Cerita Fabel Persahabatan Tokek dan Nyamuk - Halo adek-adek, kakak ada cerita buat adek nih yang menceritakan persahabatan antara si tokek dengan nyamuk.

Wah kok mereka bisa bersahabat gitu yah hihi, padahalkan nyamuk itu makanannya si tokek, biasanya tokek kalo melihat nyamuk langsung "hap" langsung deh masuk mulut.
Cerita Fabel Anak Persahabatan Tokek dan Nyamuk
Yuk langsung saja adek membaca sendiri cerita anak tentang persahabatan tokek dengan si nyamuk. Biar adek tau sendiri kok bisa yah mereka bersahabat.

Cerita Fabel Anak Tokek dan Cicak

Terlihat sebuah kepanikan dan keseibukan yang tak henti-hentinnya di rumah keluarga tokek hari ini. Sang ibu terlihat gelisah dan tak sabar menunggu tiga butir telur-telurnya yang akan segera menetaskan bayi-bayi tokek. Hari ini adalah tepat satu bulan telur itu berada di tengah tumpukan papan di atap sebuah rumah.

Sang ibu merasa sangat bahagia karena ni adalah pertama kali baginya, dan sang ayah pun merasakan kebahagiaan yang sama. Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi mereka dalam menjaga ketiga telur itu. Setiap pagi dan malam, mereka harus memastikan bahwa telur-telur itu tidak rusak dan selalu dalam keadaan hangat.

Sang ibu dan ayah pun merasa cemas menunggu ketiga telur itu menetas. Beberapa teman dan kerabat tokek yang lain pun tak sabar menantikan peristiwa yang mendebarkan itu. Setelah menunggu dengan penuh kecemasan dan keantusiasan, terdengar suara retakan dari salah satu telur. Sang ibu pun menjerit kegirangan.

“Ayah, lihat! Ada yang menetaas!”
“Wah, Betul, Bu! Kira-kira laki-laki atau perempuan, ya?” Sang ayah yang pernasaran pun tak sanggup menahan perasaan bahagianya. Tak lama setelah terdengarnya retakan kecil, menyusul beberapa retakan berikutnya yang lebih keras. Setengah bagian dari telur yang retak itu kini sudah benar-benar pecah.

“Yah, kau lihat itu! Anak pertama kita akan segera muncul!” Sang ibu terlihat tak sabar menanti kemunculan bayi tokek pertamanya.” Pelan tapi pasti, bayi tokek itu akhirnya menghancurkan semua cangkang telur yang melingkupinya.

“Wah, selamat! Dia perempuan!” teriak salah satu kerabat. Sang ibu dan ayah tokek sangat bahagia melihat kelahiran pertama anaknya. Sehabis telur pertama menetas kemudian, terdengar retakan dari telur kedua dan ketiga. Tidak lama telur kedua pun menetas, tinggal menunggu telur ketiga yang belum menetas juga.

Seekor bayi tokek muncul dari telur kedua. Tetapi lagi-lagi telur tokek kedua menetaskan bayi perempuan. Mereka sangat berharap bahwa telur ketiga adalah laki-laki. Sekarang giliran cangkang telur ketiga yang retak dan terlepas satu demi satu. Sedikit demi sedikit, muncullah bayi ketiga.

“Ibu, dia laki-laki” teriak sang ayah menyambut dengan girang. “iya, ayah. Akhirnya, mereka semua sudah menetas. Aku bahagia sekali!” Sang ibu tokek bahagia dan terharu melihat ketiga bayi tokeknya terlahir ke dunia dengan sempurna.

Sang ibu dan sang ayah membesarkan ketiga anak tokeknya dengan baik. Mereka selalu rajin berburu serangga untuk memberi makan anak-anaknya. Kasih sayang yang diberikan dengan melimpah membuat ketiga anak tokek itu tumbuh dengan baik.

Sampai pada suatu hari, sang ibu mendapati bahwa anak ketiganya yang laki-laki tak bisa bicara dan berbunyi “toookeek”. “Ayah, ini sudah lebih dari dua bulan, tapi anak laki-laki kita tidak bisa bicara dan berbunyi “toookeek” layaknya tokek jantan pada umumnya.

 Jika seperti itu, bagaimana dia nanti akan menarik perhatian lawan jenisnya?. Bagaimana dia akan mendapatkan pasangan ketika sudah dewasa nanti? Oh, ayah.. Aku tak sanggup membayangkannya! Apa yang harus kita lakukan?” Sang ibu tokek tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya.

“Aku juga tak tahu harus bagaimana, bu. Belum pernah ada kejadian pejantan yang tidak bisa berbunyi “toookeek”. Walau bagaimanapun, kita harus sabar dan tetap membesarkannya dengan baik.” “Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika dia dewasa nanti, ayah?” Sang ibu berusaha tabah. Namun matanya masih berkaca-kaca.

“Aku yakin, pasti ada maksud di balik semua ini, bu.” Sang ayah pun mendekap sang ibu yang masih menangisi keadaan anak laki-lakinya. Dengan penuh kesabaran dan rasa syukur, sang ibu dan sang ayah membesarkan ketiga anak tokeknya hingga mereka menginjak dewasa.

Malangnya, si tokek yang tak berbunyi seringkali mendapat ejekan, bahkan dari kedua kakak perempuannya sendiri. Para tokek jantan lainnya kerap menjulukinya “betina” karena tak bisa berbunyi “toookeek”. Ketika kedua kakak perempuannya mulai mendapatkan pasangan, tak ada satu pun tokek betina yang mau mendekatinya karena dianggap tidak jantan.

