Cerita Sejarah Pahlawan Wanita - Para pahlawan sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak, tua, mud, laki-laki maupun perempuan semuanya berjuang mempertaryhkan jiwa dan raga.

Cerita pahlawan wanita ini, dimulai dengan para wanita yang tudak hanya memperjuangkan kemerdekaan, tetapi memperjuangkan hak-hak wanita dengan memberikan pendidikan formal maupun non formal.
Cerita Anak, Cerita Anak anak, Dongeng Anak, Cerita Fabel, Kunpulan Cerita Fabel, Cerita Fabel Anak, Kumpulan Cerita Anak, Cerita Pahlawan, Cerita Sejarah
6 Cerita Pahlawan Wanita Indonesia, Yang Jarang Dikenal 
Namun sayangnya, mereka jarang dikebal oleh generasi penerusnya, bahkan bisa dibilang terlupakan. Oleh karena itu sastraindo ingin membagikan Cerita Sejarah Pahlawan Wanita:

CERITA PAHLAWAN NYI AGENG SERANG
Nyi Ageng Serang (1752-1828) merupakan Pahlawan Nasional, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 063/TK/TH 1975, tanggal 9 Agustus tahun 1875. Bernama asli R.A. Kursiah Retno Edhi. Lahir pada tahun 1752 di Serang, dekat Purwodadi, Jawa Tengah.

Beliau merupakan putri dari Pangeran Natapraja yang dahulu pernah mendampingi Sultan Hamengkubuwono I, bertempur melawan Belanda. Perang itu berakhir dengan ditandatangganinya Perjanjian Gianti pada 1755, tetapi Pengeran Natapraja tetap memelihara pasukannya. 

Oleh karena itu, Belanda menyerang daerah Serang. Waktu itu Kursiah sudah dewasa dan turut memimpin pasukan menahan serangan Belanda. Dalam pertempuran itu, dia tertawan dan dibawa ke Yogyakarta, tetapi kemudian dikembalikan lagi ke Serang.

Mengapa Nyi Ageng Serang memberontak? 

Saat di Yogyakarta, terjadi kegelisahan akibat berbagai tindakan pemerintah Belanda yang merendahkan harga diri dan kehrmatan raja-raja Jawa. Dalam istana muncul dua golongan yang anti dan pro Belanda. Kalau sudah begini, rakyatlah yang menjadi korban. 

Tanah mereka banyak yang diambil paksa oleh Belanda untuk dijadikan perkebunan yang dikelola orang Eropa. Hal inilah yang menyebabkan Perang Diponegoro (1825–1830).

Pada waktu perang itu terjadi, Nyi Ageng sudah berusia 73 tahun. Namun karena sejak dahulu sudah membenci Belanda, bersama cucunya, R.M. Papak, dia bergabung dengan pasukan Diponegoro dan diangkat sebagai pinisepuh di samping Pangeran Mangkubumi. 

Berbagai nasihatnya selalu didengar oleh pasukan Diponegoro. Dengan pasukan Nataprajan, dia bergerak di daerah Serang, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, Juwana, dan Semarang. Pernah pula pasukan tersebut ditugasi oleh Pangeran Diponegoro untuk mempertahankan daerah Prambanan. 

Walau usianya sudah lanjut, dengan cara ditandu Nyi Ageng tetap terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda. Atas anjuran Nyi Ageng, pasukan Diponegoro memakai daun limbu dalam pertempuran. Daun itu dapat dipakai sebagai pelindung kepala dan juga untuk menyamar agar tidak mudah diketahui oleh pasukan Belanda.

Karena usia yang semakin tua dan kondisi fisik yang nambah melemah, Nyi Ageng tidak lagi berkecimuk di medan perang. Dia menghabiskan masa tuanya bersama keluarga Nataprajan di Yogyakarta sampai wafat pada tahun 1828.

