Puisi Islamkah Aku - Memahami Puisi Islam Karya Gus Mus – Sekarang ini banyak orang islam yang dipertanyakan islamnya, banyak yang mengaku islam tetapi tingkah lakunya tidak mencerminkan orang islam, memfitnah, saling membenarkan sendiri bahkan melakukan tindakan kekerasan.

Makanya saya mengambil puisi islam karya gus mus sebagai pilihan dari puisi-puisi islam lainnya. Karena disatu sisi, puisi ini dapat menjawab fenomena orang islam saat ini yang merasa paling benar sendiri bahkan meresahkan. Dan satu sisi lainnya, sebagai cerminan saya sendiri, apakah sudah benar
islam saya dimata tuhan.

Memahami Puisi Islam Karya Gus Mus
Puisi Islamkah Aku?

Saran saya, resapi setiap bait-bait puisi ini dengan tingkah kita sebagai orang islam, sudah benarkah kita dalam pergaulan, sampai urusan ketuhanan. Jangan sampai kita mengatas namakan islam tetapi tingkahnya tidak mencerminkan, nah sahabat sudah benarkah islam kita.

Puisi Islam Gus Mus
 
Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana – mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya

Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku

Islam podiumku kelas exclusive yang mengubah cara dunia memandang
Tempat aku menusuk kanan kiri

Islam media massaku
Gaya komunikasi islam masa kini
Tempat aku menekam sana sini

Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku

Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hikuk pikuk tiada tara

Islam bursaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi

Islam makananku

Islam teaterku menampilkan karakter – karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari – hari mati

Islam kaosku
Islam pentasku

Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja

Tuhan, islamkah aku?
Oleh: Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri)

Dengan suara yang khas, dan rima yang di ucapkan oleh gus mus dalam membacakan puisi islam, saya terpaku tatkala menonton di youtub, dan ketika berakhir di kalimat “tuhan islamkah aku”, saya langsung sadar dan seperti bercermin pada diri sendiri.

Apa benar apa yang saya lakukan selama ini sudah termasuk orang islam dimata tuhan, karena jujur saja, saya dan mungkin teman-teman merasa islam karena melihat dari sisi kita sendiri, dan dari sisi orang lain.

Jadi ketika ada suatu permasalahan yang sudah mencakup hukum islam, kita merasa paling benar sendiri, sampai lupa dan bahkan amit-amit menghakimi seperti tuhan.
Jika dilihat dari segi puisi, puisi karya gus mus ini, sangat baik dalam segi rima saja kita sudah menikmati ketika membacanya, dan ber-ekspresi tentunya.

Dari segi penulis, kita sudah tidak ragu lagu, karena gus mus seorang alim ulama, dan sastrawan yang sudah diakui sejak dahulu kala, karya-karyanya yang melegenda seperti “Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana” terus dipakai meskipun sudah beda zaman dan masih relevan sebagai kritikan dari dulu sampai sekarang?

Nah teman-teman, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari puisi islam karya gus mus ini, intisari pelajaran dari puisi ini ialah, kita tidak boleh berbuat seenaknya ketika bermasyrakat, selayaknya orang islam, kita harus menjadi panutan bagi semuanya, baik itu untuk orang islam atau non islam, karena islam sendiri merupakan kasih sayang untuk semua makhluk baik manusia ataupun bukan manusia, bukan untuk segelintir golongan.

Jadi mari kita mempelajari apa saja yang terkandung dalam puisi islam ini, semoga kita menjadi orang islam yang memanusiakan manusia agar dipandang islam oleh manusia dan tuhan tentunya. Semoga bermanfaat.