Cerita Rakyat Jaka Tarub dan Nawang Wulan - Cerita jaka tarub dan nawang wulan menjadi salah satu icon kisah percintaaan pada cerita rakyat yang ada di tanah jawa. Bagaimana tidak sosok jaka tarub yang merupakan sosok manusia biasa menikahi bidadari Nawang wulan yang cantik jelita.

Meskipun hanya sebuah cerita rakyat yang harus digali kembali kebenaranya, tetapi cerita ini banyak hikmah yang harus kita ambil, salah satunya Jaka Tarub yang sengaja mengambil pakaian Nawang wulan sehingga ia tidak dapat kembali kekayangan.
Cerita Jaka Tarub, Cerita Rakyat jaka tarub dan nawang wulan, nawang wulan

Sangat tidak baik, dengan alasan cinta seseorang menghalalkan macam cara untuk mendapatkanya. Perlu di ingat sahabat jika menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, akan memiliki akhir yang tidak baik. Silahkan ambil hikmahnya sendiri dari Cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan.

Cerita Jaka Tarub
 
Jaka Tarub ketika kanak-kanak bernama Kidang Telangkas. Dia adalah anak angkat dari Nyai Randa Tarub. Itu sebabnya, Kidang Telangkas kemudian lebih dikenal sebagai Jaka Tarub. Sejak kecil ia memiliki kecenderungan untuk berburu burung dengan sumpitan. Sampai ia dewasa, ia masih suka berburu burung sehingga di rumahnya ada berbagai jenis burung.

Suatu hari, Jaka Tarub duduk di rumah sambil menikmati nyanyian burung peliharaannya. Tiba-tiba dia mendengar kicauan burung perkutut di atas pohon mangga di halaman depan.

"Sungguh merdu suara burung itu," gumam Jaka Tarub sambil bergerak dari tempat duduknya
Jaka Tarub ingin menangkap burung perkutut itu, tetapi burung itu terbang. Jaka Tarub terus mengejar burung itu sampai ki tengah hutan, di dekat danau Jaka Tarub menghentikan langkahnya karena dia mendengar suara wanita bersendu-gurau bermain air.

"Siapa mereka?" gumam Jaka Tarub heran,
 "Di hutan sepi ini ada seorang gadis mandi."
Jaka Tarub terus menyelinap di sekitar danau. Di danau ada tujuh wanita cantik yang sedang mandi dan bercanda.

"Mungkin mereka adalah bidadari dari kayangan," pikir Jaka Tarub.
Mata Jaka Tarub tertuju pada danau. Tiba-tiba dia melihat baju-baju indah berserakan di batu karang di tepi danau.

"Kurasa pakaian ini milik mereka para bidadari yang sedang mandi, aku ingin mengambil satu pasang," kata Jaka Tarub sambil terus menyelinap melalui semak-semak.

Akhirnya, Jaka Tarub berhasil mengambil sepasang pakaian bidadari. Pakaian yang dia sembunyikan di bawah tumpukan padi di gudang. Kemudian, Jaka Tarub bergegas ke danau. Saat itu para bidadari telah selesai mandi dan menuju ke area penyimpanan pakai. Setelah mengenakan pakaian para bidadari terbang ke langit. Bidadari Nawang wulan tidak menemukan pakaiannya sehingga dia tidak bisa terbang ke kayangan bersama saudara-saudaranya.

Nawang wulan mulai menggigil kedinginan dan sangat sedih. Air matanya jatuh di pipinya. Dia ketakutan karena tiba-tiba seseorang berdiri di tepi danau.

"Jangan takut kepadaku, aku tidak akan menyakitimu. Pakailah kain ini," kata Jaka Tarub, melemparkan kain ke bidadari yang masih ada di danau.

Nawang wulan menangkap kain yang dilemparkan Jaka Tarub. Setelah memakai kain itu, dia menuju ke tepi danau.

"Biarkan aku membantumu," kata Jaka Tarub, mengulurkan tangannya.
Jaka Tarub dan Nawang wulan kemudian duduk di atas batu, di tepi danau.

"Dinda Nawang wulan, mungkin sudah menjadi kehendak para Dewa bahwa Dinda harus tinggal di bumi," kata Jaka Tarub, "Menginap di rumahku."

Nawang wulan berkata pada dirinya sendiri, "Mungkin benar kata lelaki ini, bahwa saya telah ditakdirkan oleh para Dewa untuk hidup di bumi ini."

"Dinda Nawang wulan, akankah Dinda ingin tinggal di rumahku?" kata Jaka Tarub mengulangi kata-katanya.

Nawang wulang menganggukkan kepalanya untuk menandakan dia akan diajak pulang ke rumah Jaka Tarub. Akhirnya, Jaka Tarub dan Nawang wulan menikah. Setahun kemudian mereka dikaruniai seorang putri bernama Nawangsih.

Sejak menikah dengan Nawang wulang beras di gudang Jaka Tarub semakin menumpuk. Jaka Tarub kagum karena istrinya tidak pernah menumbuk padi, tetapi setiap hari istrinya memasak nasi.

"Aku bertanya-tanya mengapa istriku selalu melarangku memasuki dapur?" Jaka Tarub bertanya pada dirinya sendiri.

Suatu hari Nawang wulan sedang memasak nasi. Dia ingin pergi ke sungai. Dia kemudian memanggil suaminya, "Kakanda Jaka Tarup, tunggu api ini, tetapi jangan pernah membuka tutup pengukus ini."
Jaka Tarub semakin penasaran karena istrinya selalu berkata demikian jika pergi ke sungai. Jaka Tarub mengabaikan larangan istrinya. Dia membuka tutup pengukusnya.

"Tidak heran beras di lumbungnya tidak pernah berkurang, ternyata istri saya jika memasak nasi hanya mengambil satu butir beras," kata Jaka Tarub sambil menutup pengukus lagi.

Akibat tindakan Jaka Tarub, sebutir beras yang dimasak oleh Nawang wulan tidak bisa memasak. Sebutir beras itu masih berbentuk tidak menjadi nasi. Sejak itu, Nawang wulan jika memasak nasi harus menumbuk padi terlebih dahulu seperti kebanyakan orang.

Pasokan beras dalam jangka waktu lama di gudang Jaka Tarub semakin menipis. Akhirnya, Nawang wulan menemukan pakaian yang telah disembunyikan oleh Jaka Tarub. Ingatan Nawang wulan kembali ke masa lalu. Dia ingat saudara-saudaranya di kayangan.

Pakaian itu kemudian dipakai agar dia menjadi bidadari lagi. Kemudian, dia terbang ke kayangan untuk menemui saudara-saudaranya. Namun, ketika dia tiba di kayangan dia tidak diterima sebagai warga kayangan karena dia dianggap sebagai manusia. Nawang wulan diperintahkan untuk tinggal di Laut Selatan. Ia kemudian menjadi penguasa Laut Selatan dan Nyi Roro Kidul.

Itulah Cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan sepihak kita akan bersimpati kepada nawang wulan, karena ulah jaka tarub ia tidak bisa kembali ke negeri kayangan, tetapi dibalik itu semua mungkin sudah takdir tuhan yang maha esa untuk menjadi pelajaran bersama.