CERITA PAHLAWAN HJ RASUNA SAID
Hj. Rasuna Said (1910–1965) digelari Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974, tanggal 13 Desember 1974. Rasuna Said dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, pada 14 September 1910.

Setelah menamatkan Sekolah Desa di Maninjau, dia meneruskan pelajaran ke Diniyah School di Padang Panjang. Selain itu, dia belajar pula di sekolah rumah tangga untuk anak-anak perempuan dan di sekolah Thawalib.

Di dalam dunia pergerakan, Rasuna Said termasuk kaum muda yang berpikiran maju. Mula-mula memasuki Sarekat Rakyat dan diangkat sebagai sekretaris cabang.

Pada 1930, dia memasuki Permi (Persatuan Muslimin Indone-sia, kemudian menjadi Partai Muslimin Indonesia) yang berhaluan Islam dan nasionalisme. 

Pada kepengurusan Permi itu, dia menjabat anggota Pengurus Besar. Dia terkenal pandai berpidato. Karena isi pidatonya berisi kritikan dan kecaman terhadap pemerintahan Belanda, oleh karena itu dia sering dihentikan saat berpidato oleh alat-alat pemerintahan Belanda. Karena dianggap membahayakan Belanda, dia ditangkap pada1932 dan dipenjarakan di Semarang.

Selain giat di bidan politik dan pendidikan, beliau juga aktif dalam menyuarakan penyataraan antara perempuan dan laki-laki. Rasuna Said mendirikan sekolah Thawalib di Padang dan memimpin Sekolah Kursus Putri. 

Setelah Permi resmi bubar pada tahun 1937, dia pindah ke Medan dan meneruskan perjuangan di bidang pendidikan, dengan mendirikan 'Perguruan Putri'. Selain itu dia juga menjadi pimpinan di majalah Menara Putri.

Pada jaman pendudukan Jepang, dia turut mendirikan Pemuda Nippon Raya di Padang. Organisasi itu digunakan untuk menggembleng para pemuda agar berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Akibatnya, Pemuda Nippon Raya dibubarkan oleh Jepang.

Dalam masa Perang Kemerdekaan, Rasuna banyak menyumbang-kan tenaga untuk perjuangan. Dia duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatra sebagai wakil daerah Sumatera Barat, di samping menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). 

Bahkan kemudian diangkat sebagai anggota Badan Pekerja KNIP. Sesudah Pengakuan Kedaulatan, dia diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR-RIS) dan kemudian menjadi anggota DPR Sementara. 

Selain giat bergerak di bidang kewanitaan, pada tahun 1959 dia juga diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Beliau meniggal dunia di Jakarta pada 2 November 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

CERITA PAHLAWAN MARIA MALANDA MARAMIS
Maria Walanda Maramis (1872—1924) merupakan Pahlawan Pergerakan Nasional. Dia dikukuhkan sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Maria Yosephine Maramis dilahirkan di Kema, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872.

Pada usia enam tahun sudah menjadi anak yatim piatu dan sejak saat itu diasuh oleh seorang pamannya. Pendidikan di sekolah hanya ditempuh sampai Sekolah Dasar. Pada waktu itu, gadis-gadis Minahasa tidak diizinkan bersekolah di sekolah yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar. Mereka harus tinggal di rumah untuk menunggu saat menikah.

Maria banyak bergaul dengan orang terpelajar, seperti Pendeta Ten Hove. Karena pergaulan itu, pengetahuannya bertambah luas, lalu bercita-cita untuk memajukan kaum wanita Minahasa. Mereka harus memperoleh pendidikan yang cukup agar kelak dapat mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak.

Menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda, yang merupakan guru HIS Manado pada tahun 1890, sangat membantu proses untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Dengan dibantu suami dan orang terpelajar lainnya, pada bulan Juli tahun 1917, mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Percintaan Ibu kepada Anak Turunannya (PIKAT). 

Organisasi tersebut bertujuan mendirikan sekolah-sekolah rumah tangga untuk mendidik anak perempuan yang telah menamatkan Sekolah Dasar pada waktu itu.

