Diantara beberapa Puisi Rendra tentang percintaan, Puisi Kangen merupakan puisi pamungkas yang menceritakan keadaan Rendra pada saat itu, dimana ke-galauan rendra ia curahkan di puisi kangen ini.

Puisi kangen karya Rendra juga merupakan yang jarang dijumpai dibanding sederetan karya-karyanya, Puisi kangen menggunakan bahasa yang sederhana (bahasa sehari-hari). Berbeda dengan kebiasaan rendra yang hampir semua karyanya menggunakan majas metafora.


“Sang Burung Merak” memiliki kisah percintaan yang dahsyat dari ke-tiga isterinya (Sunarti Suwandi, Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat dan Ken Zuraida) dan menurut kebanyakan sastrawan, inilah bentuk kerinduan sang rendra yang ditinggalkan oleh ke-dua isterinya.

Kangen 

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berati
aku tungku tanpa api.

Oleh: W.S Rendra


Pada puisi kangen rendra ini juga teman-teman bisa lihat perbedaan dari puisi-puisi romantis karangan rendra yang kebanyakan sangat panjang, kita bisa menyebutkan beberapa judul seperti  “...Mazmu Mawar, Kutulis Surat Ini, Aku Tulis Pamplet Ini, dan Pamplet Cinta” semuanya panjang dan di tingkat kerumitan yang berbeda.

Sajak ini ia masukkan kedalam “Kumpulan Empat Sajak” dan puisi kangen merupakan satu-satunya diantara puisi-puisi lainnya yang berisi delapan baris, tetapi paling mewakili perasaan rendra seperti dalam bait “aku tungku tanpa api” yang berarti “Tungku Tanpa Api Adalah Kesepian/Sepi”.

Sedangkan Puisi Kangen menggunakan terdiri dari delapan baris, yang merupakan kategori stansa/puisi delapan seuntai yang tidak menggunakan kata-kata yang rumit seperti yang dijelaskan diatas. Mari kita bedakan puisi kangen dengan puisi “NOTA BENE: AKU KANGEN” yang memiliki kependekan baris yang tidak jauh, tetapi dari segi kerumitan kata sangat jelas.

Perbedaan Puisi “Kangen” dan “NOTA BENE: AKU KANGEN” Karangan W.S Rendra
Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana,
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.

Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandan
Untukmu hidupku terbuka.
Warna – warna kehidupan berpendar – pendar menakjubkan
Isyarat – isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan

Perbedaan yang sangat mencolok ketika membandingkan kedua karya rendra tersebut, diksi yang ditampilkan pada puisi kangen misalnya, bisa dibilang lebih merakyat, untuk mengajak pembaca atau pendengarnya merasakan apa yang ia rasakan, kompleks tetapi semua bisa merasakan dengan bahasa yang ringan.

Seperti biasanya, sajak yang ditulis rendra mengandung majas metafora yang kompleks, tetapi tidak dengan ini, ia menggunakan metafora pada “...cinta telah sembunyikan pisaunya” yang bermakna perasaan senang dapat menyembunyikan sekaligus menghapus perasaan sakit. Metafor disini dapat diartikan dengan bebas dan jika diartikan akan memiliki makna yang sempit.

Berbeda dengan Puisi NOTA BENE :  AKU KANGEN yang memiliki metafor yang rumit, seperti “...anak-anak kita akan lahir di cakrawala” bait puisi ini jika diartikan akan menjadi sangat luas, bisa berarti “Kedahsyatan Cinta” dan lainnya.

Jika dibongkar terus lagi, sajak rendra yang hanya memiliki delapan bait itu akan memunculkan makna-makna yang lainnya yang lebih luas, dari sudut pandang pemikiran rendra atau kita yang membedahnya.

Itulah kedalaman dari Puisi Kangen Karangan W.S Rendra semoga dapat menjadi dorongan untuk terus selalu berkarya dalam sajak cinta yang asyik.