Cak Nun merupakan sosok yang menggelitik masuk disetiap golongan, menjadi simbol mahluk yang sedang mencari jati diri dan simbol perjuangan tanah air masa kini, yang memiliki pengetahuan luas seperti samudera yang tidak bertepi, sejarah, politik, budaya, ulama (sebagian orang meyakini itu) dan sastra menjadikannya sarang rujukan untuk setiap generasi ke generasi.

Khususnya dalam dunia sastra ia seorang pejuang dengan puisi-puisinya, dan naskah teaternya, maklum saja Emha Ainun Nadjib muda seorang pujangga yang berguru kepada sufi muda dan misterius sang Umbu Landu Paranggi yang hidupnya kebanyakan ia habiskan untuk kata-kata.

Mengikat Puisi Cintaku Karya Cak Nun

Cak Nun muda hanya pesayembara yang berkelana di kota Malioboro Yogyakarta, tercatat dari tahun 1970-1975 ia belajar intens kepada gurunya itu. Dari sinilah muncul karya-karyanya yang melegenda, puisi-puisinya, kata-kata mutiaranya sampai naskah teaternya.

Muatan puisinya sangat dekat dengan seorang yang sedang mencari jati diri dengan tuhannya, dengan sentuhan jalan sufi dan tidak jarang juga dijumpai kritisi untuk pemimpin negeri.

Mengikat Puisi Cintaku Karya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
Katakan padanya bahwa cintaku tak
diikat dunia

Katakan bahwa dunia pecah
ambruk dan terbakar jika
menanggungnya

Dunia sibuk merajut jeratan-jeratan
mempersulit diri dengan ikatan-ikatan
dimuati manusia yang antre panjang
memasuki sel-sel penjara

Katakan padanya bahwa kasih sayangku
tak terpanggul oleh ruang waktu
katakana bahwa kasih sayangku
membebaskannya ke tuhan

Ruang tata hidup, perkawinan,
kebudayaan dan sejarah
adalah gumpalan sepi,
dendam dan kemalangan

dan dika semesta waktu hendak
mengukur cintaku,
katakana bahwa ia perlu berulangkali mati
agar berulangkali hidup kembali

Itulah gaya sang cak nun dalam penulisan sajak, menggebu dan mendayu menjadi satu menjadikan alunan kasih dan cintanya yang tidak melow, tetapi tetap menonjolkan sisi feminimitas dari sajaknya.
Apalagi untuk urusan sajak yang mengarak kepada agama, keluasan ilmu cak nun mencakup semuanya, dari malaikat sampai sahabat rasul ia bikin beberapa kali. Inilah menunjukkan bahwasanya seorang ulama bisa berkarya untuk dunia sastra.

Tidak hanya dalam penulisan sajak ia piawai, tetapi dalam pembuatan naskah sampai kata-kata hikmah (kata mutiara) karya cak nun sangat memikat apalagi kebanyakan karyanya merupakan unsur kritikan untuk tingkah manusia sekarang.

Kita ambil saja salah satu judul naskah teaternya, yang ia beri nama “Geger Wong Ngoyak Macan” dan berbagai macam judul buku dan essainya yang memberikan nuansa berbeda seperti judul bukunya yang ia namai “Slilit Sang Kyai” Tahun (1991) dan “Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan” (diterbitkan oleh Zaituna, Tahun 1998).

Jadi tidak heran jika karya-karya dari puisinya memiliki kadar dan isi yang berbeda, karena memang dari segi karater cak nun yang menggebu-gebu, salah satunya puisi “Antara tiga Kota”.

Refleksi Puisi “Antara tiga Kota” Karya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
di Yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari melototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga

Surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinnya
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Sebuah “Antologi Puisi XIV penyair Yogya”
MALIOBORO, tahun 1997

Dalam hal bermasyarakat, cak nun mempunyai wadah yang merupakan kajian islami yang ia kelola dari tahun 1990-an, sebenarnya banyak sekali tidak hanya wadah kajian islami, ada juga forum silaturrahmi budaya dan kemanusiaan (“KENDURI CINTA”), ada juga MOCOPAT SYAFAAT dan masih banyak lagi.