Bercinta bersama Puisi Cinta Karya Cak Nun – Seseorang yang jatuh cinta, pasti rela berkorban demi yang dicintainya senang, dan kita rela melakukan apa saja ketika yang menyuruh orang yang kita cintai. Seperti puisi cak nun yang merangkum kehidupan kecintaanya dalam bermasyarakat yang tidak umum

Teman-teman mungkin, berfikir kok isinya tidak seperti yang dibayangkan layaknya puisi cinta pada umumnya yang melankolis dan mendayu-dayu. Justru menurut saya ini merupakan puisi cinta yang romantis, jika teman-teman mau menghayati makna dan mencerminkan kepada diri sendiri.

Bercinta bersama Puisi Cinta Karya Cak Nun

Puisi cinta karya cak nun ini mempresentakan diri seorang cak nun dalam mencintai yang rela
berkorban meski yang dicintainya menikamnya atau tidak memperdulikan cintanya.

Cintaku
Katakan padanya bahwa cintaku tak
Diikat dunia

Katakan bahwa dunia pecah
Ambruk dan tebakar jika
Menanggungnya

Dunia sibuk merajut jeratan-jeratan
Mempersulit diri dengan ikatan-ikatan
Dimuati manusia yang antre panjang
Memasuki sel-sel penjara

Katakan padanya bahwa kasih sayangku
Tak terpanggul oleh ruang waktu
Katakan bahwa kasih sayangku
Membebaskannya hingga ke tuhan

Ruang tata hidup, perkawinan,
Kebudayaan dan sejarah
Adalah gumpalan sepi,
Dendam dan kemalangan

Dan jika semesta waktu hendak
Mengukur cintaku,
Katakan bahwa ia perlu berulangkali mati
Agar berulangkali hidup kembali

Oleh: Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)

Itulah kemegahan cinta seorang cak nun dalam puisi cintaku, yang indah dan memiliki sarat yang dalam, cinta cak nun kepada orang yang dicintainya sangat besar, dan tanpa pamrih, “...katakan dunia pecah ambruk dan terbakar jika menanggungnya...” tidak lain dan tidak bukan, cinta yang seperti itulah yang dimiliki cak nun, tanpa pengorbanan, tanpa melihat siapa dan teramat besar.

Cak nun juga rela berkorban demi orang yang dicintainya, teman-teman bisa melihat karya beliau yang berjudul “kudekap kusayang-sayang” yang memperlihatkan perjalanan seorang cak nun yang mencintai tetapi di khianati, tetapi masih saja memafkan dan tidak mengurangi kecintaanya
Meski terus dikhianati dan lagi.

Kudekap Kusayang-sayang
Kepadamu kekasih ku persembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia

Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu

Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk rendam hamba-hambamu

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika
mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari
mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan
lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah
batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,
kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,
kusayang-sayang,

Oleh: Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
Pembuatan: 1994

Dari semua puisi cak nun diatas, kita bisa mengambil pelajaran yang banyak teman-teman, pertama selayaknya orang yang mencintai, kita harus rela berkorban apapun dan kapanpun untuk orang yang dicintai, tanpa mengenal pamrih.

Kedua teman-teman, kalau memang iya kita orang yang mencintai, meskipun cinta kita bertepuk sebelah tangan, atau tidak dihargai, teruslah mencintai dan menebar cinta, tanpa harus memusuhi balik atau membenci.

Itulah karya dari seorang cak nun yang tidak hanya sekedar sastrawan, budayawan ataupun sejarawan, beliau bisa dibilang ulama, yang tidak ingin disebut ulama, atau menjadi ulama, beliau lebih suka disebut orang biasa yang bisa menebar cinta kepada siapa saja dan kapan saja.

Untuk teman-teman dimanapun, tetaplah mencintai, dan menebar cinta, bahagia itu bukan segalanya, karena proses mencintai adalah takdir dari tuhan yang maha cinta.