6 Contoh Cerita Fabel - Halo adik-adik yang baik hati, kakak kali ini ingin membagikan contoh cerita fabel nih, buat adik baca-baca bareng teman-teman, karena cerita fabelnya seru-seru loh.

Isi ceritanya ada cerita tentang kelalawar, monyet, keledai, tiga sekawan kecoa, ada juga persahabatan tokek dan nyamuk dan mdan masih banyak lainya. Dijamin seru banget deh ceritanya.
Cerita Anak, Cerita Anak anak, Dongeng Anak, Cerita Fabel, Kunpulan Cerita Fabel, Cerita Fabel Anak, Kumpulan Cerita Anak, Kumpulan Dongeng Anak
6 Contoh Cerita Fabel Dongeng Anak
Oh yah adik-adik yang suka sekali dengan cerita petualangan si kancil, gimana cerdiknya si kancil, kak juga punya loh ceritanya cek dibawah yah.

6 Cerita Fabel Anak-anak

CERITA FABEL KELEDAI PEMALAS
Pada  musim panas. tampak seekor keledai berjalan di gunung. Keledai itu membawa beberapa karung garam di punggungnya. Karung itu sangat berat. sementara matahari bersinar dengan panas. "Panas sekali aku tidak berpikir aku bisa berjalan lagi." kata keledai itu. Di depan, terlihat seperti sungai. "Ah, ada sungai! Sebaiknya aku istirahat dulu." kata keledai dengan gembira.

Tanpa pikir panjang si menceburkan dirinya ke sungai, alhasil dia pun terpeleset. Dia mencoba untuk bediri kembali. tetapi tidak berhasil. Ia masih berusaha untuk berdiri, tetapi ada yang aneh dia merasa beban di punggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi.

"Ya ampun, garamnya larut!" Tuan itu berkata dengan marah, “Oh, maaf, garamnya larut di air ya?” kata keledai itu. Beberapa hari kemudian. keledai mendapat tugas lain untuk membawa garam. Seperti biasa, dia harus berjalan melewati gunung oleh tuannya. "Sebentar lagi akan ada sungai di depan." kata keledai di hatinya. Saat Keledai melintasi sungai, ia sengaja menjatuhkan dirinya kembali.

Byuuuuur! Tentu saja garam yang ada di punggungnya langsung larut di dalam air. Beban menjadi ringan. "Ahhh ringan sekalii," kata keledai senang, mengetahui keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja, tuannya menjadi marah.

"Dasar Keledai pemalas!" Tuannya berkata dengan marah. Keesokan harinya, keledai mendapat pekerjaan membawa kapas. Sama seperti sebelumnya, dia berjalan bersama tuannya melalui pegunungan yang dilaluinya kemaren.

Sesampainya mereka di sungai, keledai pemalas itu kembali sengaja menjatuhkan dirinya ke sungai. Tetapi kapas yang dapat menyerap air membuat muatannya menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai pemalas itu harus terus berjalan dengan beban yang amat berat di punggungnya. Keledai berjalan pelan dan lemas di bawah terik matahari sampai tujuan.

CERITA FABEL SEMUT DAN KEPOMPONG
Di hutan yang rindang. hidup berbagai hewan buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung. Kupu-kupu dan yang lainnya. Suatu ketika, di hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin yang sangat kencang merusak dan menumbangkan pepohonan. Kraak! Kraak! Kraak! terdengar suara dahan patah.

Banyak hewan tidak bisa menyelamatkan diri. kecuali semut yang berlindung di tanah. Badai baru saja berhenti ketika pagi hari sudah habis. Matahari bersinar lagi. Tiba-tiba dari tanah datang seekor semut. Semut berhidung dan menyerbu karena dia bisa masuk ke sarangnya di tanah.

Ketika sedang berjalan dia melihat kepompong tergeletak di cabang yang patah akibat badai kemarin. Semut bergumam. "Hmm, tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa pergi kemana-mana."

"Menjadi kepompong memang tidak enak!" "Cobalah lihat diriku, aku bisa pergi ke mana pun yang aku mau." Semut mengolok-olok kepompong. Semut terus saja mengejek kepada setiap hewan yang dia temui.

