Puisi Sujiwo Tejo - “Pemusik kata-kata, pelukis, penulis, aktor” ia menyebut dirinya seperti itu, sang presiden jancukers, Agus Hadi Sudjiwo atau ia menyebut dirinya sendiri sebagai Sujiwo Tejo.

Orang gendeng satu ini memang memiliki daya tarik tersendiri, seperti ia tidak datang Wisuda untuk pertunjukan teater, dan menyelenggarakan Pagelaran Teater “Belok Kiri Jalan Terus” untuk maskawin pernikahanya pada tahun 1989 di Gedung Kesenian Rumentang Siang – Bandung.
 Puisi Aku Lala Padamu Karya Sujiwo Tejo
Puisi Aku Lala Padamu Sujiwo Tejo

Jika dilihat dari sisi keghendengannya salah satunya seperti itu, tetapi Tejo sendiri merupakan orang yang cerdas dan berbeda dari yang lainnya, Ia dari kecil sudah mendalang wayang kulit sampai sekarang ini, dan efeknya kolaborasi kecerdasan dan keghendengannya ia sering melanggar pakem pewayangan kaya Rahwana dibuatnya menjadi sosok yang baik, Pandawa ia bikin sosok yang tidak selalu benar dan sebagainya.

Sujiwo Tejo juga mewarnai dunia sastra Indonesia dengan karya-karya puisinya yang romantis ala-ala lakon pewayangan dan nyeleneh tetapi tidak luput mengasyikan dan kekinian. Seperti Puisi yang mengasyikan bejudul “Aku Lala Padamu” dan.

Puisi Sujiwo Tejo Aku Lala Padam 
 
Nyaris usai suratku padamu
Surat musik dan nafasku
Kusampaikan via angin gunung
Kuangankan angin belum sirna
Suatu saat angin kan sampai
Sangat sepoi mengusap tangismu
Saat ini nafasku sampai

Suratan nafas (Surat Nafasku)
Nada nada
Lala lala
Kata kata
Dengar saja
Cuma sebagai suara saja

Bukankan tak ada
Nyata tak ada
Memang tak ada
Memang tak ada
Kata untuk kangen yang paling kangen
Pusat kangen inti kangen
Aku lala
Sangat lala
Padamu

Oleh: Sujiwo Tejo

Banyak sebenarnya tulisan – tulisan dalam puisi, tetapi mungin orang-orang lebih mengenal Tejo sebagai budayawan, Pewayang dan Pemusik. Ia terkenal juga dalam penulisan sajak – sajak puisi yang asyik, dan karyanya cukup banyak.

Dalam puisi, padahal si Tejo ini banyak menginspirasi banyak orang dalam hal puisi, salah satunya puisi kiriman dari akun Instagram @Noviialestari yang berjudul “Jamur”.

Puisi Jamur Karya Fans Tejo Noviia Lestari
Mengenalmu adalah kebangkitan
dalam hidupku, walau mengenangmu selalu
membuatku bersedih

Negeri ini telah merdeka dari penjajahan,
tapi tak pernah bisa merdeka dari kenangan
Beruntunglah kau, yang sedang menyusuri jalan baru,
karena di setiap titik di jalan itu, kau tak akan
terikat pada kenangan

Sedangkan aku?
Aku masih terbelenggu oleh Majapahit dan Sriwijaya
Bahkan ketika ini sedang kupilih teman hidupku...

Ooh, menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir,
Kau bisa berencana menikah dengan siapa,
tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa...
Yang membekas dari lilin bukan lelehnya,
tapi wajahmu sebelum gelap

Syarat akan romantisme dan kesedihan yang pilu dan sangat mendalam, itulah salah satu puisi yang tercipta dari terinspirasi sang Tejo. Huehuehuehuehue...