Cerita Rakyat Gerhana Bulan dan Matahari – Nusantara dengan segala kekayaan tradisi dan budaya melahirkan banyak sekali cerita rakyat, menceritakan banyak hal dari manusia, hewan sampai proses fenomena alam. Dan dari zaman dahulu sampai sekarang masih banyak orang yang mempercayai akan hal itu.

Sehingga tidak heran, adanya ritual adat istiadat yang terjadi di Indonesia. Cerita rakyat Indonesia menggambarkan betawa hebatnya manusia Nusantara yang yakin bahwasanya manusia hidup tidak hanya sendirian, ada alam yang harus di hormati untuk kehidupan bersama di dunia.
 Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari, Cerita Rakyat Kalaharu, Cerita Rakyat Kala Rau
Cerita Rakyat Kalaharu
Seperti halnya dengan cerita rakyat gerhana matahari dan gerhana bulan, ketika fenomena alam ini terjadi, masyarakat Indonesia bersama memohon keselamatan kepada tuhan, karena mereka meyakini jika ada fenomena alam yang sedang terjadi, pasti ada sesuatu kekuatan yang manusia tidak bisa menanganinya, hanya tuhan saja.

Cerita Rakyat Kalaharu

Pada suatu waktu Batara Guru ingin mengadakan pesta besar di Kayangan Jonggring Salaka. Batara Guru kemudian menugaskan Resi Narada untuk mengumpulkan para dewa dan dewi di Kayangan Jonggring Salaka. Dalam pesta itu para dewa dan dewi diizinkan meminum air yang menyelamatkan nyawa '. Siapa pun yang telah meminum air hidup ini dapat hidup kekal.

Resi Narada segera dikumpulkan pará dewa dan dewi di Kayangan Jonggring Salaka. Pada suatu saat para dewa dan dewi dari segala penjuru angin tiba di Kayangan Jonggring Salaka. Mereka berkumpul di istana besar istana Juggring Saiaka.

Air ternak di manik-manik manik-manik astagina telah dituangkan ke dalam botol yang terbuat dari zamrud. Botol zamrud ini kemudian diletakkan di atas meja mutiara. Para dewa dan dewi dipersilakan untuk mengambil air kehidupan terlebih dahulu. Senang sekali para dewa dan dewi itu. Air penghidupan berbau sangat manis dan begitu dingin sehingga tubuh para dewa dan dewi sangat segar.

Saat itu di langit ada raksasa bernama Kalarahu. Dia melihat para dewa dan dewi minum air kehidupan. Kalarahu lalu berpikir pada dirinya sendiri, "Jika saya dapat meminum air kehidupan seperti dewa dan dewi itü Saya akan hidup kekal, saya tidak akan mati selamanya."

Kalarahu kemudian menyamar sebagai dewa dan berpartisipasi dalam minuman air minum. Dewa Matahari (Sang Hyang Surya) dan Dewa Bulan (Sang Hyang Candra) tahu bahwa Kalarahu menyamar sebagai dewa ilahi. Mereka segera memberi tahu Sang Hyang Wisnu. Ketika Kalarahu sedang meminum air penghidupan, Sang Hyang Wisnu segera melepaskan panah cakrannya tepat di leher Kalarahu. Lepaslah leher raksasa Kalarahu sehingga kepalanya melesat ke angkasa. Kepala Kalarahu tetap abadi karena dia telah meminum air hidup sampai ke tenggorokannya.

Kalarahu tahu bahwa semua ini disebabkan oleh Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang dilaporkan kepada Sang Hyang Wisnu. Karena itu, Kalarahu sangat marah dengan kedua dewa itu.
"Hai, Dewa Matahari dan Dewa Bulan, suatu saat aku akan menelan hidup-hidup kalian," mengancam Kalarahu kepada dua dewa.

Setelah menyelesaikan peşta para dewa dan dewı itü kembali ke tempat masing-masing. Dewa Matahari dan Dewa Bulan juga kembali ke tempat mereka. Kalarahu kemudian mengejar Dewa Matahari dan Dewa Bulan untuk menelan. Kedua dewa terus terbang ke angkasa. Kalaharu tidak putus asa dia terus mengejar kedua dewa itu.

Suatu ketika Dewa Matahari ditangkap oleh Kalarahu dan menelannya. Namun, Dewa Matahari bisa keluar lagi karena Kalarahu tidak memiliki perut, hanya kepalanya. Demikian pula, ketika Dewa Bulan ditelan oleh Kalarahu, dia juga bisa keluar lagi. Ketika Dewa Matahari ditelan oleh Kalarahu itü ada gerhana matahari dan ketika Dewa Bulan ditelan oleh Kaiarahu ada gerhana bulan.

Hingga saat ini masih ada masyarakat Jawa yang meyakini bahwa terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan itu karena matahari dan bulan ditelan oleh Kalarahu. Pada suatu waktu Dewa Matahari dan Dewa Bulan ditangkap oleh Kałaranu dan menelannya.

Itulah Cerita Rakyat Kalaharu Gerhana Bulan dan Matahari dari cerita tersebut kita bisa mengambil hikmah agar meminta keselamatan kepada tuhan yang maha esa agar selalu dijaga dari dampak negatif fenomenal alam.

Ada perbedaan nama tentang cerita Kalaharu, pada masyarakat jawa dikenal Kalaharu sedangkan pada masyarakat Bali dikenal Kala Rau.