Sosok Chairil Anwar dikenal memiliki karya yang tidak biasa pada zamannya, pada waktu itu kebanyakan karya puisi melankolis, tetapi ia datang dengan karya dengan kata-kata yang merong-rong dan frontal, sampai ia dijuluki “Sang Binatang Jalang”.

Julukan tersebut dapatkan karena bukunya yang ia namai “Aku ini Binatang Jalang: Koleksi sajak 1942-1949”.

Apakah semua karyanya anti melankolis atau romantisme seperti yang dibicarakan?


Benarkah begitu?
Tidak juga.

Terbukti banyak sekali kumpulan puisi cinta Chairil Anwar untuk sang pujaan hatinya yang berisikan perjalanan cintanya kepada seseorang, tetapi hanya sedikit orang yang memahami bahwa itu adalah puisi cinta.

Seperti karya “Senja di Pelabuhan Kecil” ia buat untuk menjelaskan perasaannya yang ia pendam dengan baik untuk “Sri Ayati” sang pujaan hati.

Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar

Kepada Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Oleh Chairil Anwar 1946

Seorang “binatang jalang” jatuh cinta kepada Sri Ayati gadis kelahiran Tegal, yang dibawa ayahnya tinggal di Jakarta. Chairil Anwar bukan manusia tanpa sebab mencintai Sri Ayati, entah ia jatuh cinta kepadanya dilihat dari sisi yang mana? tetapi jelas sekali sri ayati tidak umum, cantik!
Faktanya...

Menurut Sri Ayati “Saya tahu dari Almarhum Mimiek, anak angkat Sutan Syahrir, bahwa Chairil Anwar untuk saya ”

Ia tahu persis ada laki-laki disana yang diam-diam sedang jatuh cinta kepadanya, “.... Saya tahu Chairil mencintai saya, namun tidak pernah mengatakan bahwa ia suka pada saya”.

Bisa dilihat kelanjutan kisah cinta Chairil Anwar yang memperjuangkan kisah cintanya dengan diam-diam, mereka tidak bersatu.

Sampai sri ayati menikah dan chairil masih sendiri.
Puisi “Panggilan Hatiku” sangat gamblang menjelaskan perjuangan cinta dari sesosok Chairil Anwar

Puisi “Panggilan Hatiku” karya Chairil Anwar

Aku memanggil hatiku
tapi tidak ada yang mendengar.

Panggilan bersorak lagi
tapi masih tidak ada jawaban.

Sekali lagi... tapi kali ini lebih keras,
... tidak berhasil.

Mencoba sekali lagi
hanya untuk gagal.

Berhenti berfikir
haruskah itu kucoba lagi?

Setelah beberapa saat
Aku memanggil lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Tapi terus ku memanggil.

Dan pada waktu mulai ragu,
Aku tetap memanggil
karena itulah makna dari cinta

Dari kedua puisi cinta chairil anwar diatas bisa kita lihat, sajak cintanya berisikan “cinta bertepuk sebelah tangan” dari cinta yang ia rahasiakan bersama kata-kata.

Pada akhirnya Sri ayati menikah pada tahun 1944 dengan dr. R.H Soeparsono ...
Tidak mudah ketika melihat seseorang yang dicintai menikah begitu saja dengan orang lain, apalagi dengan perasaan yang bisa dibilang tak sampai. Chairil menuangkan semua perasaanya dengan puisi-puisi Galau bisa dikatakan seperti itu ala-ala anak jaman sekarang.

Keluarlah Puisi “Belum Jodoh” yang menjelaskan kegaduhan hati Chairil Anwar untuk Sri Ayati yang menurut bait didalamnya “... Membuat berjam-jam sendiri sangat terasa” “...Aku gemetar... Aku mau kamu hanya untukku”

Puisi “Belum Jodoh” karya Chairil Anwar
Begitu dekat, hanya belum kelar tujuan yang dicapai
Setiap momen berjalan menunggu alunan dari suaramu

Kenikmatan sirih kurasakan ketika di sampingmu
Meskipun selera bibirmu tidak menyentuh pipiku

Pandangan matamu penuh api yang bergairah
Kenangan yang telah kita buat, ah cinta belum datang

Membuat berjam-jam sendiri sangat terasa
Aku gemetar... Aku mau kamu hanya untukku

Apa aku punya selera mimpi pria
Cinta yang semua harapkan

Aku kepunyaanmu sendiri
Sampai waktu meninggalkan dunia ini
Dan hatiku seperti anggur sampai waktu berakhir

Kemudian Chairil Anwar akhirnya bisa move on dan menikah dengan Hapsah Wiriaredja wanita asal Karawang pada tahun 1946, dan dikaruniai seorang anak “Evawani Alissa”.

Dari puisi cintanya Chairil Anwar kita dapat belajar banyak hal, ketika kita mencinta seseorang kita harus menerima resiko semuanya, sampai pada di penghujung perjuangan, kita menikah dengan dirinya atau ia menikah dengan orang lain, karena itulah hakekatnya cinta.

Itulah cerita cinta sang binatang jalang yang ia abadikan dengan sajak-sajak yang indah yang membuat semua orang dapat merasakan apa yang ia rasakan pada waktu itu.

Ada yang bilang “Jika kata-katamu belum indah, tandanya kamu belum pernah sakit hati” memang seperti itu adanya.
Belajarlah menerima, jangan galau terus. Chairil Anwar saja bisa move on. Masa kita tidak?