Cerita Anak Tongkat Permata – Pada cerita anak kali ini menceritakan tentang durhakanya anak kepada orangtuanya, ia tidak mengakui kedua orangtuanya lantaran ia miskin bahkan yang paling parahnya lagi ia berkata kasar kepada Ibu dan Bapaknya.

Cerita anak singkat ini sangat baik sekali untuk memberikan pembelajaran kepada anak sejak dini agar kelak ia tidak berani berdurhaka kepada orangtuanya, karena sedari kecil diberikan cerita-cerita inspiratif.
Cerita Anak Pendek, Cerita Anak, Cerita Anak Singkat, Dongen Anak
Cerita Anak Tongkat Permata
Semoga bermanfaat untuk anak-anak sahabat sastraindo, dan kelak menjadi generasi yang baik dalam segala hal. Berikut cerita anak singkat.
Cerita Anak Tongkat Permata dan Anak Yang Durhaka

Dahulu ada sebuah keluarga yang tinggal di dekat sungai Cicuruk. Suami istri tersebut memiliki seorang anak laki-laki bernama Kulup.

Suatu hari, Pak Kulup pergi ke hutan untuk mencari beruang. Di sana ia menemukan sebuah tongkat di antara rumpun bambu. Ternyata tongkat itu dihiasi intan permata dan batu merah delima. Pak Kulup memutuskan untuk membawa pulang rebung dan tongkat itu.

Setibanya di rumah, Pak Kulup menceritakan kejadian yang dialaminya. Kemudian mereka sepakat untuk menjual tongkat temuanya itu. Si Kulup disuruh menjual tongkat itu ke negeri seberang. Akhirnya tongkat itupun dibeli oleh seorang saudagar kaya dengan harga tinggi.

Namun, Si Kulup tidak segera pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih tinggal rantau, bahkan ia pun menikahi putri saudagar paling kaya di negeri itu.

Suatu hari, Si Kulup dan istrinya berdagang ke muara Sungai Cirucuk. Berita kedatangan Si Kulup terdengar sampai ke telinga orang tuanya. Kedua orangtua si Kulup pergi ke kapal untuk menemui anaknya yang sudah lama tidak pulang.

Sang ibu berteriak-teriak memanggil si Kulup. Mendengar suara ibunya, si Kulup tampak bingung. Ia malu jika sampai orang-orang tahu bahwa orangtua yang berpakaian kumal itu adalah ayah dan ibu kandungnya.

“Siapa kalian? Cepat pergi dari kapalku!” teriak si Kulup. “Ini ibu dan ayahmu, Kulup. Ibu juga sudah membawa makanan kesukaanmu,” jawab ibu si Kulup dengan nada sedih.

“Makanan apa ini? Aku tidak suka makanan kampung seperti ini. Orangtuaku adalah seorang saudagar kaya. Bukan gembel seperti kalian,” ucap kulup dengan sombong dan angkuh membuang makanan pemberian ibunya.

Kedua orang tua Kulup sakit hati. Si ibu mengikhlaskan kapal besar karam karena anaknya yang sudah teramat durhaka kepada orang tuanya.

Di tengah perjalanannya tiba-tiba muncul badai besar dan gelombang laut yang sangat tinggi. Kapal itu pun karam. Di tempat karamnya kapal itu lalu muncul sebuah pulau yang menyerupai sebuah kapal. Sekarang, pulau itu bernama Pulau Kapal.

Pesan Moral Cerita Anak
Jangan pernah mendurhakan kedua orang tua, dengan cara apapun. Dan ingat diantara doa yang mudah diterima Tuhan adalah doa orangtua.

Itulah Cerita Anak Tongkat Permata yang menceritakan tentang durhakanya seorang anak kepada orangtuanya, sesukses apapun kamu dimasa depan. Jangan pernah berduruhaka kepada Ibu dan Bapak dengan cara merendahkanya.