Galau karena cinta memang tidak biasa rasanya, karena berurusan dengan hati dan seribu kenangan manis bersama mantan pasangan anda, bahkan jika harus memilih sakit karena patah hati atau sakit gigi, mungkin lebih memilih sakit gigi.

Karena obat galau karena cinta tidak mudah mencarinya, apalagi jika seseorang tersebut sudah menjalani sekian tahun dalam proses pacaranya. Setiap aktifitas yang melibatkan mantan pasangan, yang akan terus terngiang.

Puisi Galau Sekali Karena Cinta

Tetapi ada salah satu cara ampuh yang bisa meringankan kegalauan,yaitu dengan memberikan puisi galau kepada mantan pasangan untuk menyampaikan perasaan dihati.

Bisikan Malam Itu

Malam itu kamu berbisik,
di hadapan telingaku.
Kamu berkata—aku tak cinta.
Setelah itu aku pergi
tanpa menatapmu lagi.

Pergi menghilang dalam gelap,
terisolasi sepi,
dan sendiri menepikan hati.
Istirahat sejenak hingga kembali pulih.

Aku tak pulang padamu,
tapi aku cari rumah baru.
Yang nyamannya melebihi kamu.
Percayalah aku tak tahan melihatmu begitu.

Aku tak pandai memahami wanita,
tapi aku percaya, teka-tekimu buatku gila.
Terkadang kamu isyaratkan cinta,
terkadang juga isyaratkan aku 'tuk pergi jauh ke Sahara.

Kenapa kamu tak perjelas ini semua,
agar aku bisa memutuskan pilihan:
Tetap bertahan atau pergi,
tetap menyala atau padam,
dan tetap mencinta atau hilang selamanya.
Malam itu kamu berbisik,
di hadapan telingaku.
Kamu berkata—aku tak cinta.
Setelah itu aku pergi
tanpa menatapmu lagi.

Pergi menghilang dalam gelap,
terisolasi sepi,
dan sendiri menepikan hati.
Istirahat sejenak hingga kembali pulih.

Aku tak pulang padamu,
tapi aku cari rumah baru.
Yang nyamannya melebihi kamu.
Percayalah aku tak tahan melihatmu begitu.

Aku tak pandai memahami wanita,
tapi aku percaya, teka-tekimu buatku gila.
Terkadang kamu isyaratkan cinta,
terkadang juga isyaratkan aku 'tuk pergi jauh ke Sahara.

Kenapa kamu tak perjelas ini semua,
agar aku bisa memutuskan pilihan:
Tetap bertahan atau pergi,
tetap menyala atau padam,
dan tetap mencinta atau hilang selamanya.


U45L

Beri aku waktu sebentar, untuk mendeskripsikan kamu
Kamu, yang berdiri di ujung garis fungsi polinom
Mendekatimu, naik lewati titik balik maksimum
Sampai satu waktu, kita stasioner
Lalu kamu bosan

Katamu, kita sudah sampai limitnya
Walaupun aku faktorkan, kita tetap saja nol
Titik balik maksimum lewat, kita hanya turun
Stasioner, lalu turun lagi
Tidak bisa diperbaiki

Sampai aku sadar
Kamu memang domain, tapi aku bukan lagi kodomainmu
Karena sejauh apa, garis kita tak lagi bersinggungan
Mungkin, sejak awal gradien kita memang berbeda
Hanya berpotongan di satu titik, tidak bisa beriringan

Tapi garis fungsi naik lagi, dan kamu memintaku kembali
Katamu semua salahmu, meminta peluang kita mengulang
Dan untuk kesekian kali, peluang itu tak pernah ada
Bedanya kali ini, kamu akhirnya sadar
Bahwa mengerjakan kalkulus lebih mudah dari memintaku kembali 

Oleh: Analogi rasa matematika,


Asd

Saya terlalu sibuk menabur benci
Sampai lupa untuk membuka hati, 
lagi.

Sedangkan kamu
Terlalu riweuh menebar janji
Lalu bingung dan bertanya sendiri;
"Mana yang harus dibenahi?"

Oleh: Prn


Haruskah

Haruskah kau pergi disaat air dapat
     meredam kobaran api yang dulu
     membara dalam tandus rasa? 

Haruskah kau acuh saat pelangi dapat
     mewarnai mendungnya lautan awan
     karena derasnya nelangsa? 

Haruskan kau berlari saat hujan dapat
     memberikan asa bagi dunia ditengah
     keringnya sentuhan sukma? 

Haruskah kau benamkan mimpi saat aku
     telah berharap dan istiqomah untukmu
     dalam setiap bisikan kata pada-Nya? 

Oleh: Tio Agung Rianto


Hitungan Kamu

Satu tambah satu,
Kamu.

Dua tambah dua,
Dia.

Tiga tambah tiga,
Siapa?

Empat kurang empat,
Bulat.

Lima kurang lima,
Manusia.

Lalu apa yang jadi selanjutnya?
Dalam kotak silakan kau buka sendiri,
Dengan tanganmu saja, tidak perlu bantuan yang lain.

Sebab bumi ingin meledekmu.
Sebab hujan ingin mentertawaimu.
Sebab awan pun ingin meneriaki 'mampus kau!'

Ha. Ha.
Sudah puas bercengkrama dengan kebodohannya?

Ayo lagi,
Aku 'kan juga ingin memaki!


Oleh: han
Kesabaran ku

Selalu aku yang chat lebih dulu
Merayu, mencari topik agar bibirmu tak layu
Bertanya, memberi perhatian
Seakan akulah dokter dan kamu pasiennya
Yang jikalau kamu bersin sekali saja
Akulah orang yang paling bertanggung jawab

Meminta maaf, padahal salahmu
Jalan bersama teman priamu, tanpa aku tau
Wajar kalau aku marah
Tapi entah kenapa
Pada akhir cerita
Itu semua jadi salahku

Aku sudah rendah sekali
Padahal sejak kecil
Aku ingin menaikkan derajat orang tuaku
Tapi menunjukkan harga diriku pun
Aku tak mampu

Ah
IP ku mungkin tinggi
Tapi di hadapan wanita
Aku lembek seperti tai

Oleh: Adwicahya.