Tujuan baik itu mendapat sambutan luas dan berkat kerja keras, dalam waktu singkat, cabang-cabang PIKAT berdiri di beberapa tempat. Di Jawa dan Kalimantan, terdapat cabang-cabang PIKAT.

Kegiatan organisasi diperkenalkan kepada masyarakat melalui karangan-karangan yang dimuat dalam beberapa surat kabar.
Bantuan terhadap PIKAT mulai mengalir. Sekolah PIKAT yang pertama berdiri pada Juli 1918

Sekolah PIKAT itu, Para anak-anak diajarkan tatacara mengatur rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan beberapa keterampilan. Guru-guru tidak digaji. Mereka bekerja sukarela untuk memajukan kaum wanita. Maka dari itu PIKAT dari tahun ke tahun semakin berkembang.

Namun, halangan banyak pula yang dihadapi, terutama dalam masalah biaya untuk mengongkosi sekolah. Untunglah Maria tidak patah hati. la terus berusaha sekuat tenaga mengatasi setiap kesulitan. Pada tahun 1920, PIKAT mendapatkan bantuan dari Gubernur Jenderal Belanda. 

Kepada murid-murid ditanamkan rasa kebangsaan. Mereka dianjurkan agar selalu memakai pakaian daerah. Kepada anak-anaknya Maria berpesan, “Pertahankanlah bangsamu!” Pada bulan Maret tahun 1924, beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Maumbi, Sulawesi Utara.

CERITA PAHLAWAN CUT NYAK MEUTIA
Cut Nyak Meutia (1870–1910) dikukuhkan sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 107 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Cut Nyak Meutia dilahirkan di Perak, Aceh, pada 1870. Tiga tahun sebelum perang Aceh dan Belanda meletus, suasana perang itu mempengaruhi perjalanan hidup selanjutnya. Ayahnya merupakan hulubalang Perak, bernama Teuku Ben Daud. 

Waktu masih kecil, dia dipertunangkan dengan Teuku Syam Syarif, tetapi dia lebih tertarik kepada Teuku Muhammad. Akhirnya, keduanya menikah. Teuku Muhammad merupak seorang pejuang yang lebih dikenal dengan nama Teuku Cik Tunong.

Pada tahun 1900, para pejuang pesohor Aceh sudah banyak yang gugur. Pada waktu itu pasukan Belanda sudah bergerak sampai di pedalaman Aceh. Dan Cut Nyak Meutia bersama suaminya memimpin perjuangan gerilya di daerah Pasai. 

Pasukan geriltanya tercatat beberapa kali dapat mencegat patroli pasukan Belanda. Sampai markas Belanda yang berada di Idle diserang oleh pejuang gerliya dibawah komandi Cut Nyak Meutia dan suaminya.
Belanda akhirnya membujuk pihak keluarga Cut Nyak Meutia agar menyerahkan diri. 

Namun, bujukan itu tidak berhasil. Dia termasuk pejuang yang pantang menyerah. Kemudian pada bukan Mei tahun 1905, Teuku Cik Tunong ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Belanda. 

Sebelum meninggal suaminya berpesan agar Cut Nyak Meutia menikah dengan Pang Nangru, yang merupakan sahabat dekat dan orang kepercayaan Teuku Cik Tunong. Bersama Pang Nagru, Cut Nyak Meutia kembali meneruskan perjuangan melawan Belanda.

Karena perlawanan Pasukan Gerliya, Belanda melakukan pengepungan dengan ketat di wilayah Aceh, akhirnya pasukan gerliya masuk lebih jauh ke pedalaman ke rimba Pasai dan terus berpindah-pindah tempat agar tidak mudah ditangkap oleh pasukan Belanda. 

Namun, pasukannya tetap menyerang patroli-patroli pasukan Belanda yang lewat di tempat-tempat yang terpencil. Pada September 1910, Pang Nangru tewas dalam pertempuran di Paya Cicem. Cut Meutia masih dapat meloloskan diri. 

