapai. 

Mereka berusaha agar Kartini dapat belajar di Belanda. Pada akhir 1902, mereka mendapat janji dari Menteri Jajahan Belanda, bahwa Kartni dan Rukmini diberi tugas belajar di Negeri Belanda. 

Namun, atas pertimbangan Tuan Abendanon yang secara khusus datang ke Jepara pada awal 1903, tugas belajar ke Belanda tersebut dibatalkan.

Perjuangan Van kol tentu saja memakan waktu dan melalui perdebatan yang sengit. Sebelum ada jawaban dari pemerintah Belanda, adiknya, Kardinah telah menikah. Dia telah menjadi istri Bupati Tegal R.A.A. Reksonegoro. 

Dia meneruskan cita-cita Kartini. Di Tegal, dia mendirikan sekolah untuk gadis-gadis, bernama Wisma Pranawa. Tuan Abendanon kemudian memberi petunjuk kepada Kartini untuk mengirimkan surat permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda agar diberi izin untuk belajar di sekolah guru, di Batavia. 

Namun karena alasan lamanya menunggu balasan dari Batavia, Kartini disarankan oleh Tuan Abendanon untuk mendirikan sekolah sendiri. Akhirnya, pada 1903 bersama Rukmini, Kartini mendirikan Sekolah Kartini yang pertama di Indonesia. 

Sekolah Kartini tersebut khusus untuk anak perempuan dan memberikan pelajaran yang khusus pula untuk perempuan.
Apabila sekolahnya telah mendapatkan pengesahkan dari pemerintah, Kartini akan membuka sekolah di Magelang atau di Salatiga. 

Di sana hawa sejuk, banyak dokter, dan rumah sakit. Para pengajarnya adalah dokter dan yang akan memimpin adalah Kartini.

Pada 1902, adik Kartini yang paling kecil, Kardinah menikah. Kejadian itu pada mulanya melemahkan hati Kartini. Saat Kardinah meninggalkan Kabupaten Jepara, Kartini dan Rukmini merasa sangat amat kesepian karena mereka selalu bersama. 

Memang Kartini menyayangi semua kakak dan adiknya, tetapi dengan Rukmini dan Kardinah, Kartini memiliki hubungan yang amat erat dan khusus. Pada Februari dan Maret 1903, Kartini jatuh sakit. 

Dia menderita berbagai macam penyakit. Orangtua dan adik-adiknya tidak meninggalkan sisi tempat tidurnya. Mereka menjaga Kartini dengan penuh kasih sayang. Apalagi Rukmini sangat cinta kepadanya.

Perhatian Kartini terhadap pekerjaannya terpaksa berkurang. Setelah penyakitnya agak sembuh, Kartini mulai lagi mengajar muridnya. Pada umumnya, semua murid Kartini adalah perempuan anak pegawai negeri, bahkan ada anak asisten wedana.

Sementara itu, di saat awal pendirian sekolah yang baru dirintis, Rukmini menikah. Hal ini membuat Kartini terpaksa mengambil langkah untuk perjuangan selanjutnya. Ia harus mempunyai pendamping yang dapat membantu mewujudkan cita-citanya. 

Pendamping yang paling tepat bagi seorang gadis ialah suaminya sendiri yang mengerti akan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, Kartini kemudian menerima lamaran dari Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat untuk dijadikan istri.

Pada 7 Juli 1903, ketika Kartini sedang sibuk menyiapkan pernikahanya, ia menerima surat. Isinya ialah jawaban pemerintah Hindia Belanda terhadap permohonannya untuk melanjutkan sekolah. 

Pemerintah Hindia Belanda mengabulkan permohonan Kartini dan menyediakan beasiswa sebesar 4.800 gulden, suatu jumlah yang tidak sedikit pada waktu itu. Namun, kesempatan yang di idamkan-idamkannya itu datang pada saat yang tidak tepat karena Kartini sudah harus menikah.

Kemudian Kartini membuat surat balasan untuk pemerintah Hindia Belanda yang berisikan ketidaksediaan dirinya dan menyarankan beasiswa tersebut diberikan kepada Agus Salim, pemuda asal Sumatera Barat. 

