Cerita Rakyat Dewi Sri dan Sedana – Di tanah jawa khususnya banyak sekali cerita asal usul tentang segala hal dari mulai tanaman yang tumbuh, fenomena alam, binatang dan lain-lain.

Seperti halnya dengan cerita Dewi Sri yang bertugas menanam tanaman padi dari surga untuk ditanam di Jawa. Sehingga ada juga yang menyebut dewi sri sebagai dewi yang menyebarkan panganan, ada juga yang mengenal dirinya dari cerita asal mula tanaman beras. 
Dewi Sri, Cerita Rakyat Dewi Sri, Cerita Dewi Sri dan Sedana
Cerita Rakyat Dewi Sri
Semuanya satu alur cerita, karena isi dari ceritanya sama saja. Yakin Dewi Sri dan Sedana yang ditugaskan untuk menyebarkan benih padi ke tanah jawa, yang kala itu sedang kekurangan pangan.

Cerit Dewi Sri dan Sedana


Pada zaman dahuku di Tanah Jawa kekurangan makanan. Kemudian, Batara Guru memanggil Resi Narada ke Kayangan Jonggring. Resi Narada ditugaskan oleh Batara Guru untuk menurunkan benih padi ke Tanah Jawa. Dewi Sri dan Sedana diberi tugas untuk membawa benih padi itu. Dewi Sri membawa dua butir nasi putih dan merah, sementara Sedana membawa dua butir putih dan hitam.

Perjalanan mereka dari Jonggring Salaka ke Tanah Jawa harus melewati tempat-tempat yang sulit. Seperti, mendaki gunung, turun ke jurang, dan menyeberangi sungai. Perjalanan mereka selalu dibuntuti oleh babi hutan yang bernama Kala Srenggi. Dewi Sri dan Sedana berlari agar benih padi itu tidak jatuh ke tangan Kala Srenggi.

Ketika sampai di gunung, butiran beras merah yang dibawa oleh Dewi Sri jatuh. Bijian tumbuh menjadi beras Gaga (beras merah). Dewi Sri dan Sedana terus berlari. Kala Srenggi terus mengejarnya

Dewi Sri dan Sedana melewati tanah berlumpur. Sehingga ia tidak bisa berlari. Kala Srenggi terus mengejarnya. Hingga benih padi putih yang dibawa oleh Dewi Sri jatuh. Biji-bijian tumbuh menjadi tanaman padi (nasi putih). Butiran beras yang dibawa oleh Sedana juga jatuh di tanah berlumpur. Butiran beras hitam tumbuh menjadi ketan hitam dan ketan putih.

Tanaman padi kemudian berkembang dan berbuah. Babi liar Kala Srenggi terus menunggu tanaman padi dan memakannya. Sedana marah kepada Kala Srenggi yang selalu merusak tanaman padi.

"Hai, Kala Srenggi, nasi ini saya bawa dari surga," kata Sedana, "Keluar dari sini, benih padi ini" saya akan berikan kepada para petani di Tanah Jawa ini! "

"Saya tidak peduli apa yang Anda katakan, beras ini adalah milik saya karena tumbuh di genangan saya," kata Kala Srenggi.

Sedana dan Kala Srenggi kemudian bertempur di atas tanaman padi. Kala Srenggi kalah dan mati karena terkena panah ajaib Sedana.

Bangkai Kala Srenggi itu bersuara, "Hai Dewi Sri dan Sedana, meskipun tanaman padi dari surga sekarang menjadi milik Anda, keturunan saya dan seluruh keluarga saya akan makan nasi, jaminan saya akan menjadi penyakit bledug, puyuh saya menjadi penyakit gering, darah saya menjadi penyakit. brambang, tangan saya menjadi burung gelatik dan ekor saya menjadi tikus "

Dewi Sri dan Sedana melanjutkan perjalanan mencari orang untuk diberi benih padi. Tidak berapa lama mereka sampai di gubuk Ki Semangke yang terletak di tengah sawah. Ki Semangke menyambutnya dengan ramah, "Dari mana kalian, apakah kalian tersesat?"

"Tidak Ki Semangke, kami tidak tersesat, kami sengaja masuk ke rumah Anda," jawab Sedana.

Sedana kemudian memberikan benih beras kepada Ki Semangke, dan mengatakan, "Benih padi ini dari surga, ini aku berikan kepadamu, simpan benih padi ini dengan baik, pada waktunya untuk menanam tanaman dan menyebarkannya ke cucu-cucumu ke berbagai daerah di Tanah Jawa sehingga Tanah Jawa tidak lagi kekurangan makanan.

Saat musim tanam tiba-tiba, Ki Semangke menanam padi pemberian Dewi Sri dan Sedana berada itu di sawahnya. Beras tumbuh subur dan buahnya sangat lebat. Tanaman padi itu kemudian dibawa oleh cucu Ki Semangke ke berbagai daerah di Tanah Jawa. Sehingga Tanah Jawa tidak kekurangan makanan.

Itulah Cerita Rakyat Dewi Sri dan Sedana yang mengemban tugas dari surga untuk menyebarkan benih beras putih, beras merah, dan beras hitam. Yang kemudian menjadi cerita asal muasal beras yang menyebar di tanah jawa.