Beberapa hari kemudian. semut berjalan di jalan berlumpur. Dia tidak menyadari bahwa lumpur yang dia injak adalah lumpur hisap. "Sulit untuk berjalan di tempat berlumpur seperti itu," keluh si semut. Semakin lama semut tenggelam ke lumpur. "Tolong! Tolong," teriak semut itu.

"Yah, sepertinya kamu dalam masalah?" Semut kaget mendengar suara itu. Dia mencari-cari sumber suaranya. Dia melihat kupu-kupu cantik terbang di atasnya. "Hai, semut, masih ingat aku? aku adalah kepompong yang sering kau olok-olok. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku.

"Lihatlah sekarang kamu tidak dapat berbuat apa-apa terhisap lumpur itu." Iya maafkan aku karena sering mengejekmu, maukah kau membantuku keluar dari sini? "Si semut berkata pada kupu-kupu itu.

Kemudian kupu-kupu itu membantu mengeluarkan semut yang terperangkap di lumpur hisap. Karena bantuan kupu-kupu semut pun dapat bebas dari lumpur hisap. Seemut berterima kasih kepada kupu-kupu.

"Tidak apa-apa, itu tugas kita untuk membantu mereka yang dalam masalah, bukan, jadi kamu tidak mengejek hewan lain?" Karena pasti semua mahluk hidup dinerikan kekurangan dan kelebihan oleh Sang Pencipta. Sejak itu, semut dan kepompong menjadi teman dekat.


CERITA FABEL MONYET MENJADI RAJA HUTAN
Suatu hari Sang Raja Hutan ditembak oleh seorang pemburu, semua ditembak hutan pun menjadi resah dan gelisah karena tidak mempunyai Raja lagi. Segera semua penghuni hutan berkumpul untuk memilih Raja baru. Yang pertama dicalonkan adalah Harimau, tetapi harimau menolak. "Tidak, jangan saya. Melihat Manusia saja saya langsung lari," katanya. Kalau begitu kau badak, kamu kan sangat kuat, "kata para binatang lainnya.

"Tidak tidak. penglihatan saya tidak bagus, saya telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh! mungkin Gajah saja yang menjadi Raja. Tubuhmu kan besar ..". Kata para binatang . "Aku tidak bisa bertarung dan gerakanku sangat lambat," kata gajah itu.

Hewan-hewan bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika mereka akan bubar, monyet itu tiba-tiba berteriak. "Satu-satunya orang yang menjadi raja, dia yang telah membunuh Singa". "Mustahil." sahut tupai.

"Coba kalian perhatikan aku, aku mirip manusia bukan? Lalu aku adalah raja yang sempurna," kata monyet. Para binatang pun mendiskusikan akan hal itu. Dan akhirnya penduduk hutan setuju untuk memilih monyet menjadi raja baru mereka. Setelah diangkat menjadi raja, Perilaku si monyet tidak seperti raja, Monyet hanya bermalas-malasan sambil makan makanan enak.

Penghuni hewan menjadi jengkel, terutama serigala. Serigala berpikir, "bagaimana kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia?", Tubuhnya sama, tapi otaknya tidak". Serigala tiba-tiba mendapatkan ide. Suatu hari, dia menghadap monyet. "Tuanku, aku menemukan makanan yang sangat lezat, aku yakin tuanku akan menyukainya, jika engkau mau, aku akan membawamu ke tempat itu, "kata serigala.

Baca Juga: Kumpulan Cerita Fabel Si Kancil.
Tanpa berpikir panjang. Monyet pun pergi dengan serigala untuk mengambil makanan tersebut. Di tengah hutan, ada banyak buah-buahan yang disukai monyet. Monyet yang rakus segera menyergap buah-buahan itu. Rupanya, monyet itu langsung jatuh ke tanah.

Ternyata makanan yang ia ambil merupkan perangkap buatan manusia. "Tolong! Tolong," teriak si monyet, berusaha keluar dari perangkap. Saya tidak pernah membayangkan seorang raja bisa menjadi bodoh seperti itu, terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh seorang manusia.

