Cerita Rakyat Ande ande Lumut – Cerita rakyat kali ini menceritakan tentang cinta zaman dahulu antara putri kerajaan kediri dengan seorang patih, sang putri dicintai oleh seorang raja yang jika lamaranya ditolak ia akan memerangi raja kediri.

Cinta memang buta sejak dahulu kala, singkat cerita sang putri disuruh lari dari kerajaan oleh sang raja dan menyamar menjadi rakyat jelata sampai menemukan cinta sejatinya. Simak cerita lengkapnya di cerita ande ande lumut.
Cerita Ande Ande Lumut, Cerita Rakyat Ande Ande Lumut, Cerita Rakyat, Ande Ande Lumut
Cerita Rakyat Ande Ande Lumut
Cerita Ande ande lumut dan Klenting Kuning

Panji Asmara Bangun, putra mahkota Kerajaan Jenggala mempunyai tunangan bernama Dewi Candra Kirana, putri Raja Kediri. Tunangan Panji Asmara Bangun itu juga dicintai oleh Kelana Sewanggana, Raja Bandarangin. Kelana Sewanggana ingin melamar Dewi Candra Kirana.

Jika lamarannya ditolak ia akan menyerang Kerajaan Kediri. Raja Kediri tahu bahwa jika Kerajaan Bandarangin menyerang Kerajaan Kediri, rakyat pasti akan menjadi korban. Raja Kediri tidak menginginkan hal itu. Baginda lalu memanggil putri tunggalnya.

"Putriku, Candra Kirana, engkau telah mengetahui niat jahat Raja Kelana Sewangganan. Oleh karena itu, segeraIah engkau meninggalkan istana Kediri.

Menyamarlah sebagai rakyat jelata sehingga engkau tidak dikenali oleh mata-mata dari Kerajaan Bandarangin," kata Raja Kediri sedih, "Ayah akan selalu berdoa semoga engkau mendapat perlindungan dari Tuhan".

Permaisuri berkata sambil membelai rambut putrinya, "lbu juga akan selalu berdoa bersama ayahmu. Semoga engkau selalu mendapat periindungan dari Tuhan".

"Ananda menurut perintah Ayahanda dan Ibunda, jawab Candra Kirana singkat.
Setelah kepergian Candra Kirana datanglah Patih Tamengdita, utusan Raja Kelana Sewanggana di istana Kediri. Patih menyampaikan maksud kedatangannya ke Kediri, yaitu melamar Dewi Candra Kirana untuk rajanya.

Raja Kediri berkata, "Telah beberapa hari ini putriku meninggalkan istana. Aku tidak tahu ke mana perginya. Jika rajamu tetap menginginkannya, suruhlah rajamu mencari Candra Kirana."

Patih Tamengdita kembali ke Bandarangin menyampaikan berita itu kepada Prabu Kelana Sewanggana. Prabu Kelana Sewanggana kemudian mengajak Patih Tamengdita pergi ke Kediri menyamar sebagai tukang tambang di Bengawan Silugangga. Prabu Kelana Sewanggana berganti nama Yuyu Kangkang dan Patih Tamengdita berganti nama Kodok Ijo.

 Panji Asmara Bangun telah mendengar berita bahwa Dewi Candra Kirana pergi dari istana. la sedih karena tidak tahu ke mana Dewi Candra Kirana pergi. Panji Asmara Bangun kemudian mengajak kedua abdinya, Sabda Palon dan Naya Genggong mengembara hendak mencari Dewi Candra Kirana.

Dalam pengembaraan itu Panji Asmara Bangun berganti nama Ande Ande Lumut, Sabda Palon berganti nama Bancak, dan Naya Genggong berganti nama Doyok. Mereka menetap di desa Karang Kebulusan.

Dewi Candra Kirana menyamar menjadi rakyat biasa dan berganti nama Ragil Kuning. la tinggal di rumah Mbok Rando Dadapan. Mbok Rondo tidak keberatan asalkan Ragil Kuning mau membantu memasak dan mencuci pakaian.

Semenjak Ragil Kuning tinggal di rumah Mbok Rondo rumah dan pekarangan Mbok Rondo mejadi bersih. Mbok Rondo senang pada Ragil Kuning karena ia rajin bekerja dan tidak pernah mengeluh.

”Seandainya keempat anak perempuanku semuanya seperti Ragil Kuning betapa senangnya hidupku,” kata Mbok Rondo sambil memperhatikan Ragil Kuning yang sedang menyapu halaman rumah, ”Tingkah laku Ragil Kuning sangat sopan dan budi bahasanya sangat halus.