Sepengetahuan Kartini, Agus Salim adalah seorang anak yang pandai. Dalam ujian akhir HBS, ia mendapat peringkat satu. Ia bintang pelajar pada saat itu.

Agus Salim sendiri tidak tahu-menahu tentang surat permohonan Kartini. Dalam kenyataannya, Agus Salim tidak pergi belajar ke Negeri Belanda. Ia kelak malah aktif di organisasi pemuda dan kemudian menjadi salah seorang pemimpin bangsa Indonesia sampai akhir hayatnya.

Pada 8 November 1903, akhirnya Kartini secara resmi menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Setelah menikah, Kartini kemudian mengikuti suaminya pindah ke Rembang. 

Suami Kartini, Raden Adipati Djojoadiningrat merupakan sosok yang baik hati, penyayang, berbudi, dan memiliki pikiran yang baik. Ia mengerti dan mendukung cita-cita Kartini. 

Salah satu dukungan suaminya yaitu membuat sekolah di Rembang sesuai dengan cita-cita Kartini. Mereka berdua kemudian mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda supaya diberikan bantuan atau subsidi. 

Akhirnya, sebuah sekolah anak gadis mereka dirikan di rumahnya sendiri. Pimpinannya seorang guru perempuan yang berbangsa Belanda.

Selain mendirikan sekolah, Kartini dan suaminya bercita-cita mendirikan sekolah pertukangan untuk laki-laki. Untuk itu, Kartini lalu mengumpulkan para seniman ukir yang menganggur untuk bekerja di tempatnya. 

Murid yang terpandai di antara mereka, yaitu Pak Singa diangkat menjadi pemimpin. Kartini menganjurkan mereka untuk membuat peti-peti jahitan, kotak rokok, meja kursi, dan sebagainya.


Setelah barang-barang itu selesai dikerjakan, lalu dijual ke kota-kota besar, seperti Semarang dan Jakarta. Dengan cara seperti itu, ukiran Jepara mulai dikenal di luar daerah. 

Permintaan akan barang ukiranpun makin meningkat. Usaha Kartini dan suaminya untuk mendidik para perajin telah berhasil.
Ukiran Jepara makin dikenal. Nama Kartini sebagai pendidik seniman ukir menjadi terkenal pula. 

Bukan saja di Indonesia, tetapi di luar negeri. Para bupati mengambil keputusan untuk memintanya merancang dan mengatur pembuatan kotak jahitan. Kotak ukiran jahitan itu akan dihadiahkan pada hari perkawinan Ratu Belanda.

Usia perkawinan Kartini tidak lama. Beberapa bulan setelah menikah, ia hamil dan dalam masa kehamilan itulah ia jatuh sakit. Setelah melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Raden Mas Susalit, kesehatan Kartini semakin menurun. 

Hingga pada tanggal 17 September tahun 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Desa Bulu, Rembang, Jawa Tengah. Setelah Kartini meninggal dunia, surat-surat yang ditulis oleh Kartini semasa hidupnya dikumpulkan oleh Tuan Abendanon. 

Surat-surat yang berisi pemikiran Kartini tentang pendidikan kaum perempuan dan tentang masalah lain tersebut diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Door Duisternis tot Licht pada 1911.

Buku kumpulan surat-surat Kartini itu ternyata disambut masyarakat Belanda dengan gembira, sehingga dalam waktu singkat telah habis terjual dan mengalami cetak ulang beberapa kali. 

Dari uang hasil penjualan buku tersebut, dibentuk Kartini Fonds atau Dana Kartini di Den Haag, Belanda. Perhimpunan itu bertujuan untuk membantu dan memperjuangan hak kaum perempuan Indonesia.

Kumpulan surat Kartini yang diterbitkan oleh Tuan Abendanon itu ditulis dalam bahasa Belanda, sehingga hanya bisa dibaca oleh kalangan terbatas. Adapun sebagian besar perempuan Indonesia pada saat itu tidak dapat membaca buku itu, karena tidak belajar bahasa Belanda. 

