Cerita Rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih – Kedua tokoh dalam cerita bawang putih dan bawang merah memiliki peran yang sangat berbeda, satu baik hati rajin dan satu lagi jahat dan pemalas.

Keduanya bertemu dalam satu alur cerita rakyat yang melegenda, bayak pelajaran yang diambil dari kisah kedua tokoh tersebut, memilih menjadi orang yang baik atau sebaliknya. Menjadi baik apapun akibatnya akan selalu menjadi baik seperti yang diderita bawang putih.
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, Cerita Rakyat, Bawang Merah dan Bawang Putih
Cerita Rakyat Bawang Putih dan Bawang Merah
Teruslah berbuat baik, jika beruntung akan ditemukan orang baik dan jika tidak akan dipertemukan dengan orang baik. Selamat membaca cerita sahabat sastraindo.
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih

Hiduplah seorang janda bernama Mbok Rondo Dadapan. Dia memiliki dua anak perempuan, satu anak kandung bernama Bawang Merah dan satu anak tiri yang bernama Bawah Putih. Mbok Rondo sangat memanjakan Bawang Merah, sedangkan bawang putih diperlakukan dengan kejam.

Semua pekerjaan rumah, seperti mencuci, memasak, dan menyapu dibebankan pada Bawang Putih. Jika ia membuat kesalahan kecil, Bawang putih diberi hukuman yang berat.

Pada suatu hari Bawang putih diperintahkan untuk mencuci pakaian di sungai. Cucian bawang putih hari itu sangat banyak dan baru selesai siang hari. Bawang Putih mengeringkan cucian di sebelah rumah. Bawang Merah tidak mau membantu saudaranya. Setelah selesai mengeringkan cucian, Bawang putih baru boleh makan oleh Mbok Rondo.

Mbok Rondo kemudian memeriksa jemuran, ternyata cuciannya kurang satu, pakaian milik Bawang Merah hilang.

"Bawang putih! Kemarilah!" Teriak Mbok Rondo.

Bawang putih segera berlari ke jemuran.

"Pakaian batik Bawang Merah dimana? hanyut di sungai ya?" Mbok Rondo bertanya dengan marah.
"Aku tidak tahu, Mbok. Mungkin hanyut di sungai," jawab bawang putih ketakutan.
Mbok Rondo sangat marah kemudian memukul Bawang Putih.

"Mengapa kamu tidak berhati-hati, dan jika kamu tidak menemukannya, maka aku tidak akan memberimu makan," teriak Mbok Rondo.

Bawang putih ketakutan. Dia bergegas ke sungai untuk menemukan pakaian yang hanyut. Dia kemudian menyusuri aliran sungai. Sepanjang jalan ia menangis sedih.

"Jika ayah dan ibuku masih hidup, aku tidak akan menderita seperti ini. Mungkin semua ini telah menjadi kehendak Tuhan. Aku harus tabah menghadapi semua cobaan ini. Semoga Tuhan selalu melindungiku," gumam Bawang Putih.

Bawang Putih bertemu dengan pria paruh baya yang sedang memandikan seekor kuda. Dia berhenti dan bertanya pada pria itu, "Paman! Apakah Anda melihat pakaian hanyut?"

"Tidak nak, saya tidak melihat pakaian hanyut, cobalah tanyakan kepada orang di sana," kata pria itu, menunjuk seorang pria memancing.

Pria yang sedang memancing itu juga tidak melihat pakaian yang hanyut. Bawang putih mulai lapar dan putus asa. Dengan langkah yang lunglai, dia terus berjalan di sepanjang sungai sampai dia mencapai tepi hutan. Dia bertemu nenek yang sedang mencuci beras.

"Nenek! Apakah Nenek melihat pakaiannya hanyut di sungai ini?" tanya Bawang Putih.
"Ya, aku melihat pakaian hanyut. Aku mengambilnya lalu membawanya pulang. Datanglah kerumahku Nduk, aku akan mengembalikannya," kata si nenek.

Bawang putih sangat bersemangat mendengar jawaban itu. Dia segera mengambil botol di sampingnya, lalu mengisinya dengan air.

"Nenek, biarkan botol air ini saya yang bawa," kata Bawang Putih.

