Puisi Kau Ini Bagaimana Gus Mus - K.H Achmad Mustofa Bisri atau yang sering kita dengar dengan sebutan Gus Mus merupakan ulama, sastrawan, dan penulis yang antik.

Ia menggemari dunia tulis menulis sejak usia remaja dan tulisannya sudah di muat di berbagai media terkenal seperti kompas, tulisannya pertama kali di muat pada tanggal 9 Januari 1997.

Puisi Kau ini Bagaimana Gus Mus, Puisi Gus Mus, Gus Mus, KH Mustofa Bisri, Puisi
Puisi Kau Ini Bagaimana Gus Mus
Kemudian pada tahun 1980 gus mus mendapatkan banyak pujian dari kalangan sastrawan pada waktu itu karena pentas baca puisinya yang sangat menarik sampai di juluki “bintang baru” dalam ke penyairan indonesia.

Tidak heran puisi-puisinya sangat nyentrik dan elegan sebagai cerminan kritik pemerintahan pada waktu itu. Salah satunya yang berjudul “Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana” yang sangat relevan untuk media kritisi dari jaman ke jaman sampai sekarang.

Sajak Puisi “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” 
Kary: KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Oleh : Gus Mus
Tahun Pembuatan : 1987

Jelas sekali dari isinya ini ketajaman seorang gus mus dalam mengkritisi dengan media puisi sangat kontras tidak seperti layaknya para sastrawan pada waktu itu yang menggunakan kiasan untuk mengkritik pemerintahan. Inilah yang membuat setiap baitnya lebih bermakna dan di terima oleh semua kalangan.

Pada awal tahun 2016, dunia puisi di gegerkan dengan puisi “Tahlil” yang gaya penulisannya sama persis dengan “Kau ini bagaimana atau aku harus bagaiman”, entah siapa yang membuat tetapi sampai saat ini orang-orang beranggapan bahwa karya itu miliki gus mus.

Puisi yang berisi kritik untuk golongan yang tidak menyukai kegiatan spiritualitas golongan lainnya itu sudah beberapakali di klarifikasi oleh gus mus di akun twitternya bahwa itu bukanlah karyanya, tetapi masih banyak orang yang tidak percaya.
Puisi Tahlil (Bukan karya Gus Mus)

Aku Pergi Tahlil, kau bilang itu amalan Jahil
Aku Baca Shalawat Burdah, kau bilang itu bid’ah
Lalu aku harus bagaimana…?
Aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik
Aku ikut majlis dzikir, kau bilang aku kafir
Lalu aku harus bagaimana…
Aku sholat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat
Aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
Lalu aku harus bagaimana…?

Aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah
Aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan
Lalu aku harus bagaimana…?
Aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membwa kebaikan
Aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

Ya Sudahlah… aku ikut kalian…

Kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang
Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
Kan ku hitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad
Kan sering ku menghujat, biar dikira hebat
Kan sering ku mencela, biar dikira mulia
Ya sudahlah…

Aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah…