Ditinggal sang kekasih dengan sejuta kenangan yang pernah dilalui bersama, baik senang, dan bersama membuat kita sangat galau karenanya, tidur, makan dan beraktifitas rasanya hampa. Kegalauan yang acap kali datang pun sangat menyiksa, apalagi ketika kenangan yang pernah dilalui bersama datang mengalir begitu saja.

Menyita waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu untuk menangisi kepergian kekasih yang meninggalkan. Kegalauan ditinggal sang kekasih sendiri acapkali berhasil dengan kita mencari kata-kata atau puisi yang mewakili perasaan kita terhadapnya, entah disengaja atau tidak.

Puisi Galau Yang Menyayat Hati Untuk Kekasih

Dengan begitu, kita bisa memberi tahu bahwa perasaan yang sedang kita rasakan bisa tersampaikan oleh puisi tersebut untuk pasanga, dan tidak sedikit pasangan kembali lagi, setelah ia melihat puisi yang anda bagikan melalui media sosial ataupun surat. Oleh karena itu, puisi galau ini hadir, dengan harapan ada harapan untuk pasangan anda kembali lagi kedekapan.

Yang Tidak Kau Ceritakan

Untuk yang belum mengerti,
Bahwa cara anggrek dan melati untuk tumbuh kembali itu tidak sama,
Bahwa siang dan malam sama terangnya, berdasar sudut pandang mana,
Bahwa cinta itu bukan tentang keegoisan untuk memiliki,
Bahwa pergi itu bukan tentang menyakiti.

Perihal kasih dan peduli saja,
Pikiranmu terlalu hampa bila hanya melihat tanpa merasa.

Menanggalkan bukan karena bungamu layu,
Aku hanya ingin bunga itu tetap bisa tumbuh, bertahan hanya membuatnya cepat sayu.
Sebab hanya hujan yang menyirami, lalu kau menyalahkan aku.
Aku kehabisan karbondioksida, jika kau baru akan membaginya— maaf itu terlambat bagiku.

Setidaknya bunga dapat berdiri tegak, ketika akarnya mampu.
Bagaimana bila akarnya beradu, saling melemahkan lalu membisu?
Atau dedaunan yang sebagian memilih jatuh, bukan sebab ingin tetapi perlu?
Untuk apa terlihat ranum, jika wanginya perlahan memudar— sama-sama ragu.

Jika sayu kemudian layu bukan lagi pilihan,
Jika ragu sudah mematahkan ranting harapan,
Jika sendu telah meretakkan dahan untuk bertahan,
Dan juga hal-hal yang tak bisa dipaksakan?

Aku rasa, semesta lebih paham harus membawa kemana,
Pun kita hanya bisa menanam rasa?
Menyirami lalu berharap akan tumbuh percaya.
Dan, yang patah tumbuh yang hilang berganti— ucap Banda Neira.

Terakhir, aku kini hanya berharap sederhana,
Bahwa kelak, aku dan kau dapat mekar dan ranum lagi— meski di musim berbeda.
Setelah taifun dan hujan yang enggan mereda,
Aku pergi dari Desember, menjemput Januari dengan segala yang akan terjadi— semoga tidak tersesat pada fana yang pertama.

Oleh: destrafalso


Pe(patah)

Bila yang patah tak pernah tumbuh,
dan yang hilang tak pernah berganti.
Masihkah juga kau sediakan payung
sebelum hujan datang membasahi?

Bila air susu tak pernah dibalas dengan
air tuba, masihkah kau sanggup melempar
batu lalu menyembunyikan tanganmu?

Bila rajin pangkal pandai,
dan malas pangkal bodoh.
Mengapa rajin merindu hanya
membuatku semakin bodoh?

Bila ada gading yang tak retak,
masihkah hatiku kau buat rusak?

Berat biar kupikul,
ringan biar kau jinjing.
Bumi biar kupijak,
langit biar kau junjung.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Berteman sepi kemudian

Oleh: Arif Rahman Setio,


yang pernah patah.
Medan, 2017

mari kita kebiri,
daripada terus begini,
cintamu telah mati,
dan aku berdiri sendiri.

lebih baik kebiri,
tak usah rasakan cinta lagi,
apabila cinta itu bukan dari kamu; yang aku nanti.

Oleh: Rajaaamuh

Kamu;

Persis seperti anak kecil
Di depan pintu

Menghalangi perginya
Langkah kaki
Junga enggan masuk
Ke dalam hati

Oleh: Mutiara R.N


Hari Terakhir Mengingatmu

Ada yang diam-diam datang ketika malam semakin kelam. Rupanya tak pernah kukenal, atau sengaja tak kuhapal—karena sungguh, ada hal yang lebih penting untuk kuingat daripada kamu yang pernah membuat hatiku terasa hangat.

Dan saat mentari datang di pagi hari, ada sesal yang menggerogoti dan perihal hujan yang jadi saksi bahwa matamu sumber dari semua diksi. Perihal aku yang tersadar sudah setahun sejak bulan ketujuh tahun lalu. Saat hujan menjadi teman saat kita bertemu, dan tatapan matamu yang menjadi sebuah candu.

Lalu, tentang siangku yang tak lagi berseri. Tentang burung-burung merpati yang sekarang bersembunyi. Seperti halnya kamu yang kini tak ingin kembali—mencoba lari dari segala puisi yang kuberi.

Dan akhirnya, ketika senja tak lagi bicara tentang indahnya sebuah rasa, aku berusaha untuk tidak lagi mengumbar-umbar nestapa. Aku akan berkata pada dunia, kalau aku baik-baik saja, dan sudah melupakan semuanya—tentang kamu dan juga kita.
.
.
Semoga saja.
Juli
Jakarta, 2017