Bawang putih berjalan mengikuti di belakang nenek. Dia takut karena wajahnya tidak seperti wajah orang biasa.

"Nek, namaku Bawang Putih," kata Bawang Putih gugup, "Dan siapa sebenarnya nenek ini?"
"Jangan takut padaku, Nduk!" kata nenek, "Namaku Nini Buto Ijo."

Ketakutan Bawang Putih pun hilang, karena nenek yang ia jumpai sangat ramah. Tidak lama sampailah mereka di sebuah rumah.

"Nah, ini rumahku, kamu bantu aku memasak dulu, aku akan mengembalikan bajumu," kata nenek Boto Ijo.

Bawang Putih pergi ke dapur untuk memasak. Begitu dia masuk ke dapur, keringat dinginnya keluar. Dia takut dan ngeri melihat peralatan memasak yang tidak biasa. Centongnya seperti tangan manusia, sendoknya menyerupai tengkorak manusia, dan kayunya terbuat dari tulang. Meskipun takut, Bawang putih masih bekerja seperti tidak ada apa-apa.

Selesai memasak bawang putih lalu menyajikan masakannya itu di meja makan. Setelah itu, dia membersihkan peralatan masak.

"Benar-benar rajin anak ini," kata nenek Buto Ijo, "Kalau saja aku punya anak sepertinya, aku sangat bahagia."

"Nenek, nenek!" kata Bawang Putih mengejutkan nenek Buto Ijo yang melamun, "Segalanya rapi dan aku akan pulang. Nenek tolong kembalikan bajuku."

"Nduk, kamu jangan pulang sekarang. Lihat matahari sudah tenggelam. Kalau kamu pulang sekarang aku takut kamu akan bertemu dengan Kakek Buto Ijo dan kamu akan dimangsanya. Tinggalah di sini, dan bersembunyi di bawah kekep 'tutup periuk yang besar. '

Sepanjang malam Bawang putih ketakutan dan tidak bisa tidur. Dia takut kalau Kakek Buto Ijo memakannya ketika ia pulang. Tapi rupanya kakek buto ijo langsung tidur.

Pagi-pagi, Nenek Buto Ijo pergi ke dapur dan membuka pintu, "Cepatlah dan pulang sementara Kakek Buto Ijo masih tidur," kata Nenek sambil memberikan kemeja dan sepotong bambu, "Jangan dibuka bambu ini sebelum kamu pulang. "

Sesampainya di rumah, "Mbok, ini pakaiannya," kata Bawang sambil menyerahkan pakaian dan buluh bambu ke Mbok Rondo.

Kemudian, buluh bambu dibelah. Ternyata buluh bambu berisikan emas dan permata. Mbok Rondo sangat senang karena ia kaya mendadak.

Bawang putih juga menceritakan kisah perjalanannya dari awal hingga akhir. Mbok Rondo ingin mendapatkan lebih banyak emas dan permata.

Bawang Merah merasa iri dengan saudaranya. Kemudian ia melakukan seperti yang dilakukan Bawang Putih. Bawang Merah kemudian pergi ke sungai dan menghanyutkan pakaiannya dan mencarinya.

Bawang Merah juga bertemu dengan orang-orang yang memandikan kuda dan memancing. Akhirnya dia bertemu dengan Nenek Buto Ijo.

Sampainya di rumah Nenek Buto Ijo. Dia tidak mau memasak dan menyapu. Nenek Buto Ijo kesal.

"Ini bajumu dan pulanglah," kata Nenek Buto Ijo sambil memberikan pakaian dan buluh bambu pada Bawang Merah.

"Buluh bambu ini penuh dengan emas dan permata," kata Bawang Merah.

Bawang Merah bergegas pulang. Mbok Rondo sangat senang karena putrinya cepat kembali.
Dia meminta buluh bambu yang dibawa oleh Bawang Merah dan membelahnya. Ternyata buluh bambu tidak berisi emas dan permata, melainkan binatang berbisa. Mbok Rondo dan Bawang Merah berlari ketakutan.

Itulah Cerita Bawang Putih dan Bawang Merah yang mengispirasi kita untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa meminta imbalan. Teruslah berbuat baik ya.