Joko Pinurbo merupakan sosok sastrawan yang dikenal sebagai seorang yang humoris. Ia memiliki karya-karya yang unik, baik itu pada puisi maupun esai yang ia tulis, seperti mencerminkan seorang Jokpin. Joko Pinurbo sendiri mulai menulis pada usia 20-an, meskipun sejak remaja sosok jokpin muda sering sekali membaca puisi.

Ketika mulai fokus berkarya dalam perpuisian Indonesia, Jokpin harus berhadapan dengan sastrawan hebat dari mulai Sapardi sampai Rendra. Sehingga menurutnya “saya banting stir, belok ke kiri. Kerna kalau ikutan lurus seperti Sapardi, Rendra dan yang lainya tidak bisa saya sampai duduk ditaman Ismail Marzuki” ungkapnya.


Banyak yang menikmati karya jokpin kerna dalam menulis puisi ia kerap sekali mencampurkan antara realita dengan impian dan karya-karyanya yang menggunakan objek sehari-hari seperti kamar mandi, telepon genggam, sarung, celana, yang kemudian menjadi ciri khas jokpin dalam dunia perpuisian Indonesia.

Belakangan jokpin mengaku bahwa dirinya sedang membuat karya yang menggunakan permainan Bahasa Indonesia. Terlihat sekali dari karyanya Puisi Kamus Kecil yang menggambarkan begitu gembiranya jokpin bermain-main dengan kata-kata Bahasa Indonesia.

Puisi Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
walau kadang rumit dan membingungkan.
Ia mengajari saya mengarang ilmu
sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih
bahwa ingin berawal dari angan
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
bahwa segala yang baik akan berbiak
bahwa orang ramah tidak mudah marah
bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
bahwa seorang bintang harus tahan banting
bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila
bahwa orang putus asa suka memanggil asu
bahwa lidah memang pandai berdalih
bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

Ketika induk kalimat bilang pulang
anak kalimat faham
bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung

Ruang penuh raung, segala kenang tertidur di dalam kening
Ketika akhirnya matamu mati,
kita sudah menjadi kalimat tunggal
yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal
Oleh: Joko Pinurbo

“saya sekarang sedang mengerjakan puisi-puisi yang menunjukan keunikan Bahasa Indonesia, saya bermain dengan kata-kata Bahasa Indonesia. Oh, ternyata Bahasa Indonesia itu luar biasa, jadi saya ingin menunjukan bahwa Bahasa Indonesia masih menyimpan potensi yang menarik untuk digali oleh para penyair.” Ujarnya saat berbincang pada ASEAN Literary Festival di Taman Ismail Marzuki bersama Sapardi Djoko Damono dan Najwa Sihab sebagai host.

Bukan jokpin jika karya-karyanya menggelitik, Puisi Kamus Kecil ini memiliki permainan bunyi yang menarik sehingga mudah dilafalkan. Menurut Sapardi Djoko Damono “Puisi itu bunyi, bahwa Bahasa itu bunyi, itukan permainan bunyi.” Itulah kenapa puisi karya joko pinurbo ini sangat menarik perhatian, bahkan sang Sapardi Djoko Damono sendiri ikut menikmati ketika jokpin membacakan puisi tersebut.

“Puisi itu bunyi sebenarnya, kalau dalam kasang adat jawakan puisi itu ditulis dalam bentuk tembang, seperti dangdang gulo, kinanti. Puisi itu harus dinyayikan, dalam diri puisi itu sendiri ada bunyi.” Lanjut Sapardi.

Sebenarnya bukan hanya Joko Pinurbo yang memiliki puisi yang bermain-main dengan kata-kata Bahasa Indonesia dan memiliki nada yang asik, ada juga Gus Mus dengan puisi “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” yang bermain denga kata-kata, memiliki nada yang enak dan makna yang luar biasa.

Seperti makna yang disampaikan oleh puisi jokpin diatas yang tidak akan lekang oleh waktu,
kata-katanya akan memasuki ke semua elemen masyarakat
Ia merasuk bagaikan bayang bayang yang tidak pernah hilang dari tuanya
Kerna disetiap bait-bait puisinya mewakili fenomena atau peristiwa kehidupan sehari-hari, gembira, sedih, kecewa, semangat, dan memiliki unsur penyemangat.

Semoga karya-karya puisi Joko Pinurbo segera bisa dinikmati oleh semua penikmat sastra di Indonesia, dan menjadi inspirasi bersama untuk selalu berkarya dengan fenomena kehidupan sehari-hari kita.