Catatan Mata Najwa Tentang Politik Indonesia – Perpolitikan Indonesia menggelitik Najwa Shihab untuk mempertemukan elit-elit politik Indonesia tentang kegaduhan terjadi tidak lama setelah pengangkatan Presiden Joko Widodo dan wakil.

Kegaduhan terjadi lantaran banyak yang saling sikut untuk mendapatkan kursi di pemerintahan pada era presiden baru, bukan malah memperbaiki catatan untuk mengabdi ke negara, atau memikirkan rakyat justru malah mencari aman agar posisinya tidak jatuh.
Catatan Mata Najwa Tentang Politik Indonesia
Catatan Mata Najwa Tentang Politik Indonesia
Oleh karena itu diberi judul “Catatan Mata Najwa Demokrasi Galau”, ya sangat benar sekali kesalahan fatal ketika sebuah demokrasi dibuat untuk mencari kursi dan jabatan. Hanya mementingkan kepentingan dirinya daripada tujuan utama di adakanya demokrasi yakni untuk rakyat.

Pada Catatan Mata Najwa Episode ini sangat menjelaskan dengan sangat jelas bahwa, kursi kursi yang seharusnya mewakili rakyat, hanya berisikan manusia-manusia serakah akan jabatan. Rakyat dilupakan, hanya untuk memuaskan perut mereka.

Catatan Mata Najwa Tentang Politik Indonesia

Opening Kata Bijak Najwa Shihab Tentang Politik Indonesia
Usai pemilu presiden dan wakil presiden
Kegaduhan politik terjadi di parlemen
Kualisi merah putih menabalkan dirinya
Mengusung RUU perubahan bentuk pilkada

Muncullah polemik ditengah kita
Pilkada langsung atau tidak langsung
Menjadi tanda tanya
Pengusung mencampakkan pilkada langsung

Katanya boros dan menghasilkan
Ratusan kepala daerah masuk penjara
Petisi publik menilai itu kemunduran demokrasi
Kepala daerah akan berakhir

Jadi sapi perah partai dan politisi
Apa yang ideal telah bercampur dengan emosi
Efek perseteruan politik pilpres
Yang menghasilkan blok kualisi


Closing Kata Bijak Najwa Shihab Tentang Politik Indonesia
Pilkada langusng dan tidak langsung
hanya soal cara
mencari pemimpin yang bermutu
adalah tujuannya

Buat apa bertengkar
soal tata laksana
jika sistem kepartaian
justru pokok masalahnya

Pilkada langsung atau perwakilan
apakah bermakna
jika kepercayaan publik
terhadap partai dan parlemen
nyaris sirna

Partai seharusnya
elemen penting demokrasi
kini dicibir sinis
dan seolah kalah legitimasi

Partai memang ramai
dan gaduh beraksi
tapi sebenarnya
miskin partisipasi

Partai hanya aktif
menjelang waktu pemilu tiba
warga diajak terlibat
hanya 5 tahun sekali saja

Alih-alih mewujudkan partisipasi
partai dikendalikan
oleh segelintir orang
menjadi rumah oligarki

Bagaimana mencari pemimpin
dengan hemat dan bebas korupsi
di tengah kondisi kepartaian
berbiaya mahal
tapi miskin legitimasi

Sebelum kita bicara
urusan tata cara yang rumit
mari kita koreksi lebih dulu
sistem kepartaian kita yang sakit

Semoga kita diberi pemimpin yang amanat, yang benar-benar hanya mementingkan kesejahteraan rakyat, bukan mementingkan kepentinganya sendiri dan kita menjadi korban terus menerus tanpa henti. Indonesia harus bangkit. Merdeka!