Sajak-sajak yang tercipta dari pena sang binatang jalang terkenal berisi karakter pemberontakan, kematian, individualisme dan eksistensialisme. Chairil Anwar seperti anti untuk membuat sajak-sajak melankolis yang dapat menyentuh hati lawan jenis.

Chairil Anwar seorang pujanggan pelopor angkatan 45 yang dikenal dengan “sang binatang jalang” (dari karyanya yang berjudul aku) ini memang dikenal sebagai sosok yang urakan ala seniman, seperti yang disebutkan oleh Sri Ayati ketika ditanya tentang sosok Chairil Anwar, ia mengatakan “Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, karena kurang tidur. Ditangan kiri dan kanannya penuh buku-buku”. Memang Chairil dikenal sebagai kutu buku katanya,”.


Meskipun sama sekali tidak mempedulikan penampilan, Chairil rupanya memiliki daya tari tersendiri bagi lawan jenis sehingga tidak sedikit wanita yang mencoba mendekatinya, sampai ia membuat puisi sia-sia yang berisikan sebuah penolakan cinta dari seorang wanita.

Entah siapa wanita yang Chairil maksudkan dalam puisi sia-sia, apakah Sri Ayati yang mengganggu dengan senyumanya, lalu ada gadis Mirat yang lugu dan menyerah, Hapsah yang kemudian menjadi istrinya, Dien Tamaela kah, atau Ida?

Entah siapa wanita yang dimaksudkan Chairil pada puisi sia-sia, yang pasti dilihat dari judulnya saja sudah menggambarkan sebuah penolakan, sampai kalimat dibait terakhir “mampus kau dikoyak-koyak sepi” menjadi quotes sampai sekarang.

Puisi Sia-sia
Oleh: Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang mematikan :untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti.

Seharian kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Februari 1943

Pada buku “aku” karya Sjuman Djaya yang mengangkat perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar pada halaman 102, rupanya menjelaskan siapa sosok wanita dalam puisi sia-sia Chairil Anwar.

“Beberapa lintas wajah-wajah perempuan lain hampir bersamaan muncul... tapi sebentar saja hilang dan ruang menjadi kosong. Pada saat kosong ini figur semampai mengenakan gaun sutra yang melambai dan topi lebar dengan cadar hitam yang menutupi wajah -Ida”.

Sedikit mengulas tentang tema puisi sia-sia ini, cara melihat tema dalam puisi bisa dilihat dengan tiga cara: momen perbuatan, kontras, dan suara penjumlahan. Dengan memilih dari ketiga cara tersebut puisi sia-sia lebih memperlihatkan momen perbuatan.

Pada bait:
Sudah itu kita termanggu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti

Menceritakan perbuatan yang tidak ada gunanya, aku yang diam termangu, aku yang sudah tidak tahu, keseluruhan puisi ini menceritakan bagaimana seorang gadi yang datang menemui kekasihnya (Chairil Anwar) dan memberikan semuanya kepada sang kekasih.

Tetapi pada bait:
Seharian kita bersama:
Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau meberi
Menceritakan kedaan dan perbuatan Chairil Anwar yang menolak apa yang perempuan ingin berikan kepadanya, bisa jadi kerna hati sang binatang jalang masih tersimpan sosok Sri Ayati sang pujaan hati yang tidak bisa ia miliki lantaran sudah dijodohkan dengan seorang dokter pada waktu itu.

Sampai kisah cintanya yang diam-diam mencintai Sri Ayati ia abadikan dengan sajak “Senja dipelabuha kecil”, sajak itu tercipta ketika Sri Ayati berpesan kepada Chairil Anwar sejak saat itu Chairil tidak usah atau jangan datang kerumahnya, lantaran Sri Ayati sudah bertunangan dengan seorang dokter RH Soeparno.

Mendengar perkataan Sri Ayati, Chairil mundur membawa hatinya yang galau berjalan-jalan ke utara, menuju pantai, hingga sampai di pelabuhan sunda kelapa. Disana ia melihat suasana muram seperti suasana hatinya yang kemudian menulis sajak senja dipelabuhan kecil.

Ia curahkan semua sakit hatinya pada sajak itu, Sri Ayati sendiri tidak tahu bahwa dirinya dibuatkan sajak oleh Chairil, ia baru diberitahu oleh almarhummah Mimiek, puteri angkat mantan PM Sutan Syahrir. Yang pada waktu itu ia datang ke kediaman Sri di serang, dan pada waktu itu Sri sudah menikah dengan dokter RH Soeparno dan sudah memiliki anak satu. Menurut Sri, Chairil tidak pernah mengutarakan cinta kepadanya.