Pada setiap insan manusia dihadiahi sebuah keresahan pada hatinya yang kelak menjelma menjadi pertanyaan-pertanyaan yang mengalir deras mengenai siapa aku, untuk apa aku diutus ke bumi dan yang paling mengerikan dari sederet pertanyaan tentang tuhan

Begitupula yang dirasakan oleh sosok Sutardji yang menumpahkan pertanyaan keresahan tentang tuhannya pada 'Puisi Tapi', yang pada setiap bait-baitnya menggambarkan pertentangan antara aku dan kamu, tiap baitnya menjelma tentang percakapan yang tiada akhirnya, sang aku menawarkan dan sang kamu selalu menolak.

Mengarungi Puisi Tapi Karya Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri sendiri merupakan seorang pujanggan Indonesia, yang karya puisinya merupakan pembaharu perpuisian indonesia. Wajah baru perpuisian terlihat ketika pada masanya 'Tatdji' (sapaan akrabnya) dimuat pada media cetak.


Puisi Tapi

Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih
Aku bawakan resah padamu
Tapi kau bilang hanya
Aku bawakan darahku padamu
Tapi kau bilang cuma
Aku bawakan mimpiku padamu
Tapi kau bilang meski
Aku bawakan dukaku padamu
Tapi kau bilang tapi
Aku bawakan mayatku padamu
Tapi kau bilang hampir
Aku bawakan arwahku padamu
Tapi kau bilang kalau
Tanpa apa aku datang padamu
Wah!
Oleh: Sutardji Calzoum Bachri

Ditiap baitnya memuat gaya bahasa hiperbola yang melebih-lebihkan yang khas menunjukan tulisan sosok 'Presiden Penyair Indonesia' (Julukan Tardji). Tardji ingin menyampaikan pesan moral yang menggambarkan seangkuh apapun usaha manusia, tetap akan tidak ternilai dihadapan tuhan. Karena tuhan sendiri yang memainkan skenario, kita hanya aktor yang menjalankan.

Selain menggunakan Bahasa hiperbola yang melebih-lebihkan, bung tardji sapaanya juga biasa membuat puisi dengan dialog antara binatang, jarang sekali ditemui sastrawan yang seperti ini, seperti puisinya yang berjudul “Gajah dan Semut” yang ia buat pada tahun 1976-1979 pada kumpulan sajak Sutardji Calzoum Bachri.

Tercatat bung tardji sudah mendapatkan penghargaan-penghargaan didunia sastra mulai dari nasional sampai international, diantaranya:

1. Menerima Hadiah Sastra Asean (Sea Write Award) dari kerajaan Thailand pada tahun 1979;
2. Penghargaan sastra kabupaten kepulauan riau langsung oleh bupati kepulauan Riau pada tahun 1979;
3. Mendapatkan Anugerah Seni Pemerintah Indonesia pada tahun 1993;
4. Menerima anugerah Sastra Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jakarta pada tahun 1990;
5. Dianugerahi gelar sastrawan perdana oleh pemerintah daerah Riau pada tahun 2001

Dari deretan penghargaan tersebutlah ia mendapatkan gelar “Presiden Penyair Indonesia” dan sebagai pelopor  puisi kontemporer, yang berarti dunia sastra Indonesia memiliki wajah baru dan bentuk baru dalam perpuisian di Indonesia, yang lahir dari sifat seniman itu sendiri yang ingin menciptakan hal baru disetiap zamannya.

Perkembanganya sangat pesat mulai dari tahun 1930-an sampai tahun 1945 yang pada waktu itu Chairil Anwar memproklamasikan gaya puisi baru yang lebih dikenal dengan gaya bebas, kemudian pada tahun 1973 sang presiden penyair Indonesia memperkenalkan puisi kontemporer yang artinya bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri, oleh karena itu puisi Bung Tardji memiliki bentuk yang aneh dan ganjil menurut kebanyakan puisi yang ada di Indonesia.

Jadi tidaklah aneh jika dari karyanya banyak yang tidak bisa difahami, kerna bisa dikatakan genrenya memang sudah berbeda. Bahkan ada beberapa puisi Bung Tardji yang lebih menitik beratkan kepada bunyi sehingga terbayang betapa ganjilnya kata-kata yang terdapat disetiap bait puisi “Solitude”.

Solitude
Yang paling mawar
Yang paling duri
Yang paling sayap
Yang paling bumi
Yang paling pisau
Yang paling risau
Yang paling nancap
Yang paling dekap
Samping yang paling
Kau!

Oleh: Sutardji Calzoum Bachri
Tahun: 1981

Sudah bisa terlihat dari sajak bung tardji diatas yang sangat ganjil dan tersusun dengan sangat aneh, tetapi diluar itu semua memiliki makna yang sangat dalam seperti “yang paling mawar” yang paling memiliki sifat mawar cemerlang, menarik, indah dan harum misalkan, solitude mempunyai arti paling menarik, dan kau yang tersirat diakhir bait bukanlah untuk perempuan, melainkan untuk dia, Tuhan.

Semakin aneh sajak yang ditampilkan semakin dalam makna yang tersirat didalamnya, itulah sifat puisi kontemporer sang Sutardji Calzoum Bachri. Sajak yang teman-teman lihat masih bisa dikatakan normal dalam keanehannya, jika dibandingkan dengan sajak Bung Tardji lainnya seperti Puisi “Tragedi Winka & Sihka” yang terdapat hanya dua kata “kawin dan kasih” yang kemudian dipotong-potong menjadi suku kata-suku kata dan perhatikan “Winka & Sihka” dan “Kawin dan Kasih” yang merupakan kebalikan dari dua kata tersebut.