Raja seperti monyet mana bisa melindungi rakyatnya," kata serigala dan hewan lainnya. Tak lama setelah serigala meninggalkan monyet, sang pemburu melihat ada seekor monyet terperangkal, dia pun langsung mengambil tangkapannya ke rumah.

CERITA FABEL KENAPA KELALAWAR HIDUP DI GUA-GUA
Pada suatu hari di padang rumput Afrika. Terdapat seekor singa yang sedang makan. Ketika sedang asik menyantap makanan tiba-tiba ada seekor elang terbang dan menyambar makanan singa. "Kurangajar". ujar singa marah.

Raja hutan sangat marah, karena ketidak sopanan elang. Kemudian Singa memerintahkan semua binatang untuk berkumpul dan menyatakan perang kepda bangsa burung. "Wahai kalian mulai sekarang, bangsa burung adalah musuh kita, usir mereka semua, jangan biarkan mereka lolos!" kata sang Singa.

Hewan-hewan lainnya juga setuju dengan usul Singa karena mereka merasa diperlakukan sama oleh bangsa burung. Saat malam mulai tiba, burung-burung kembali ke sarang mereka. Kesempatan itu digunakan oleh singa dan anak buahnya untuk menyerang. Akibatnya burung-burung bertebaran melarikan diri.

Untungnya masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari sehingga mereka semua bisa melarikan diri dari serangan singa dan anak buahnya.

Melihat burung-burung itu kalah, kelelawar merasa cemas. jadi dia bergegas menemui raja hutan. Kelalawar berkata, "Sebenarnya saya termasuk ras tikus, tetapi saya memiliki sayap.

Lalu izinkan saya untuk bergabung dengan bangsa kalian, saya akan mempertaruhkan hidup saya untuk melawan burung burung. "Tanpa berpikir keras singa setuju kelelawar masuk ke bangsa mereka.

Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang sekelompok burung dan berhasil mengusir mereka. Keesokan harinya. pagi-pagi sekali, ketika kelompok singa sedang beristirahat, sekelompok burung menyerang mereka dengan melempari singa dengan batu-batuan dan kacang-kacangan.

"Awas hujan batu," teriak bangsa binatang, kemudian mereka berlarian untuk menyelamatkan diri. Kelalawar begitu khawatir tentang hal itu sehingga dia berpikir untuk bergabung kembali dengan kelompok burung, kemudian ia menemui raja burung, Elang. "Lihatlah sayapku aku burung sepertimu". Elang menerima kelelawar dengan senang hati.

Pertarungan berlanjut. monyet mengendarai gajah dan badak sambil memegang busur dan anak panah, untuk membalaskan dendam burung-burung. Kepala mereka ditutupi dengan topi dari tempurung kelapa sehingga tidak akan mempan apabila dilempari dengan batu.

Setelah kelompok singa menang. apa yang dilakukan kelelawar? Dia bolak-balik mendukung kelompok pemenang. Sifat kelelawar yang pengecut dan tidak memihak telah diketahui oleh kelompok singa dan burung.

Mereka menyadari bahwa tidak ada gunanya mereka bermusuhan. Mereka kemudian berdamai lagi dan memutuskan untuk mengusir kelelawar dari lingkungan mereka. Kelelawar merasa sangat malu karena sifat pengecutnya, oleh karenanya dia tidak memiliki teman mereka hidup di gua-gua gelap. Mereka hanya muncul ketika malam tiba dengan cara bersembunyi-sembunyi.

CERITA FABEL MISI TIGA KECOA
Ini sebuah kisah di pinggir kota Jakarta, kisah keseharian seekor kecoa dan kedua temannya. Panggilah kecoa itu Minso, sebuah kisah yang berasal dari bawah kaki kita, kisah tentang si Miso dan kedua temannya.

 "Sudah, sudah. Kali ini biar aku sendirian sajalah. Bukankah aku selalu berhasil menjalankan misi kita? Belum sekali pun aku terkena sapu, hahaha...” kata si Miso sambil mengangkat kaki dan memainkan antenanya.