Beberapa orang teman Pang Nangru kemudian menyerahkan diri kepada Belanda. Cut Nyak Meutia juga dibujuk agar menyerahkan diri, tetapi dia menolak dengan tegas. 

Cut Nyak Meutia dengan membawa seorang anaknya yang masih berumur sebelas tahun, yang bernama Raja Sabil, Mereka terus berpindah-pindah tempat  di rimbai Pasai. 

Akhirnya pasukan Belanda dapat melacak tempat persembunyain Cut Nyak Meutia,  sehingga pada tanggal 24 Oktober tahun 1913, tempat persembunyian Cut Meutia akhirnya terkepung Belanda. 

Pada waktu itu dia melakukan perlawanan hanya menggunakan sebilah rencong. Pasukan belanda kemudian melepaskan beberapa tembakan yang mengenai kepala dan dada Cut Meutia. Beliau akhirnya gugur pada saat itu juga.

CERITA PAHLAWAN NYAI HJ SITI WALIDAH AHMAD DAHLAN
Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872—1946) diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 042/TK/TH 1971, tanggal 22 September 1971.

Kecintaan terhadap Aisyiyah bertitik-tolak dari pengorbanan yang tiada tara dari istri pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yaitu Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) dengan iman dan tauhid yang mendalam. 

Hajjah Siti Walidah berhasil membimbing dan memimpin kaum wanita Islam Indonesia mencapai cita-cita kemerdekaan In-donesia. Sejarah mencatat, Nyai Dahlan lahir pada 1872 di Desa Pesantren Kauman, Yogyakarta. 

Ayah beliau Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadhil bin Kiai Pen-ghulu Haji Ibrahim, ulama besar yang disegani masyarakat. Haji Muhammad memangku jabatan Penghulu Keraton Dalem Yogyakarta Hadiningrat.

Tidak pernah diam bergandengan tangan dua sejoli, terus mengembangkan Muhammadiyah dan Aisyiyah, serta melakukan dakwah ke pedalaman-pedalaman seputar Jawa dan Sumatera.

Siti Walidah selalu setia mendampingi sang suami mengemban misi keumatan, walaupun di sana-sini terdapat rintangan dari pihak-pihak yang tidak senang dengan pembaruan.

Nyai Dahlan adalah pemuka agama terkenal. Dia tidak bosan mernberi ceramah dan pengajian, walaupun kehidupan keluarga cukup sederhana-demi tegaknya ajaran Islam dan terangkatnya harkat serta martabat kaum wanita Indonesia.

Menurut sejarah, pengorbanannya terhadap perjuangan Islam dan organisasi besar sekali, apalagi terhadap kemerdekaan Indonesia.
Nurani Ibu Ksatria Dalam usia yang lanjut, dia masih bersemangat dan berpidato dengan cekatan.

Pada 1930, Nyai Dahlan mulai dikenal dalam tubuh Muhammadiyah dan Aisyiyah serta masyarakat Indonesia. Ketika memimpin Muktamar Aisyiyah di kota sejuk Bukt Tinggi, dalam usia 58 tahun, amat bersemangat memberikan pokok pikiran yang brilian.

Beliau pun membaktikan diri ke desa-desa terpencil untuk membuktikan jiwa kerakyatan dengan semangat kekeluargaan.

Itikad baik yang mendalam bagi beliau adalah sewaktu berkunjung tablig akbar di Purwokerto yang banyak mendapat kunjungan pemuda Hizbul Wathan (HW).

Dalam ceramahnya, dia berpesan secara tegas agar daerah Purwokerto di masa datang, hendaknya menjadi daerah pencontohan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ternyata, semakin hari daerah tersebut terus berkembang dengan paham pembaruan.

