Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di surakarta, 20 maret 1940). Ia dikenal dengan puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana sehingga puisi-puisinya dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Sapardi muda berproses di surakarta – solo, dari mulai pendidikan dasar sampai pendidikan Menengan Atas, sampai pada akhirnya ia melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Menilik Hakikat Cinta dari Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono

Terhitung sejak ia berada di Sekolah Menengah Atas (SMA), sapardi muda sudah membuat prestasi di bidang sastra, tulisannya untuk pertama di muat di salah satu media surat kabar di semarang. Mulai dari situ karyanya terus di muat di berbagai media, dari surat kabar sampai majalah.

Aku Ingin

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Oleh: Sapardi Djoko Damono

Dari cintanya Sapardi kepada sang istri puisi ini datang, karena baginya “cinta itu sederhana” dan ”perasaan yang tidak bisa dimanipulasi” memang benar adanya apa yang dikatakan Sapardi tersebut.
Jika dilihat dari puisi “Aku ingin” dan salah satu karya lainnya “Yang Fana adalah waktu” sosok Sapardi dikenal memiliki sentuhan yang romantis, tetapi dikenal juga kalau karya-karyanya “dekat dengan Tuhan dan kematian” menurut para ahli, “Pada Sapardi, kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan” “bersama kehidupan itu pulalah kematian tumbuh”.

Tidak mengherankan jika sastrawan, tidak berbicara mengenai tuhan, kehidupan, kematian, dan alam. Bahkan hampir rata-rata karya-karya sastrawan merujuk kepada hal-hal itu selain cinta dan yang lainnya.

Sajak-sajaknya dapat dinikmati oleh semua kalangan, meskipun ia merupakan sastrawan yang menggeluti pendidikan formal sastra dari sarjana UGM sampai gelar doktor Universitas Hawaii karyanya menggunakan kata-kata sederhana.

Karyanya yang terkenal yaitu Aku Ingin merupakan bahasa cinta yang dapat diterima semua kalangan, dan banyak yang bilang ngena banget atau umumnya romantis banget, meski isinya jika dikaji tidak ada romantisnya sama sekali.

Kontribusinya dalam dunia seni tidak sebatas ia berkarya, ia juga merupakan dosen di berbagai universitas ternama Indonesia, selain itu juga ia dikenal sebagai penjembatan gaya sastra baru di tanah air, dengan menterjemahkan banyak karya – karya sastrawan luar untuk dikaji.

Menurutnya pada karya sastra seperti koin memiliki dua sisi: tematik dan stilistik (merupakan gaya penulisan). Di Indonesia sendiri menurutnya dari segi penulisan sudah berkembang, tetapi tidak dari segi tema oleh karena itu dia terus berjuang sampai sekarang untuk memajukan sastra di Indonesia, khususnya sastrawan muda saat ini, seperti Aan Mansyur dan banyak lainnya.

Tidak berhenti berkarya dalam keadaan apapun melekat dalam diri Sapardi Djoko Darmono, terbukti sampai ketika ia sedang sakit pun tidak hentinya berkarya, tercatat karya sajaknya “Sihir Hujan” mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan penghargaan dari Anugerah Puisi Poetra Malaysia.

Dari puisinya hujan di bulan juni, yang kemudian di tuangkan menjadi novel oleh sapardi sendiri telah menuai penghargaan dan respon positif bagi pembaca di Indonesia, sampai banyak yang meminta agar dijadikan sebagai sebuah film, sampai akhirnya salah satu perindustrian layar lebar Indonesia melirik dan merealisasikan apa yang masyarakat minta.

Hujan di bulan juni dalam serial film terealisasikan dan rilis pada tanggal 2 November 2017 yang lalu, pada novelnya sendiri banyak dihujani oleh puisi-puisi romantis yang ala ala sapardi yang ringan dan memiliki makna yang dalam.

Mungkin dari situlah, pembaca sangat tertarik dari puisi, novel, hingga film yang bergenre romance yang asik untuk ditonton untuk kalangan muda mudi sampai dewasa.

Menurut sapardi djoko damono pada salah satu acara di Taman Ismail Marzuki, “orang-orang sebenarnya tidak akan pernah tahu, film hujan di bulan juni berawalan dari puisi. Mungkin jika tidak ada filmnya, orang-orang banyak yang tidak tahu puisinya”.

Dilihat dari kaca mata penulis sendiri perkataan dari sapardi sangatlah miris, kerna tidak secara langsung, kita kurang sekali dalam minat membaca.