Suatu malam, si tokek bisu sedang berburu serangga di pepohonan. Tiba-tiba ia melihat seekor nyamuk sedang terbang ke arahnya. Langsung saja ia mempersiapkan lidahnya yang panjang untuk menangkap si nyamuk. Tetapi ketika ia menjulurkan lidahnya, tiba-tiba saja si nyamuk itu jatuh, terhempas ke bawah.

Melihat kejadian itu, dengan sigap si tokek bisu berjalan menuruni pohon untuk menangkap nyamuk tersebut dengan lidahnya. Alangkah terkejut si tokek bisu tatkala mendapati ternyata salah satu sayap si nyamuk patah.

“Tolong, jangan makan aku!! Aku hampir mati tekena tepukan manusia,” pintanya kepada si tokek. Si tokek yang tak bisa bicara hanya diam dan menghentikan niatnya untuk memangsa si nyamuk. “Jika kau memakanku, akau tak akan bisa berburu dara, dan anakku akan mati karena tak bisa menghisap darah dari tubuhku yng aku berikan padanya.” Dengan nafas tersengal, si nyamuk mencoba menjalaskan kepada si tokek.

Si tokek bisu hanya bisa menganggukan kepalanya, karena ia tak dapat bicara. Si nyamuk pun mengetahui bahwa tokek itu tidak dapat bicara. “Aku tak mengerti mengapa kau hanya diam saja seperti itu. Tapi bolehkah aku mohon pertolonganmu untuk membawaku pulang ke sarang? Aku benar-bena tidak bisa terbang dengan sayap yang terluka”.

Dengan rasa iba, akhirnya si tokek tak berbunyi punmembantu si nyamuk pulang ke sarangnya dengan tetap menaruhnya di atas lidahnya. Si tokek bisu merayap dengan cepat menuju sarang nyamuk. Dengan kondisi yang parah si nyamuk menunjukkan jalan kepada si tokek.

Akhirnya sampailah keduanya. Sontak saja gerombolan nyamuk merasa takut karena tiba-tiba ada tokek yang berada diperkampungannya. Sesampainya dirumah si nyamuk, tokek pun membaringkan si nyamuk, dan melihat anak-anak nyamuk yang sedang sakit juga.

Terimakasih, wahai tokek, karena kau tidak memakanku. Apalagi lagi, kau menyelamatkan hidupku,” ujar si nyamuk. Si tokek bisa hanya dapat menganggukkan kepala dan ekornya untuk menjawab.

“Apa kau tak bisa berbicara? Pastinya pun kau tak bisa menjawabku bukan? Hahahaha” goda si nyamuk. Si tokek hanya bisa tersenyum dan mengibaskan ekornya. Sejak saat itu mereka sering bertemu satu sama lain.

Kini si Tokek pun sering menjenguk si nyamuk untuk mengobrol dan melihat perkembangan nyamuk. Si tokek merasa tak mendapatkan teman di kalanganya sendiri pun mulai menemukan teman baru dan tak lagi merasa kesepian.

Nyamuk-nyamuk yang lain pun mulai bisa menerima kehadiran si tokek dan tak lagi menganggapnya sebagai ancaman seperti sebelumnya. Untuk menyambut si tokek yang baik hati, para nyamuk sering mengadakan pertunjukan yang meriah.

Para nyamuk berjumlah ribuan bergerombol bergerak teratur kesana-kemari layaknya pertunjukkan teater. Pertunjukan itu pun diiringi dengan sayap mereka yang nadanya mirip sebuah lagumerdu. Mereka bersatu, bergerak kompak, dan membentuk berbagai formasi menyerupai badan manusia, kupu-kupu, bahkan sebuah pohon.

Si tokek bisu pun sangat senang menonton pertunjukan para nyamuk. Ia tertawa-tawa senang. Lambat laun, sayap nyamuk yang terluka sudah mulai kembali pulih. Sayang yang patah kini sudah tumbuh kembali karena dirawat dengan baik oleh teman-temannya.

Sebagai rasa terimakasihnya kepada si tokek, si nyamuk pun berencana memberikan sesuatu yang berharga kepada si tokek. “Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak untukmu, aku sangat berterimakasih atas apa yang kau lakukan untuk menyelamatkanku. Oleh karena itu, aku memberimu sebuah sayap yang indah dari rangkaian sayap-sayap nyamuk untuk dikenakan di ekormu.

Saat ekormu bergerak, sayap-sayap ini akan mengembang dan mengeluarkan bunyi yang indah. Ketika berada di bawah sinar atau cahaya, sayap ini akan menyala dan berwarna kehijauan. Kuharap berguna untukmu.” Si tokek sangat senang dan segera mencoba sayap buatan itu di ekornya. Si tokek pun menggerakkan ekornya dan semakin terkagum karena adanya sayap para nyamuk itu.

Hari demi hari berlalu, dan tokek dan nyamuk tetap berteman dan semakin akrab. Dengan sayap buatan si nyamuk, si tokek tak berbunyi banyak dipuji dan dikagumi kalangannya sendiri. Sang ibu, sang ayah, dan kedua kakak perempuan si tokek pun semakin menyayanginya.

Berkat bantuan sayap buatan itu, si tokek yang tak bisa berbunyi “toookeek” mulai bisa menarik perhatian lawan jenisnya dan mendapatkan pasangan. Semua keluarga tokek hidup bahagia dalam waktu yang tidak ditentukan.

Pesan Moral Cerita Fabel AnakTerus berbuat baik ya adek-adek, dan berteman dengan siapapun tanpa memandang dia siapa.

Itulah cerita Fabel anak yang menceritakan tentang persahabatan tokek dengan si nyamuk, wah mereka meskipun berbeda tetapi menjadi sahabat karib yah.