“Wuoooo...” sorak kedua temannya. "Sombong sekali kau, Bung. Siapa tahu kau kena sialnya kali ini.“

"Ah, tidaklah. Aku selalu beruntung. Tenang saja. Kalian hanya perlu duduk disini dan saksikan kehebatanku. Kalian ingat, terakhir kali Si Raksasa itu terpleset di lantai dan seminggu harus duduk di kursi roda karenanya.”

“Terserah kau sajalah. Tetapi kami berdua sudah memperingatkanmu, So.” Kedua temannya itu pasrah dengan keputusan Miso, kemudian bujang berkata, ”Kami membantumu dengan doa, Bung.“

Tanpa memperdulikan perkataan kedua sahabat karibnya, Miso segera beranjak dari tempat duduknya dan mengintip keluar jendela alias lubang dinding di dapur warteg. Dia melihat jam bundar besar di dinding seberang. Jam tiga kurang lima.

Lima menit lagi aksinya baru bisa dimulai, tepat ketika si Mbah Marini membereskan sisa-sisa makanan dan membuangnya ke tempat sampah yang sudah hampir tak layak pakai akibat retakan yang ditimbulkan oleh pukulan sapunya yang bertenaga super. Otak kecoa Miso bekerja cepat memperhitungkan jalur 'perang' yang akan dia lewati nanti.

Tik -tok -tik -tok. Waktu beraksi sedikit lagi. Marison dan Bujang tidak bersuara sedikitpun. Mereka tahu sifat Miso tidak ingin diganggu bila sedang serius.

Tik -tok -tik -tok. Miso bersiap mengambil posisi. Keenam kaki sekaligus tangannya sudah menempel di lantai. Lima..empat..tiga..dua..satu!

Tepat jam tiga, langkah Mbah Marini terdengar. Suara berisik tabrakan sisa -sisa makanan dalam kantong asoy hitam yang dibawanya, ikut mengiringi langkahnya.

Dengan kecepatan turbo, Miso segera merayap di lantai itu menuju tempat sampah. la yakin misi ini akan sangat mudah seperti biasa. Bujang dan Marison hanya menonton sambil menahan napas.

"Firasatku tidak enak, Son,” ujar Bujang. Marison hanya menepuk-nepuk pundak Bujang untuk menenangkannya, namun terlalu kuat, sehingga membuat muka Bujang mencium lantai.

"Gila kau, Bung! Aduuuh, memble bibirku ini!” Maka akhirnya mereka pun berantem kecil.

Sementara itu, Mbah Marini sudah menuangkan sisa-sisa makanan ke dalam tempat sampah. Miso dengan sigap merayap ke tumpukan sampah paling atas dan menarik sepotong tulang ayam yang masih terdapat sedikit daging.

Melihat Kecoa yang ada didapurnya Mbah Marini langsung berteriak dan mengambil sapu, tetapi anehnya dia langsung berlari meninggalkan miso.

”Bagus,” gumam Miso dalam hati. "Raksasa itu sudah takut kepadaku. Bahkan mengayunkan sapu pun tidak. Kalian lihat, tidak, sahabatku? Haha...” Miso turun dari 'surganya' itu dan ingin kembali membawa 'kemenangan' itu pada kedua temannya.

Di dalam markas Geng Kati, Bujang -yang tadinya sibuk menarik antena Marison, tiba -tiba berhenti. Marison berteriak, "Ampunilah aku, tak sengaja aku tadi.”

"Son, lihat. Gawat!” ujar Bujang sambil mengguncang tubuh teman gembulnya itu. "Iya, sudah aku lihat bibirmu itu. Sudah memble. Maafkanlah aku, Jang. Ampun!”

"Bukan itu! Lihat! Si Raksasa itu membawa cairan keramat, San! Bisa mampus si Miso, Son!” "Am... Hahhh? Apa kata kau?“ Marison sontak kaget dan bangkit, membuat Bujang yang tadi berada di atasnya kembali mencium lantai.

Bujang meringis kesakitan untuk kedua kali, namun rasa sakitnya itu sementara ia tunda. Bujang dan Marison sangat khawatir akan nasib teman mereka.

