Puisi Hujan di Bulan Juni yang fenomenal pada tahun 1989 akhirnya dibuatkan novel yang memiliki judul yang sama, dan sang Sapardi Djoko Damono mengadaptasi puisinya ke dalam novel hanya membutuhkan waktu 5 Bulan…

Sangat luar biasa, dari puisi ia tuangkan kedalam novel hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah tahun, bahkan menerbitkan kembali dari trilogi dari hujan di bulan juni. Seperti yang sudah diketahui, pertama kali novel tersebut terbit pada bulan November tahun 2015 silam.

Seperti yang dikatakan Sapardi pada awal keluarnya novel tersebut, siapa tahu nanti keluar trilogi dari hujan di bulan juni, itu Namanya kreatifitas. Dan terbukti di usia yang sudah tua ia tetap aktif berkarya.

Puisi-puisi Pada Novel Hujan di Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono

Pada Novel tersebut banyak terselip puisi-puisi yang menusuk hati, ada juga beberapa puisinya yang ia masukkan kedalamnya.

Berikut kumpulan puisi-puisi pada novel hujan di bulan juni karya Sapardi Djoko Damono:


“Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku tak kan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu”

Oleh:Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya”

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


“Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. Ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.”

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


“Kita berdua saja duduk,
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput,
Kau entah memesan apa,
Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras,
Kau entah memesan apa,
Tapi kita berdua saja duduk,”

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


Sementara Kita Saling Berbisik

Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angka

Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
(1966)

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


Jarak

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit; kosong sepi”

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput —
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras —

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.
(1989)

Oleh: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Itulah kumpulan puisi-puisi yang ada pada novel hujan di bulan juni yang menusuk hati, dan tidak heran jika dari novel dibuatkan film yang sangat istimewa. Teruslah berkarya bung Sapardi, usia boleh menggerogoti jasad, tetapi sukmamu terus memproduksi hal-hal yang menginspirasi banyak orang banyak di tanah air. Kata-kata tidak pernah mati.