Mahasiswa mendapatkan kritik tajam dari kata-kata di catatan Mbak Najwa shihab dalam acara meet and greet di berbagai kampus di Indonesia.
Penting!

Mahasiswa menurutnya sudah kehilangan jati diri sebagai penggerak bangsa yang saat ini sedang dijajah pemikiran – pemikirannya.

Menurut Catatan Najwa untuk mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat, Mbak Nana sapaan akrabnya mengkritisi “…belajar tentu keharusan yang tidak boleh diabaikan, namun merugikan jika belajar disempitkan semata perkuliahan…”.

Catatan Mata Najwa Untuk Mahasiswa

Ini merupakan tamparan keras untuk Mahasiswa
Lalu bagaimana bertindak layaknya seorang Mahasiswa?

Seorang Mahasiswa, berarti bertindak sebagai pelopor, poiner, dan “penyambung lidah rakyat” menurut catatan najwa untuk mahasiswa, Mahasiswa terlalu nyaman di zonanya,.

Mahasiswa sejatinya lupa, Indonesia di gerakkan oleh Para Pemuda dan Mahasiswa yang gila buku, ide dan kata – kata seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sang Proklamator.

Bercermin dari Catatan Mata Najwa Untuk Mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat

“Jika idealisme ialah kemewahan yang hanya dimiliki pemuda, akan diisi apa periode kalian sebagai mahasiswa?

Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugikan jika belajar disempitkan semata perkuliahan.

Kenali sebaik-baiknya teman-temanmu, hayati masyarakat di sekelilingmu, agar kampus tak menjelma tembok yang memenjarakanmu.

Beranilah mengambil pendirian dalam banyak persoalan, anak muda kok sudah hobi netral-netralan.

Sebab Indonesia memang ditemukan dan diusahakan oleh anak-anak muda, kalian pulalah yang mestinya memperbaharui tanah air kita”.

Apa yang menyebabkan mahasiswa memplem suara?
Karena “...anak muda sudah hobi netral – netralan...” menurut catatan mata najwa untuk mahasiswa.
Kita harus bercermin, kebanyakan mahasiswa masakini hanya mencari “jalan aman” untuk menempuh pendidikan.

Dari proses masuk perkuliahan, kuliah dan mendapatkan nilai bagus (syukur – syukur cumload) dan lulus tepat waktu dan bekerja.
Inilah yang menurut catatan najwa sebagai “...agar kampus tak menjelma tembok yang memenjarakanmu..”
Apakah kita termasuk mahasiswa yang terpenjara oleh mahasiswa?
Fikir sendiri.

Catatan Mata Najwa Untuk Mahasiswa

“Saat Mahasiswa di pertanyakan kembali dengan identitasnya,
pengabdian untuk negeri dan perannya. Zaman reformasi yang saat ini
kita jalani kesaktian Mahasiswa pada tahun 1998, yang menggugat
zaman ORBA hingga penurunan Presiden Soeharto.

Tapi saat ini tak terlihat kegelisahan para Mahasiswa negeri ini, merasa
tenang dengan keadaanya (zona aman/netral) banyak yang bertanya
“apa bedanya mahasiswa dengan kami yang tidak menempuh bangku
perkuliahan, ataukah hanya status kami ? yang tidak memakai
seragam dan tak melanjutkan pendidikan?”

Lebih baik tak menjadi Mahasiswa, dari pada diam dan asik dengan diri
sendiri! Mahasiswa selalu di ujung sebagai penyambung Lidah Rakyat.
Sebagai penerus perjuangan para penerus bangsa, yang haus akan
pengetahuan, mengkritik setiap kebijakan Pemerintah dengan
saran-saran yang baik untuk Negeri ini. Negeri ini butuh pengubah suatu
tatanan yang lebih baik.

Jangan jadikan kampus sebagai penjara yang membelenggu, tapi jadikan
Kampus sebagai sarana untuk meningkatkan kualitasmu, kita saat ini
tidak terjajah dalam bentuk fisik, tapi kita terjajah dalam bentuk
pemikiran. Buku seharusnya menjadi teman kita, tetapi perlahan di
jauhi dengan Gadget yang lebih kita utamakan.

“Kuliah itu bukan tentang nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Kuliah itu sebenarnya tentang pengalaman, orang-orang yang
Kalian temui, serta skill yang kalian dapatkan selama berkuliah”.”

Dari Catatan Mata Najwa di Univ Muhammadiyah Surakarta Kalimantan lebih jelas menampar keberadaan mahasiswa.

“...lebih baik tak menjadi Mahasiswa, daripada diam dan asyik dengan diri sendiri...”
Kata-kata najwa, menjelma menjadi dosen refleksi diri, tentang keadaan dan keberadaan mahasiswa saat ini. Sengaja saya tulis kembali beberapa kata yang sudah hilang dari jati diri seorang pemuda bergelar Mahasiswa.

Apakah menjadi mahasiswa merasa paling hebat?
Merasa paling tinggi di jenjang pendidikan yang ditempuh?
Nyatanya kalian hanya sekumpulan domba yang di giring oleh penggembala bernama “kampus” dan aturan-aturannya, yang tidak boleh belok ke kanan atau ke kiri sekehendak pengembala.

“...Kuliah itu bukan tentang nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)...”
Catatan Najwa memang benar adanya, mahasiswa yang katanya modern dan kekinian, kini hanya sekumpulan pemuda yang gila IPK.

Dan parahnya lagi, mereka hanya menjadi “mahasiswa” yang keberadaanya untuk mendapatkan IPK untuk bekerja yang layak, menjadi kaya, menikah dan mati tergerus zaman.

Semua yang dikatana Catatan Najwa benarkan?

Apa kata najwa itu tidak benar?

“Itu tidak benar!!”, kami mengikuti organisasi pergerakan A, B, C, D sampai Z. Mungkin jawab kalian lantang bak tong kosong nyaring bunyinya.

Jika kalian berbicara seperti itu, berarti kalian tidak menangkap apa yang dikatakan Najwa Shihab dalam Catatan untuk Mahasiswa.

Tamparan lebih keras bagi kalian “mahasiswa” merasa sudah mengikuti organisasi pergerakan dan
lainnya. Karena kalian tahu tetapi tidak tahu.
Apa arti tahu tetapi tidak tahu?
Fikir sendiri!
Nyatanya.
Catatan Najwa, mengkritisi kita tidak butuh organisasi gerakan, yang kita butuhkan “Gerakan Organisasi” sebagai Penyambung Lidah Rakyat.