Mbah Marini rupanya telah kembali. Kali ini tidak ada sapu di tangannya, melainkan sebuah benda yang berisi cairan keramat. Cairan yang sangat membahayakan kecoa. Sayangnya, Miso terlalu terlena dengan keberhasilannya dan tidak menyadari bahaya yang menantinya.

Bujang dan Marison serentak heboh berteriak dari markas mereka. "Wuooooi... Miso! Awas!”

Miso tidak terlalu jelas mendengar Suara kedua sahabatnya. Ia hanya tertawa geli sambil menarik tulang ayam. Ia mengira kedua temannya sangat senang karena melihat gaya mereka yang heboh sambil melambaikan keenam kaki yang juga merupakan tangan mereka. “Sabarlah kawan, sebentar lagi aku sampai.” la balas berteriak.

Setelah itu, kejadiannya sangat cepat. Asap yang membawa partikel kecil cairan keramat sudah mengepul di belakang Miso. Bujang dan Marison keluar dari markas dan berusaha mengejar Miso, lalu menariknya dari kepulan asap itu tepat waktu.

Sementara itu, Miso masih saja terus menarik tulang ayam itu sambil melambai pada kedua sahabatnya. Namun anehnya, kali ini langkahnya kian terasa berat. Aroma yang menusuk hidung tercium olehnya. Dadanya sesak.

"Bau apa ini?” katanya dalam hati. Saat ia menoleh, semburan asap tadi tepat mengenai mukanya. Miso langsung terdiam kaku, tak lagi bergerak.

Bujang dan Marison sudah terlambat. Mereka diam di tempat. Semburan cairan keramat itu jauh dari mereka sehingga mereka selamat. Kedua kecoa itu berpelukan sambil menangisi nasib sahabat mereka, Miso, yang terbujur kaku di bawah kaki Mbah Marini. Begitulah, nasib malang Miso si Kecoa.

CERITA FABEL PERSAHABATAN TOKEK DAN NYAMUK
Terlihat sebuah kepanikan dan keseibukan yang tak henti-hentinnya di rumah keluarga tokek hari ini. Sang ibu terlihat gelisah dan tak sabar menunggu tiga butir telur-telurnya yang akan segera menetaskan bayi-bayi tokek. Hari ini adalah tepat satu bulan telur itu berada di tengah tumpukan papan di atap sebuah rumah.

Sang ibu merasa sangat bahagia karena ni adalah pertama kali baginya, dan sang ayah pun merasakan kebahagiaan yang sama. Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi mereka dalam menjaga ketiga telur itu. Setiap pagi dan malam, mereka harus memastikan bahwa telur-telur itu tidak rusak dan selalu dalam keadaan hangat.

Sang ibu dan ayah pun merasa cemas menunggu ketiga telur itu menetas. Beberapa teman dan kerabat tokek yang lain pun tak sabar menantikan peristiwa yang mendebarkan itu. Setelah menunggu dengan penuh kecemasan dan keantusiasan, terdengar suara retakan dari salah satu telur. Sang ibu pun menjerit kegirangan.

“Ayah, lihat! Ada yang menetaas!”
“Wah, Betul, Bu! Kira-kira laki-laki atau perempuan, ya?” Sang ayah yang pernasaran pun tak sanggup menahan perasaan bahagianya. Tak lama setelah terdengarnya retakan kecil, menyusul beberapa retakan berikutnya yang lebih keras. Setengah bagian dari telur yang retak itu kini sudah benar-benar pecah.

“Yah, kau lihat itu! Anak pertama kita akan segera muncul!” Sang ibu terlihat tak sabar menanti kemunculan bayi tokek pertamanya.” Pelan tapi pasti, bayi tokek itu akhirnya menghancurkan semua cangkang telur yang melingkupinya.

“Wah, selamat! Dia perempuan!” teriak salah satu kerabat. Sang ibu dan ayah tokek sangat bahagia melihat kelahiran pertama anaknya. Sehabis telur pertama menetas kemudian, terdengar retakan dari telur kedua dan ketiga. Tidak lama telur kedua pun menetas, tinggal menunggu telur ketiga yang belum menetas juga.

