Seorang Chairil Anwar bisa di bilang mendobrak dunia sastra Indonesia yang sedang melankolis dalam bait-bait puisi dengan gaya yang berdayu-dayu lemah lembut. Tetapi ia datang dengan karya pemberontakan, keganasa, dan individualisme yang merong-rong dengan kata-kata keras dan frontal yang mewakili jiwa muda seorang chairil.

Meskipun begitu kemudia ia di nobatkan sebagai seorang pelopor di angkatan 45’ dan banyak yang menyebutnya sastrawan modern di Indonesia. ia mencengangkan sastrawan dengan puisi Aku yang terkenal dengan “Binatang Jalang”-nya yang merupakan salah satu puisi angkatan 45.

Menghayati Puisi Aku Karya Chairil Anwar
Puisi Aku Chairil Anwar

Kehidupan yang keras, di situasi perang yang memanas membuat karakter tidak seperti anak pada umumnya, tetapi Chairil Anwar muda bertekad untuk menjadi seniman, dengan penampilan urakan rambut yang tidak pernah diurus, tetapi disetiap kanan kiri tanganya terdapat buku.

Karya pertamanya “Nisan” tahun 1942 banyak yang menentang dan tidak ada yang berani memuat karena isinya yang mengarah kepada kematian, karena pada umumnya puisi memuat kata-kata yang melankolis dan mendayu-dayu.

Sebenarnya ia tidak sendirian dalam menciptakan gaya baru di dunia sastra, nama Asrul Sani dan Rivai Apin di sebut-sebut sebagai orang yang mempengaruhi karyanya dan perjalanannya pada dunia kesastraan di Indonesia.

Puisi Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari


Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Oleh: Chairil Anwar
Tahun Pembuatan : Maret 1943

Dari puisi inilah ia di kenal dengan sebutan “si binatang jalang” yang gagah berani menerjang arus sastra pada umumnya pada waktu itu, sayang ia di panggil tuhan dengan umur yang masih sangat muda, 26 tahun. Di umurnya yang tidak lama itu ia telah menulis 94 karya termasuk 70 puisi-puisinya.

Ia si binatang jalang dari medan yang menjadi legenda sastra Indonesia dan karyanya telah di terjemahkan di berbagai bahasa asing, dan karya tulisannya bertengger di berbagai perpustakan dunia. Hanya membutuhkan waktu 6 tahun, anak bangsa yang menggemparkan dunia dengan sastra.
Jasadnya mungkin telah bersemayam disana, tetapi jiwanya merasuki semua penikmat sastra dan memberi warna baru yang menjadi simbol perjuangan, perlawanan yang menggebu-gebu.

Sang legenda tidaklah mati,
Ia merasuk ke setiap sukma
generasi selanjutnya
Dan bersemayam disana
untuk membangkitkan jiwa
dan perlawanan di setiap jamannya.

Oleh: penulis

Simbol yang menjadi inspirasi bagi generasi milenial, menjadi inspirasi kaum muda dengan kutipan-kutipan dari setiap bait-bait puisinya yang seolah menjelma menjadi nasehat dan dorongan untuk terus berkarya supaya penerus perjuanganya tidak mati dalam keadaan hidup salah satu kutipannya “mampus kau dikoyak-koyak sepi” dari puisi sia-sia yang terpampang dibawah jembatan layang di jogja karta dengan gambar wajah dirinya menandakan dia tidaklah mati.

Jika kita baca seksama karya-karya chairil anwar, seolah dia sudah mengetahui bahwa dirinya diberikan tuhan umur yang tidak lama, dari isi dan makna-makna puisi yang ia tulis seringkali menuju ke tingkat kematian, pada bait akhir puisi aku “aku mau hidup seribu tahun lagi” makna yang tersirat seolah ia sadar akan hidupnya akan berakhir di usia 26 tahun. Kemudia pada Puisi Nisan yang ia tulis pada oktober 1942

Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta

Oleh: Chairil Anwar

Meskipun puisi yang diperuntukan kepada nenekandanya tetapi pada setiap maknanya seolah menasehati “bukan kematian benar menusuk kalbu” secara tidak langsung seperi chairil menasihatin mendiang neneknya “seperti itulah wujud kematian, yang kelak tidak lama juga aku akan merasakannya”. Sebuah misteri yang hanya ia dan tuhan sendiri yang tahu.

Semoga kita terinspirasi dan bisa meniru “sang binatang jalang” dalam berkarya, jiwa dan semangat mudanya tidak akan padam dan karyanya tidak akan lekang oleh waktu dan terus menginspirasi setiap insan dibelahan dunia manapun.