Soedirman (kelak Panglima Besar) turut aktif sebagai tokoh HW dan murid Sekolah Guru Muhammadiyah. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Nyai Dahlan memotivasi kaum wanita/santri untuk selalu mewaspadai segala bentuk penindasan dan kesewenangan kaum kolonial.

Sarana pondok pesantren digerakkannya sebagai alat perjuangan. Dalam bidang pendidikan, beliau menganjurkan organisasi Muhammadi-yah di mana pun berada mendirikan sekolah-sekolah umum. Pelajaran bukan saja masalah agama, melainkan mata pelajaran lain diikutsertakan juga.

Dalam perjuangan kemerdekaan, ceramahnya selalu menjadikan hati pen-dengar terdetak bangkit jihad dalam menumpas penjajah. Kelembutan dan kerasnya suara beliau adalah dari hati sanubari seorang ibu ksatria yang cinta kemerdekaan dan kebangkitan Islam.

Ketika waktu berpisah telah tiba dengan suami tercinta (tepatnya 23 Februari 1923) menghadap Sang Khaliq, namun tekad baja jihad fisabilillah yang telah ditanamkan sang suami dalam mengangkat harkat, martabat bangsa dan kaum wanita selalu ia pegang dan camkan dalam-dalam.

Sejarah juga mencatat pada pesta akbar Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surabaya 1926, Siti Walidah berpidato menggemparkan rakyat Surabaya dan sekitarnya.

Surat kabar waktu itu Pewarta Surabaya dan Sin Tit Po memuat penuh acara tersebut. Media massa itu kagum akan keberhasilan dan pengaruh yang dalam dari Nyai Dahlan.

Sejak peristiwa itu, Nyai Dahlan dianggap lebih dari seorang wanita serigala podium yang dapat membangkitkan semangat perjuangan sekaligus wanita ulet dan gesit membuat Belanda harus membuat perhitungan dengannya, dengan ancaman dan peringatan.

Siti Walidah sering memberi sejumlah tawaran pemikiran kepada Kongres Wanita Utomo, Wanita Taman Siswa, Puteri Indonesia, Wanita Katolik, Jong Java Wanita, dan organisasi lainnya.

Berselang setahun usia kemerdekaan RI ia geluti, beliau dipanggil Allah swt., tepat tanggal 31 Mei 1946. Tanggal bersejarah kepulangan Nyai Dahlan menghadap Sang Khaliq membuat bangsa Indonesia kehilangan salah seorang ibu berhati baja, sejati, pelopor kebangunan Islam di Indonesia sekaligus prajurit agung wanita Indonesia.

CERITA PAHLAWAN CUT NYAK DHIEN
Cut Nyak Dhien (1850—1908) dikukuhkan sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Cut Nyak Dien dilahirkan di Lampadang, Aceh Besar, pada 1850. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, hulubalang VI Mukim. Cut Nyak Dien dibesarkan dalam situasi ketika kerajaan Aceh dan Belanda sedang bersitegang, yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran dan tindakannya.

Cut Nyak Dien kemudian menikah dengan  Teuku Cik Ibrahim Lamnga, dengan usia yang cukup muda. Waktu perang Aceh dan Belanda meletus pada 1873, kedua pasangan suami-istri itu sudah dikaruniai seorang anak. 

Pada Desember 1875, daerah VI mukim diduduki Belanda. Cut Nyak Dhien mengungsi ke tempat lain, berpisah dengan suami dan ayahnya yang terus melanjutkan perjuangan. Ibrahim Lamnga gugur pada pertempuran di Gle Tarum, pada bulan Juni tahun 1878.

Cut Nyak Dhien berjanji hanya akan menikahi lelaki yang dapat membantu untuk membalaskan dendam kematian suaminya. Pada 1880, dia menikah untuk kedua kalinya dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. 

Teuku Umar adalah seorang pejuang Aceh yang terkenal pula dan banyak mendatangkan kerugian kepada pihak Belanda. Pada tahun 1893, Teuku Umar memiliki taktik bergabung dengan Belanda untuk mendapatkan persediaan senjata dan perlengkapan perang. 