Seekor bayi tokek muncul dari telur kedua. Tetapi lagi-lagi telur tokek kedua menetaskan bayi perempuan. Mereka sangat berharap bahwa telur ketiga adalah laki-laki. Sekarang giliran cangkang telur ketiga yang retak dan terlepas satu demi satu. Sedikit demi sedikit, muncullah bayi ketiga.

“Ibu, dia laki-laki” teriak sang ayah menyambut dengan girang. “iya, ayah. Akhirnya, mereka semua sudah menetas. Aku bahagia sekali!” Sang ibu tokek bahagia dan terharu melihat ketiga bayi tokeknya terlahir ke dunia dengan sempurna.

Sang ibu dan sang ayah membesarkan ketiga anak tokeknya dengan baik. Mereka selalu rajin berburu serangga untuk memberi makan anak-anaknya. Kasih sayang yang diberikan dengan melimpah membuat ketiga anak tokek itu tumbuh dengan baik.

Sampai pada suatu hari, sang ibu mendapati bahwa anak ketiganya yang laki-laki tak bisa bicara dan berbunyi “toookeek”. “Ayah, ini sudah lebih dari dua bulan, tapi anak laki-laki kita tidak bisa bicara dan berbunyi “toookeek” layaknya tokek jantan pada umumnya.

 Jika seperti itu, bagaimana dia nanti akan menarik perhatian lawan jenisnya?. Bagaimana dia akan mendapatkan pasangan ketika sudah dewasa nanti? Oh, ayah.. Aku tak sanggup membayangkannya! Apa yang harus kita lakukan?” Sang ibu tokek tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya.

“Aku juga tak tahu harus bagaimana, bu. Belum pernah ada kejadian pejantan yang tidak bisa berbunyi “toookeek”. Walau bagaimanapun, kita harus sabar dan tetap membesarkannya dengan baik.” “Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika dia dewasa nanti, ayah?” Sang ibu berusaha tabah. Namun matanya masih berkaca-kaca.

“Aku yakin, pasti ada maksud di balik semua ini, bu.” Sang ayah pun mendekap sang ibu yang masih menangisi keadaan anak laki-lakinya. Dengan penuh kesabaran dan rasa syukur, sang ibu dan sang ayah membesarkan ketiga anak tokeknya hingga mereka menginjak dewasa.

Malangnya, si tokek yang tak berbunyi seringkali mendapat ejekan, bahkan dari kedua kakak perempuannya sendiri. Para tokek jantan lainnya kerap menjulukinya “betina” karena tak bisa berbunyi “toookeek”. Ketika kedua kakak perempuannya mulai mendapatkan pasangan, tak ada satu pun tokek betina yang mau mendekatinya karena dianggap tidak jantan.

Suatu malam, si tokek bisu sedang berburu serangga di pepohonan. Tiba-tiba ia melihat seekor nyamuk sedang terbang ke arahnya. Langsung saja ia mempersiapkan lidahnya yang panjang untuk menangkap si nyamuk. Tetapi ketika ia menjulurkan lidahnya, tiba-tiba saja si nyamuk itu jatuh, terhempas ke bawah.

Melihat kejadian itu, dengan sigap si tokek bisu berjalan menuruni pohon untuk menangkap nyamuk tersebut dengan lidahnya. Alangkah terkejut si tokek bisu tatkala mendapati ternyata salah satu sayap si nyamuk patah.

“Tolong, jangan makan aku!! Aku hampir mati tekena tepukan manusia,” pintanya kepada si tokek. Si tokek yang tak bisa bicara hanya diam dan menghentikan niatnya untuk memangsa si nyamuk. “Jika kau memakanku, akau tak akan bisa berburu dara, dan anakku akan mati karena tak bisa menghisap darah dari tubuhku yng aku berikan padanya.” Dengan nafas tersengal, si nyamuk mencoba menjalaskan kepada si tokek.

Si tokek bisu hanya bisa menganggukan kepalanya, karena ia tak dapat bicara. Si nyamuk pun mengetahui bahwa tokek itu tidak dapat bicara. “Aku tak mengerti mengapa kau hanya diam saja seperti itu. Tapi bolehkah aku mohon pertolonganmu untuk membawaku pulang ke sarang? Aku benar-bena tidak bisa terbang dengan sayap yang terluka”.