Mungkinkah Ragil Kuning bukan dari rakyat kebanyakan?”
"Ragil Kuning,” teriak Mbok Rondo Dadapan
Ragil Kuning pun segera menghampiri dan duduk di samping Mbok Rondo.

”Ada apa, Mbok?” tanya Ragil Kuning.
”Tidak ada apa-apa Nduk," kata Mbok Rondo Dadapan, ”Aku hanya ingin bertanya. Siapakah sebenarnya engkau ini? Aku perhatikan engkau sangat Iain dengan gadis-gadis di kampung ini. kata Mbok Rondo.

"Baiklah aku berterus-terang, tetapi Si Mbok harus merahasiakan hal ini kepada orang lain. Termasuk kepada Kakak Kleting ijo, Kleting Abang, Kleting Ungu, dan Kleting Ireng," kata Ragil Kuning.

"Ya, aku berjanji akan tetap menjaga rahasiamu," kata Mbok Rondo.
Ragil Kuning kemudian berterus-terang kepada Mbok Rondo tentang asal usulnya. Setelah mendengar penjelasan Ragil Kuning, Mbok Rondo menyembah kepada Ragil Kuning.

"Jangan Si Mbok menyembahku. Anggaplah aku sebagai anakmu sehingga penyamaranku tidak diketahui orang," kata Ragil Kuning.
Mbok Ronda semakin sayang kepada Ragil Kuning. Ragil Kuning pun tetap bekerja seperti biasa. Menyapu, memasak, dan mencuci.

Berita mengenai di desa Karang Kebagusan ada seorang pemuda tampan bernama Ande Ande Lumut telah sampai ke desa Dadapan. Keempat anak Mbok Rondo Dadapan ingin pergi ke desa itu hendak menggoda Ande Ande Lumut.

"Adikku Kleting Abang, Kleting Ungu, dan Kleting Ireng Marilah kita pergi ke desa Karang Kebagusan," kata Kleting Ijo pada suatu pagi.
Keempat gadis itu sepakat hendak bertandang ke rumah Ande Ande Lumut. Ragil Kuning ingin ikut. Akan tetapi, Kleting Ijo marah, "Kalau mau pergi ke Karang Kebagusan pergi saja sendiri. Jangan bersama kami," katanya ketus.

Keempat gadis anak Mbok Rondo pergi ke desa Karang Kebagusan. Untuk sampai ke desa Karang Kebagusan mereka harus menyeberangi Bengawan Silunganggo. Mereka tidak dapat berenang sehingga mencari tukang perahu.

"Hai, gadis-gadis cantik. Kalian akan ke mana?" tanya Yuyu Kangkang.
"Ya, akan ke mana?" sambung Kodok Ijo.
"Paman, kami akan ke desa Karang Kebagusan. Tolonglah kami. Seberangkan ke sana," kata Kleting Ijo genit.

"Aku mau menyeberangkan kaiian asalkan kalian mau kucium," kata Kodok Ijo.
Yuyu Kangkang pun mau akhirnya menyeberangkan keempat dengan upah cium. Selanjutnya, keempat gadis itu menuju ke rumah Ande Ande Lumut dengan harapan diperistri oleh Ande Ande Lumut. Akan tetapi, Ande Ande Lumut tidak mau menerima keempat gadis itu karena keempat gadis itu tidak suci lagi.

Kleting Kuning tidak mau dicium oleh Yuyu Kangkang dan Kodok Ijo sehingga ia tidak diseberangkan. Kleting Kuning mengeluarkan senjatanya yang berupa lidi dan memukul air Bengawan Silugangga. Seketika itu air Bengawan kering dan Kleting Kuning dapat menyeberang. Sampai di Karang Kebagusan ia diterima oleh Ande Ande Lumut. Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning kemudian membuka jati dirinya.

"O, Dinda Candra Kirana, kata Panji Asmara Bangun.  "Ya, Kakanda Panji Asmara Bangun," jawab Candra Kirana singkat.
Kedua sejoli itu saling berpelukan.

Tidak lama kemudian Yuyu Kangkang (Prabu Kelana Sewanggana) dan Kodok Ijo (Patih Tamengdita) sampai di Desa Karang Kebagusan. Mereka hendak merebut Candra Kirana. Akan tetapi, mereka dibunuh oleh Panji Asmara Bangun. Panji Asmara Bangun dan Candra Kirana kembali ke Kediri. Mereka kemudian dinikahkan dengan pesta yang sangat meriah.

Itulah cerita rakyat ande ande lumut yang mengispirasikan kita untuk berjuang demi seseorang yang kita cintai, meskipun halangan banyak sekali, jika memang dia yang terbaik lakukan dengan baik.