Tiga tahun setelahnya, Teuku Umar membelot dan memerangi Belanda kembali. Dan beliau gugur pada pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari tahun 1899.

Setelah itu, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjuangan mengusir Belanda di daerah pedalaman Meulaboh. Dia termasuk salah seorang pejuang yang pantang tunduk dan tidak mau berdamai dengan Belanda. 

Ahli sejarah Belanda, Zentgraaf, menyebut Cut Nyak Dhien sebagai de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan sesungguhnya dalam perang besar di Aceh).
Enam tahun lamanya Cut Nyak Dhien bergerilya, Pasukan Belanda berusaha menangkapnya, tetapi tidak berhasil. 

Lama kelamaan jumlah pasukannya semakin berkurang. Bahan makanan sulit diperoleh. Umur semakin tua, mata mulai rabun dan penyakit encok mulai pula menyerang. Anak buahnya merasa kasihan melihat ke-adaan yang demikian itu. 

Pang Laot, seorang panglima perang dan kepercayaan Cut Nyak Dhien melaporkan keadaan tersebut kepada Belanda. Sesudah itu, pasukan Belanda datang untuk menangkap.

Sewaktu akan ditangkap, Cut Nyak Dhien mencabut rencong dan berusaha melawan. Namun, tangannya dapat dipegang oleh Letnan van Vuuren, lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana, dia masih saja berhubungan dengan para pejuang lain yang belum tunduk. 

Karena itu pada 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di Sumedang ini, tidak banyak orang mengenal perempuan tua dan bermata rabun. Ia hanya menggunakan pakaian lusuh dan sebuah tasbih yang tidak pernah lepas dari tangannya. 

Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda. Perempuan renta itu, lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah.

Melihat ketaatan beragama Cut Nyak Dhien, bupati tidak menempatkannya di dalam penjara, tetapi di rumah Haji Ilyas, seorang pemuka agama Islam, tepatnya di belakang Kaum (Masjid Besar Sumedang). Di rumah itulah Cut Nyak Dhien tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, Cut Nyak Dhien—yang kemudian oleh masyarakat digelari “Ibu Perbu” (Ratu)—jarang keluar rumah. Namun, banyak sekali kaum ibu dan anak-anak setempat yang belajar mengaji kepadanya. 

Walau dalam keadaan rabun, banyak sekali ayat suci yang dihapalnya. Selain mengajarkan al-Quran, kegiatan Cut lainnya adalah berzikir di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Dia terus mendekatkan diri kepada Allah.

Banyak kaum ibu dan anak-anak yang bersimpati kepada Cut Nyak Dhien, sehingga makanan dan pakaian diberikan kepadanya, walaupun Cut sering menolak pemberian itu. Karena usia dan penyakit yang kian parah, Cut akhirnya meninggal dunia pada 6 November 1908

Kemudian, dia dimakamkan secara terhormat di Gunung Puyuh, sebuah kompleks pemakaman kaum bangsawan Sumedang. Hingga wafatnya, masyarakat Sumedang belum banyak yang tahu tentang Cut Nyak Dhien. 

Barulah pada 1960-an, saat masyarakat Sumedang mulai melupakan “Ibu Perbu”, berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda, diketahui bahwa Cut Nyak Dhien, seorang wanita pahlawan dari Aceh yang telah diasingkan ke Pulau Jawa, Sumedang, Jawa Barat. 

Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No. 23 (Kolonial Verslag, 1907: 12). Seketika itu, masyarakat Sumedang menjadi semakin tahu, bahwa perempuan renta itu adalah manusia terhormat. 

Beliau diasingkan ke Sumedang dengan seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Tengku Nana berusia 15 tahun.

Itulah 6 Cerita Pahlawan Wanita yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan, emansipasi wanita dan pendidikan wanita. Tentunya sangat berjasa, mengorbankan jiwa dan raga.