Dengan rasa iba, akhirnya si tokek tak berbunyi punmembantu si nyamuk pulang ke sarangnya dengan tetap menaruhnya di atas lidahnya. Si tokek bisu merayap dengan cepat menuju sarang nyamuk. Dengan kondisi yang parah si nyamuk menunjukkan jalan kepada si tokek.

Akhirnya sampailah keduanya. Sontak saja gerombolan nyamuk merasa takut karena tiba-tiba ada tokek yang berada diperkampungannya. Sesampainya dirumah si nyamuk, tokek pun membaringkan si nyamuk, dan melihat anak-anak nyamuk yang sedang sakit juga.

Terimakasih, wahai tokek, karena kau tidak memakanku. Apalagi lagi, kau menyelamatkan hidupku,” ujar si nyamuk. Si tokek bisa hanya dapat menganggukkan kepala dan ekornya untuk menjawab.

“Apa kau tak bisa berbicara? Pastinya pun kau tak bisa menjawabku bukan? Hahahaha” goda si nyamuk. Si tokek hanya bisa tersenyum dan mengibaskan ekornya. Sejak saat itu mereka sering bertemu satu sama lain.

Kini si Tokek pun sering menjenguk si nyamuk untuk mengobrol dan melihat perkembangan nyamuk. Si tokek merasa tak mendapatkan teman di kalanganya sendiri pun mulai menemukan teman baru dan tak lagi merasa kesepian.

Nyamuk-nyamuk yang lain pun mulai bisa menerima kehadiran si tokek dan tak lagi menganggapnya sebagai ancaman seperti sebelumnya. Untuk menyambut si tokek yang baik hati, para nyamuk sering mengadakan pertunjukan yang meriah.

Para nyamuk berjumlah ribuan bergerombol bergerak teratur kesana-kemari layaknya pertunjukkan teater. Pertunjukan itu pun diiringi dengan sayap mereka yang nadanya mirip sebuah lagumerdu. Mereka bersatu, bergerak kompak, dan membentuk berbagai formasi menyerupai badan manusia, kupu-kupu, bahkan sebuah pohon.

Si tokek bisu pun sangat senang menonton pertunjukan para nyamuk. Ia tertawa-tawa senang. Lambat laun, sayap nyamuk yang terluka sudah mulai kembali pulih. Sayang yang patah kini sudah tumbuh kembali karena dirawat dengan baik oleh teman-temannya.

Sebagai rasa terimakasihnya kepada si tokek, si nyamuk pun berencana memberikan sesuatu yang berharga kepada si tokek. “Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak untukmu, aku sangat berterimakasih atas apa yang kau lakukan untuk menyelamatkanku. Oleh karena itu, aku memberimu sebuah sayap yang indah dari rangkaian sayap-sayap nyamuk untuk dikenakan di ekormu.

Saat ekormu bergerak, sayap-sayap ini akan mengembang dan mengeluarkan bunyi yang indah. Ketika berada di bawah sinar atau cahaya, sayap ini akan menyala dan berwarna kehijauan. Kuharap berguna untukmu.” Si tokek sangat senang dan segera mencoba sayap buatan itu di ekornya. Si tokek pun menggerakkan ekornya dan semakin terkagum karena adanya sayap para nyamuk itu.

Hari demi hari berlalu, dan tokek dan nyamuk tetap berteman dan semakin akrab. Dengan sayap buatan si nyamuk, si tokek tak berbunyi banyak dipuji dan dikagumi kalangannya sendiri. Sang ibu, sang ayah, dan kedua kakak perempuan si tokek pun semakin menyayanginya.

Berkat bantuan sayap buatan itu, si tokek yang tak bisa berbunyi “toookeek” mulai bisa menarik perhatian lawan jenisnya dan mendapatkan pasangan. Semua keluarga tokek hidup bahagia dalam waktu yang tidak ditentukan.

Itu dia 6 Cerita Fabel pilihan buat adik-adik, seru bukan ceritanya. Banyak juga yah pelajaran buat kita terapin bareng teman-teman, jangan pengecut kaya kelalawar dan setia kawan seperti tokek dan dan nyamuk ya adik.