Dari kekuatan tuhan untuk WS Rendra di dunia sastra khususnya dalam puisi sangat memikat dan menggetarkan semua sukma, bagaimana tidak baru melihat judulnya saja sudah sangat mempesona dan tidak sabar untuk menyelam kedalam kata-kata di setiap bait sajak-sajak ciptaanya.

Tema puisinya pun beragam dan mencakup semua elemen kehidupan, dari cinta sampai agama dari kehidupan sampai kematian, bahkan tidak jarang ia sering mempuisikan tuhan dengan sangat indah dan juga lirih, yang terdapat di kumpulan puisi yang ia namai “Mazmur Mawar dan Sajak-sajak Sepatu Tua”.

 Mengoyak Puisi Mazmur Mawar Oleh W.S Rendra

Mengoyak Puisi Mazmur Mawar Oleh W.S Rendra

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar.
Kia muliakan Tuhan yang manis,
Indah, dan penuh kasih sayang

Tuhan adalah serdadu yang tertembak

Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.

Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk.
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur.

Tuhan berada di gang-gang gelap.
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh

Tuhan adalah teman sekamar para penjinah.
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi

Wajah tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar

Tuhan telah terserang lapar, batuk dan selesma,
Menangis di tepi jalan.

Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, pengangguran, dan peminta-minta

Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
Oleh : W.S Rendra
Dari : Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka Jaya


Membicarakan seorang WS Rendra memang tidak akan pernah habisnya, dari sejarah kehidupannya, perjalanan sepiritualitasnya apalagi karya-karyanya di dunia sastra yang sudah tidak terhitung lagi banyaknya dan semuanya memiliki daya magnet yang sangat kuat entah itu naskah teater, sajak ataupun sekedar cerpen buatanya, semuanya mengilhami penikmatnya.

Bakat rendra dalam dunia sastra sudah bisa terlihat semenjak ia remaja. Ketika masih  belajar di kelas dua SLA (Sekolah Lanjutan Atas) tahun 1954 ia sudah membuat naskah drama, cerpen, bahkan sajak-sajak luar biasa, yang pada tahun 1957 di terbitkan yang ia namai Balada Orang-orang Tercinta. Benar saja kumpulan sajaknya itu langsung mendapatkan penghargaan dan hadiah dari Badan Kemusyawarahan Kebudayaan Nasional.

Sebenarnya sebelum tahun 1957 Rendra sudah sering mendapatkan hadiah atas karyanya, salah satunya pada tahun 1954 ia mendapatkan hadiah dari Kementerian PD & K karena naskah drama yang ia namai “Orang-orang di Tikungan Jalan”.

Puisi-puisinya yang dibalut oleh majas yang sangat murni, jelas dan sangat puitis layaknya pujangga dalam bentuk kata-kata sangat membesarkan namanya Willybrodus Surendra Broto menjadi W.S Rendra, sering kali di panggil Mas Willy atau cukup rendra.

Orang acapkali menganggap rendra merupakan keturunan asli solo, padahal sebenarnya ia dilahirkan dari seorang ibu dan bapak yang memiliki darah asli Yogjakarta, bahkan ibunya dulu merupakan seorang penari di Keraton Yogyakarta, jiwa seni itulah yang mengalir di rendra.

Kedua orang tua rendra jelas sekali seorang yang intelektual, karena keduanya merupakan seorang guru, ayahnya mengajar bahasa Indonesia sedangkan ibunya mengajar bahasa Jawa. Bisa terlihat dari rendra yang tidak mau diam ketika ingin di stir oleh pemerintah pada waktu itu. Apalagi semenjak Rendra pulang dari mampirnya selama tiga tahun di Amerika Serikat.

Selama tiga tahun disana ia mempelajari ilmu-ilmu sosial yang sangat mempengaruhi pemikirannya, sang rendra kemudian tertarik dengan isu-isu sosial yang sedang berkembang waktu itu, ia tuangkan dalam karya puisi yang ia namai Blues untuk Bonnie yang me-rendra banget dengan ciri khasnya menggunakan bahasa sehari-hari untuk beberapa puisinya.

Sepulangnya rendra dari Amerika, ia sangat tertarik sekali dengan perpolitikan bangsa yang carut marut dalam kumpulan puisi-puisi “Bendera Pamflet Penyair”.

Puisi-puisinya sekarang ini tidak hanya bertengger di negeri ini, puisinya sudah banyak diterjemahkan di berbagai bahasa, Jepang, Rusia, Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman. Bahkan “Pamflet Penyair” diterjemahkan dan di gali oleh seorang profesor terkemuka dari belanda yaitu profesor teew.

Puisi rendra juga lekat dengan unsur filosofis, seperti puisi yang berjudul “Disebabkan Oleh Angin” yang jika di teliti memiliki nilai etis-filosofis.

“Kesadaran hidup adalah pemberontakan
Hidup tidak hanya untuk hidup
Kita hidup untuk menerima kehidupan”.
“Hidup bukan perlawanan”.
“Hidup ialah mempergunakan kesempatan”.
“Hidup adalah berlomba dengan mati”.
“Hidup itu seperti teka-teki”.
“Hidupku adalah kekuatanku”

Oleh: W.S Rendra