Oleh karena itu, agar surat-surat itu diketahui dan dibaca oleh kalangan luas bangsa Indonesia, buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Pengarang terkenal Indonesia yang bernama Armijn Pane telah menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini tersebut. 

Buku itu kemudian diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka di Jakarta. Karangan berharga itu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Seorang pengarang Jawa, Raden Sosrosugondo menerjemahkan buku itu dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa. 

Pada 1950, buku itu juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Agnes Louise Symmers. Judulnya ialah Letters of a Javanese Princess (Surat-Surat dari Putri Bangsawan Jawa).

Meskipun Kartini telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya, hasil usaha dan cita-cita perjuangannya untuk memperbaiki nasib perempuan Indonesia telah terwujud setelah kepergiannya. Ibarat petani, Kartini adalah seorang petani yang telah menanamkan benih yang kemudian tumbuh dengan subur.

Berkat kepeloporannya dalam memperjuangkan emansipasi, kaum perempuan Indonesia telah berubah menuju perbaikan dan kemajuan. Cita-cita perjuangannya telah mengilhami kaum perempuan Indonesia lainnya untuk mengubah nasib mereka ke arah yang lebih baik. 

Berikut beberapa contoh perkembangan kaum perempuan Indonesia setelah meninggalnya Kartini.

Setelah meninggalnya Kartini, sekolah yang didirikannya, yaitu Sekolah Kartini berkembang dan membuka cabang di daerah-daerah. Pada 1913, Sekolah Kartini berdiri di Jakarta, pada 1914 di Madiun, pada 1916 di Malang dan Cirebon, pada 1917 di Pekalongan, dan pada 1918 di Indramayu, Surabaya, dan Rembang.

Adik Kartini yang bernama Kardinah, isteri Bupati Tegal Reksonegoro, mendirikan sekolah Kepandaian Putri di Tegal. Sekolah ini didirikan pula di kota-kota lainnya, antara lain Tasikmalaya (1913), di Sumedang dan Cianjur (1916), di Ciamis (1917), dan Cicurug (1918).

Hampir sezaman dengan Kartini, salah seorang pelopor emansipasi yang berasal dari Bandung, Dewi Sartika mendirikan sekolah Kautamaan Isteri pada 1904
Pada 1912, di Jakarta berdiri Putri Mardika, sebuah organisasi perempuan yang bernaung di bawah organisasi Budi Utomo. 

Organisasi ini bermaksud memajukan pendidikan dan keterampilan untuk perempuan.

Organisasi-organisasi lain yang para pengurusnya perempuan berkembang di berbagai daerah, seperti Pawiyatan Wanito di Magelang yang berdiri pada 1915, Wanito Hadi di Jepara yang berdiri pada 1915, dan Wanito Susilo di Pemalang yang berdiri pada 1918.

Sampai tahun 1920, pergerakan perempuan Indonesia hanya meliputi bidang sosial dan pendidikan. Akan tetapi, setelah tahun itu kaum perempuan Indonesia telah memasuki bidang politik.

Makin lama makin banyak kaum wanita yang memasuki pergerakan kebangsaan. Secara individu mereka masuk menjadi anggota organisasi dan partai politik yang banyak berkembang pada saat itu, seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Perhimpunan Indonesia, Partai Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia, Muhamadiyah, dan Nahdlatul Ulama.

Dalam perkembangan selanjutnya, kaum perempuan Indonesia telah secara aktif bersama-sama kaum pria bahu-membahu mengisi perjuangan bangsa. Segala hasil yang dicapai oleh kaum perempuan Indonesia adalah berkat jasa dan kepeloporan Kartini. 

Setiap tanggal 21 April, kaum perempuan Indonesia beserta seluruh rakyat Indonesia merayakan hari lahirnya Kartini.

Itulah cerita pahlawan RA Kartini yang bisa kita ambil semangatnya dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari. Berkat kerja keras beliaulah perempuan Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata.